
Mobil melesat meninggalkan halaman luas.
“Aku nggak percaya Cintya melakukan ini. Apa yang ada dalam pikirannya?” Alan bicara sendiri dan Anna tidak menanggapi.
Anna menatap keluar sejak awal masuk ke mobil.
Alan meraih ponsel dan menelepon Cintya.
“Cintya, apa yang kau lakukan sampai semua surat kabar memberitakan tentangku?” tanya Alan dengan gigi menggemeletuk. “Apa kau tau yang kau lakukan itu menjatuhkan reputasiku?”
“Apa maksudmu? Aku bahkan baru tau berita itu dari internet pagi tadi. Aku sama sekali nggak tahu apa-apa soal itu.”
Alan mulai ragu.
“Aku bersumpah, bukan aku sumber dari berita itu. Aku juga nggak tau dari mana wartawan mendapatkan foto-foto itu.”
“Itu foto-foto yang ada di ponselmu, tentu saja mereka tahu darimu. Kau melakukan kesalahan besar dengan perbuatanmu itu.”
“Kau masih nggak mempercayaiku? Harus berapa kali aku bersumpah, bukan aku pelakunya. Aku juga korban. Jika aku membocorkan rahasia itu ke publik, justru aku yang akan merugi. Sekarang aku bahkan takut orang tuamu akan mencabut semua yang kau miliki setelah berita ini menyebar.”
Alan menarik nafas. Benarkah bukan Cintya pelakunya? Apakah ada musuh lain yang menjadi sumber masalah?
“Nggak perlu.” Anna masih menatap kea rah luar jendela. “Kamu pergi sendiri aja. Aku nggak perlu ada di hadapanmu saat kamu memutuskan dia. Rumah tangga kita akan tetap berdiri di atas kejujuran, kuanggap kamu memahami arti kejujuran. Percuma aku menyaksikanmu memutuskannya jika itu hanyalah sandiwara semata. Mungkin kamu bisa saja bersandiwara dengan Cintya, pura-pura putus, tapi di belakangku kalian tetap berhubungan. Sekarang yang kubutuhkan adalah kejujuran dan tanggung jawabmu, bukan tanggung jawabmu padaku, tapi pada Allah. Sanggupkah kamu berbohong disaat Tuhanmu menyaksikan semua yang kamu lakukan? Aku mungkin bisa dibohongi, tapi Tuhan tidak.” Anna menghapus air matanya.
Alan melihat tangan mungil Anna mengusap pipi. Meski Alan tidak bisa melihat tangisan Anna, tapi ia tahu wanita itu sedang menangis sekarang.
“Anna!” Alan meraih pundak Anna dan membawa ke pelukannya. “Aku milikmu.” Alan mengecup kening Anna.
***
Anna menghempaskan tubuh ke sofa.
Andra dan Rina tampak sibuk menarik beberapa koper dari mobil menuju kamar atas. Seperti biasa, keduanya adu mulut dan saling menyalahkan, entah apa yang mereka perdebatkan. Anna tidak begitu mendengar karena pikirannya sekarang sedang fokus memikirkan Alan yang mengaku akan menemui Cintya dan menyelesaikan masalahnya. Anna hanya berharap Alan akan jujur, Alan benar-benar memenuhi janjinya untuk memperbaiki semuanya.
Satu jam telah berlalu sejak Alan pergi. Anna masih duduk di sofa bersama kecemasan-kecemasan yang melanda. Begitu banyak dugaan dalam pikirannya, namun hatinya meyakini jika Alan sudah mencintainya, dan ia tidak lagi meragukan cinta Alan. Yang Anna takutkan sekarang, Alan masih memendam cinta terhadap Cintya dan sulit melepaskan gadis itu.
Secara fisik, Cintya terlihat sempurna, kecantikannya luar biasa. Dan Alan sendiri juga bilang kalau Cintya itu sangat agresif, gadis super gercep. Akankah Alan sanggup melepaskan gadis secantik Cintya? Gadis yang mampu melumpuhkan lelaki dengan gerakan tubuhnya, gadis yang mampu membius otak lelaki dengan senyumannya, gadis yang mampu mendebarkan jantung lelaki dengan sentuhannya.
TBC