
06.30 am.
Mata Anna menatap jam dinding. Bukan waktu biasa untuk Anna bnagun pagi di jam segitu, sungguh luar biasa ia harus bangkit dari kasur di saat matahari sudah menyingsing. Itu semua karena ulah Alan.
Huuh... ya ampun. Ini bukan kali pertamaya Anna harus mengerahkan tenaga ekstra hanya untuk menyingkirkan lengan kekar Alan yang dengan posesif memeluk tubuh mungilnya sangat erat. Pagi ini bahkan kelakuan Alan lebih parah, kepala pria itu bersembunyi di caruk leher Anna seakan-akan tak mau lepas dari Anna.
“Mmmpph… Ini belum siang. Emangnya mau kemana? Udah shalat subuh juga.” Alan meracau dengan kelopak mata masih terpejam sempurna. Lengannya mempererat pelukan, lengan lainnya menutup tubuh polosnya.
“Udah siang, Mas Alan. Kamu harus kerja.” Anna masih berusaha menyingkirkan lengan kekar suaminya. Matanya melirik box bayi di sisi ranjang. Azzam kecil menggeliat, pipi gemilnya tampak sangat menggemaskan. Anna ingin segera meraih bayinya dan menciumnya, tapi pelukan Alan membuatnya tak bisa bergerak.
Tubuh Alan yang kini dalam posisi miring, dengan enaknya mengangkat satu kaki dan mengurung tubuh Anna. Kini tubuh mungil Anna sempurna terkunci.
“Ya ampun, Mas Alan. Buruan bangun. Kerja lagi!”
“Enggak. Kamu kan nggak ada kelas.”
“Siapa bilang? Aku ada kelas hari ini.”
“Tapi aku libur kerja hari ini. Aku mau habisin waktu sama kamu.”
“Setiap hari kamu selalu habisin waktu sama aku, kamu lebih sering di rumah sekarang. Apa lagi?”
“Aku cuti aja. Perusahaan punya nenek moyang juga, kok. Apa repotnya?”
“Seenggaknya kamu punya tanggung jawab kerja. Bukan berarti trus bersikap seenaknya meski itu adalah perusahaan punya papamu.” Anna geleng-geleng kepala melihat Alan yang malah tersenyum dengan mata masih terus terpejam. Suaminya itu akhir-akhir ini benar-benar over protektif. Disamping lebih suka menemani istri dirumah, dia juga kebanyakan aturan. Melarang Anna melakukan pekerjaan apapun dan hanya membolehkan Anna mengambil alih tugas Arni, baby sister, tak lain mengurus anak setelah pulang kampus. Parahnya, Anna pulang pergi ke kampus diantar jemput oleh Alan, jadinya Andra pun nganggur.
Kalimat itu berhasil membuat Alan mengangkat kepala supaya tatapannya bisa menjangkau Azzam yang berada lebih dekat dengan Anna.
“Huh, bohong!” Alan menjepit ujung hidung Anna melihat Azzam yang tertidur pulas dengan kedua tangan naik ke atas. Usianya sudah delapan bulan, gemuknya sangat menggemaskan.
Alan menjatuhkan kepalanya di dada Anna, malas beranjak dan lebih suka mencium aroma wangi tubuh Anna yang memabukkan.
“Kalau kamu kayak gini terus, jangan harap ada jatah untuk nanti malam lagi!”
******. Ancaman itu membuat Alan langsung bangkit dan bangun. Bisa mati berdiri jika ancaman itu benar-benar terealisasi. Dalam satu malam, lelaki perkasa seperti Alan tidak cukup sekali bercinta. Alan seakan-akan tidak pernah puas dengan keindahan sosok Anna. Wanita itu seperti candu yang membuatnya terus ingin menyentuh.
TBC
Pengumuman, jadi gini, Holy Marriage Season dua aku up disini aja. Lapak Only Anna bakalan kuganti jadi cerita lain.
paham kan yah?
Jangan kaget kalo nanti cerita Only Anna hilang dari peredaran. Heheeee...
Maaf kalo season dua Holy Marriage aku ulang up, soalnya banyak proses yg mesti kujalani.
Bagi yg udah baca Only Anna, boleh baca ulang Holy Marriage Season dua di sini, dan bagi yg gk mau baca ulang, ya dah tunggu aja yah sampe next