
“Letakkan!” titah Alan lebih tegas dengan tatapan datar.
Sontak Rina meletakkan gelas ke meja dengan gemetaran. Susunya sampai tumpah sedikit akibat getaran tangannya dan meleleh di meja.
Alan menarik gelas dan mendekatkannya ke arah Anna. Dengan tatapan yang tertuju ke gelas, Alan berkata dengan nada dingin, “Minumlah!”
Anna menoleh ke arah Alan, menatap wajah datar itu. “Aku nggak berselera minum susu.”
“Kamu harus meminumnya.” Alan masih tidak menatap Anna.
“Mulai sekarang, aku yang harus mengatur segala sesuatu mengenai diriku, bukan kamu.”
“Aku suamimu,” tegas Alan.
“Nggak ada petunjuk yang mengatakan agar suami mengatur segala sesuatu mengenai istri termasuk makanan yang nggak disukai istri. Kalau aku nggak menyukainya, kamu nggak boleh memaksakanku.”
“Ini demi kebaikanmu, bukan?”
“Kebaikanku adalah kebahagiaanku, dan aku nggak bahagia dengan perilakumu akhir-akhir ini. kamu berubah, Mas Alan.”
“Anna, jangan bercanda. Tidak ada yang berubah dalam diriku. Oh ya, aku baru ingat, wanita memang sangat sensitive, selalu mengandalkan perasaan. Ingat sayang, masih ada akal disamping perasaan bukan?”
“Kamu ingin bilang supaya aku menggunakan akalku untuk mengatur perasaanku, begitu?” Anna kesal sekali. Giginya sampai menggemeletuk. Alan bahkan terlihat tidak menyadari perubahan sikapnya itu. “Kamu seperti nggak sayang lagi sama Azzam, kamu sering kesal atas sikap Azzam, kamu juga sering kesal kepadaku. Ada apa denganmu? Dimana Alan yang posesif, over protektif dan penuh perhatian dulu?”
“Ini masih pagi, sayang. Kamu jangan ngomel-ngomel di depan meja makan.”
Alan memang memanggil Anna dengan sebutan sayang, namun cara mengucapkannya berbeda, tidak selayaknya sedang memanjakan istri, justru sebaliknya.
“Mau pagi atau siang, aku nggak peduli. Aku hanya ingin kamu kembali seperti dulu. Sikapmu benar-benar jauh berbeda. Kamu juga sering marah kepadaku. Apa masalahmu?” Anna antusias.
Alan merapikan dasi di dadanya. “Selera makanku sudah hilang.” Alan bangkit ebrdiri. “Aku pergi dan mungkin tidak akan pulang sampai seminggu. Jangan menungguku.”
“Tunggu!” pekik Anna membuat Alan yang sudah berjalan sampai ke tengah-tengah ruangan pun terhenti. Pria itu tidak menoleh, hanya menghentikan langkah kakinya saja.
Anna tercekat melihat sikap Alan yang semakin dingin.
“Lihatlah, kamu mau pergi pun nggak ngomong sama aku. Kemana kamu akan pergi, ada urusan apa sampai seminggu nggak kembali ke rumah? Apa kamu pikir ini bukan merupakan perubahan yang luar biasa?” Anna mendekati Alan dan berdiri di hadapan pria itu. mereka bersitatap.
“Kamu diamlah di rumah dan tidak perlu bertanya-tanya banyak mengenai aku.” Alan menghindari Anna kemudian melenggang pergi.
Kesal, Anna mengikuti Alan. “Mas Alan, jika sejak awal kamu menunjukkan sikap seperti ini ke aku, aku pasti nggak akan masalah. Tapi sikapmu ini tiba-tiba berubah setelah kamu menjadi suami yang protektif beberapa hari kemarin. Bagaimana mungkin aku nggak mempertanyakannya?”
Alan berhenti dan menoleh ke arah Anna. Dia menatap wajah sedih di sisinya. “Aku masih seperti Alan yang kamu kenal. Tidak ada yang berubah dariku. Aku mencintaimu. Sudah?” Alan mengecup singkat pipi Anna kemudian melangkah menuju kmobil yang sudah terparkir di halaman rumah dan duduk di bagian kemudi.
“Kamu bilang mencintaiku bukan? Ya sudah, aku ikut kamu.”
“Anna, turun!” titah Alan.
“Nggak!”
“Turun!”
“Enggak!” Anna melipat tangan di dada.
“Aku akan ke kantor dan kamu mengikutiku?”
“Apa salahnya? Aku istrimu. Aku mau tau kamu akan pergi kemana selama seminggu?”
“Bagaimana dengan Azzam jika kamu meninggalkannya selama seminggu? Dia masih membutuhkan asimu bukan?”
“Azzam biar minum susu botol aja.”
Alan seperti kehabisan kata-kata melihat Anna, wanita itu menatap lurus ke depan dengan kedua tangan yang masih setia terlipat di dada.
“Oke, kalau ini maumu.” Alan mengangkat sedikit tubuhnya.
Anna membelalak melihat Alan membuka ikat pinggang serta resleting celananya. “Apa yang kamu lakukan?”
“Jangan salahkan aku jika aku melakukannya di mobil ini.” alan memelorotkan celana.
“Mas Alan, apa-apaan ini? siang-siang begini di dalam mobil.” Anna memundurkan kepala, dia pikir Alan hanya sekedar mengancam saja, namun ternyata Alan nekat. Pria itu langsung menyusupkan tangannya ke baju Anna. Segera Anna memberontak dan menolak. “Crazy!”
“Jika dipergoki Andra, setelah ini akan gempar berita Alan William memperkosa istrinya di dalam mobil.” Alan menyeringai.
“Stop!” Anna buru-buru membuka pintu dan keluar. Kepalanya mendadak hampir pecah. Dia benar-benar bisa gila tas perilaku suaminya yang terus saja berubah-ubah.
“Dadaa.. sayang!” Alan menurunkan kaca dan menjalankan mobil meninggalkan Anna.
BERSAMBUNG
.
.
.