Holy Marriage

Holy Marriage
Diam



“Go! Kita berangkat,” ucap Anna ketika sudah duduk di dalam mobil. Ia berbicara seakan-akan tidak mengetahui kejadian barusan. Lebih baik ia berpura-pura tidak tahu, mungkin saja Alan akan malu jika tahu tadi dia dimarahi Papanya.


Mobil melesat meninggalkan halaman rumah. Beberapa menit lamanya Alan diam membisu. Hanya mengangguk dan menggeleng saja ketika menanggapi ucapan Anna.


Anna akhirnya fokus membaca chat masuk di ponselnya. Tak lain chat dari Angel yang sedang gembira mengungkapkan kebahagiaan akan kedatangan Colin, calon suaminya. Anna membalas chat itu dengan mengatakan bahwa Colin dan Alan ternyata saling kenal. Mereka teman dekat. Sontak saja Angel girang bukan main mengingat antara adik ipar dan calon suaminya ternyata sudah akrab. Anna senyam-senyum membaca chat yang masuk, turut gembira dengan apa yang Angel rasakan.


Anna memasukkan ponsel ke tas ketika aksi balas-membalas pesan sudah kelar. Pandangannya kembali menoleh ke wajah Alan. Masih adem. Alan diam membisu.


Melihat sikap dingin Alan, Anna merasa tidak nyaman. Apakah mungkin Alan salah paham terhadapnya? Ia takut Alan menganggap kalau ia mengadu pada Papa mertua atas kejadian semalam hingga mengakibatkan kemarahan Wiliam tersulut. Ah, tidak. Anna tidak bicara apapun pada Wiliam soal kejadian semalam. Anna juga tidak tahu siapa yang mengadu ke William kalau semalam Anna membantu Alan keluar malam untuk menemui Cintya.


“Mas Alan, kamu marah sama aku?” Anna bicara dengan hati-hati.


Alan menoleh dan menatap Anna lamat-lamat. Lalu menggeleng.


“Trus kenapa sejak tadi kamu diem aja? Aku mulu yang ngomong?”


Alan menarik napas dan menghembuskannya kasar. “Anna, kamu nggak salah. Justru aku mau minta maaf sama kamu. Semalem aku mabuk dan muntah di badanmu. Kenapa kamu nggak ngomong itu ke aku?”


“Bagiku itu nggak masalah, kamu nggak perlu minta maaf.”


Alan menaikkan alis, heran. Semalam ia muntah mengenai badan Anna dan Anna tidak mempermasalahkannya? Anna pasti repot sekali saat mengganti pakaian dan membersihkan tubuhnya. Sungguh, Anna adalah istri yang sabar.


“Jujur aku menyesal. Seharusnya aku nggak menyentuh minuman itu.”


Mobil berhenti di depan minimarket.


“Mau ngapain?” tanya Anna melihat minimarket di depan.


“Aku haus. Kamu mau minum apa? Biar kubeliin.”


“Aku nggak haus. Beli minuman untukmu aja. Biar aku yang turun.”


Alan menyukai kalimat Anna. Artinya Anna yang akan membelikan minuman untuknya. Sebenarnya Alan ingin mengucapkan terima kasih, tapi kedengaran lebay. Sudah hal wajar Anna melakukan hal itu.


Anna masih duduk diam di tempatnya setelah menerima uang itu. Alan menoleh dan menatap Anna yang tidak bergerak turun.


“Kenapa nggak turun? Nunggu dicium?” goda Alan dan memutar badan hingga menghadap Anna.


“Jangan mulai, deh.” Entah kenapa jantung Anna deg-degan mendapat tatapan Alan seperti sekarang. “Aku cuma nggak mau kamu frustasi lagi sampe harus minum-minuman keras.”


“Aku kan udah janji nggak akan menyentuh minuman itu lagi. Apapun yang kamu larang demi kebaikanku, semua kuturuti. Termasuk nggak merokok lagi.”


“Janji, ya!”


Alan mengangguk.


Anna menundukkan kepala dan melepas sealbelt. Jantungnya berdetak kencang saat mengangkat kepala dan wajah Alan sudah berada dekat dengan wajahnya. Alan mau ngapain? Detakan jantung Anna semakin kencang saat Alan semakin mendekatkan wajah ke wajahnya. Yang aneh, Anna diam saja seperti menunggu hingga jarak wajah mereka benar-benar terkikis habis.


Alan membantu melepas sabuk pengaman Anna.


Oh...


Anna mengesah. Kirain Alan beneran mau nyium. Muka Anna memerah.


“Perlu kubukain pintunya?”


Pertanyaan Alan membuat Anna sadar harus segera turun dari mobil.


“Nggak usah.” Anna turun dan berjalan menuju minimarket.


Anna kembali ke mobil setelah minuman rasa teh sudah ia dapatkan lalu menyerahkannya kepada Alan. Dengan degupan kuat, Alan meneguk minuman itu. Mobil kembali melaju.


***


TBC