
Anna bingung harus menjawab apa. Ia kembali menatap Alan, mata pria itu cokelat dan sorotnya terlihat berbeda dari biasanya.
Anna sebenarnya ingin menggeleng, tapi entah kenapa kepalanya malah mengangguk. Ia memejamkan mata takut saat wajah Alan maju mendekatinya. Ia merasakan hembusan nafas Alan hangat menyapu wajahnya. YA Tuhan, semoga ini akan cepat berlalu.
Kecupan singkat mendarat di pipi Anna. Bukan hanya sekali. Beberapa kali bibir Alan yang hangat itu mendarat di wajah mulus Anna.
Anna pun memejamkan mata ketakutan. Ia tidak mau menatap wajah Alan yang begitu dekat dengan wajahnya. Jantungnya berdetak kencang merasakan sentuhan bibir Alan.
Tubuh Anna menegang saking gugup saat sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya.
Satu menit, dua menit, tiga menit semuanya berlangsung.
Anna membuka mata menatap wajah di dekatnya. Sampai kapan kegiatan itu akan berakhir? Alan kelihatannya tidak akan menghentikannya jika tidak dihentikan.
Anna mendorong dada Alan.
“Maaf. Aku kebablasan. Aku tau, kamu nggak menginginkannya,” ucap Alan dan telapak tangannya mengusap pipi Anna. Ia bangkit duduk.
Pelan Anna bangkit dan ikut duduk. “Kata orang, ciuman apalagi berhubungan suami istri itu nggak akan terjadi kalau nggak ada rasa cinta.”
“O ya? Jangan percaya.” Alan tersenyum miris. “Itu hanya berlaku untuk perempuan. Laki-laki berbeda, Anna. Ketika disuguhkan sesuatu yang menarik dan menggiurkan, semua akan laki-laki lakukan mesti tanpa cinta. Nafsu laki-laki dengan perempuan berbanding jauh. Jangan disamakan.”
Anna menunduk.
Alan berdiri dan mengancing kemejanya. “Maaf, aku udah membuatmu takut.”
“Sampai detik ini aku belum bisa menikahinya karena terbentur banyak masalah. Dua kali pernikahan siri itu akan berlangsung tapi selalu gagal. Cintya kesal karena itu. Aku harus segera menyelesaikan masalahku supaya pernikahanku dengan Cintya bisa segera berlangsung. Aku akan menemuinya malam ini. Kamu nggak pa-pa kutinggal di rumah, kan?”
Anna mengangguk.
“Kalau kamu butuh apa-apa, panggil aja pembantu. Ada banyak pembantu di rumah ini. Dan Rina adalah pembantu yang khusus melayani kita. Kamu bisa panggil dia. Akan kurim nomer ponsel Rina ke kamu.”
“Iya iya.”
Anna melepas nafas melihat Alan berjalan meninggalkannya. Ia menyentuh bibirnya sendiri. Lalu menggeleng-gelengkan kepala. Sensasi aneh telah mengubah hati Anna. Ah, kenapa kejadian itu malah terus melekat dalam bayangannya?
Alan berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju lantai bawah.
“Alan, mau kemana kamu?” tanya Wiliam yang kini tengah duduk santai di ruang utama.
Alan yang kini sudah berada di ambang pintu pun menggaruk pipinya yang tidak gatal. Saking bingung, ia sampai tidak melihat Papa dan Mamanya di ruangan yang ia lintasi. Lalu sekarang ia harus jawab apa? Ia keluar malam tanpa membawa Anna, pasti itu akan menjadi hal aneh di mata Papanya. Apalagi ini adalah malam pertama bagi Anna tinggal di rumah Alan. Tidak seharusnya Alan meninggalkan Anna sendirian di rumah.
“Aku mau…” Isi kepala Alan benar-benar sudah kosong dan ia tidak mendapatkan alasan yang tepat.
“Untuk dua bulan ke depan, Papa bebaskan kamu dari segala pekerjaan. Kamu bisa menghabiskan waktumu dengan Anna sepuasmu. Soal kantor, Papa udah suruh Reno yang atur, biar dia yang handle. Trus kamu mau kemana ini? Kok, sendirian? Nggak ngajak Anna?” berondong Wiliam.
TBC