Holy Marriage

Holy Marriage
Seperti Kapas



“Ada kesalahan dalam pembukuan ini. Kamu bikin catatan agar diperbaiki oleh Accounting.” Alan mengembalikan laporan kepada Alta. “Aku tidak mau tahu, mereka harus memperbaiki laporan.”


“Hanya itu saja, Pak?”


“Ya. Tidak ada jalan lain. Itu adalah tanggung jawab mereka. Jika accounting tidak bisa menyelesaikan ini, aku yang akan menyelesaikan mereka semua. Suruh mereka menghadap kepadaku,” tegas Alan.


“Baik, Pak. Akan saya bikin catatan di dalam laporan ini.” Alta meraih map. Ia menatap Anna dan melempar senyum yang langsung dibalas dengan senyum pula oleh Anna.


“Sepertinya sekretarismu cerdas,” kata Anna sepeninggalan Alta.


“Ya. Dia cekatan dan rajin. Sampai-sampai yang bukan menjadi pekerjaannya pun dia kerjakan.” Alan menyandarkan punggung ke sandaran kursinya. “Jika dia tidak memeriksa laporan dengan teliti, masalah ini pasti tidak akan terciduk.”


“O ya, aku dengar tadi dia menyebut nama Naga, apakah Naga yang dimaksud adalah…”


“Ya. Naga yang kita kenal,” potong Alan sebelum Anna menyelesaikan perkataannya. “Alta bekerja di sini atas rekomendasi dari Naga, dia bekas sekretarisnya Naga.”


“Jika memang Alta adalah orang yang cerdas, seharusnya dia dibutuhkan di perusahaannya Naga, lalu kenapa Naga malah mengoper Alta ke perusahaanmu?” Tanya Anna.


“Kondisi perusahaan Naga sedang kurang bagus, dan sebagai bentuk rasa terima kasih Naga terhadap alta, dia tidak mau Alta terjebak di dalam perusahaan yang sedang dalam masalah, makanya Naga mengoper Alta kemari.”


“Pemikiran itu salah. Justru Alta dibutuhkan diperusahaan Naga. Seharusnya Naga mempertahankan Alta untuk memperkuat kondisi perusahaan. Saat orang secerdas Alta turut serta mengatur keuangan di perusahaan Naga, kondisi perusahaan saja sudah goyang. Bagaimana jika malah mengeluarkan orang sepertinya? Bukankah itu justru memperburuk kondisi perusahaan Naga? Sepertinya Naga salah mengambil keputusan. Dan bahkan belum tentu pengganti Alta justru akan lebih baik darinya.”


Alan menatap intens mata Anna. Istrinya memang cerdas, bahkan Anna berpikir sampai sejauh itu mengenai perusahaan yang bukan miliknya.


“Akan berbeda pengertian seseorang saat mersa berhutang budi pada orang lain, mungkin aku juga akan melakukan hal yag sama saat berada di posisi Naga efek dari wujud rasa terima kasih.”


“Tapi kalau aku enggak. Aku akan mempertahankan orang yang kuanggap mampu mengembalikan detak jantung perusahaan seperti semula. Dan rasa terima aksih bukan berarti dilakukan dengan cara mengeluarkan Alta, tapi memberikan sesuatu penghargaan yang jauh lebih baik dari itu.”


Anna akhirnya terkekeh. Betapa bahagianya dia mendapat godaan itu dari sang suami, dia tahu Alan sedang bercanda. Dan ini adalah pertama kalinya Alan kembali bercanda kepadanya setelah hampir setahun pria itu menutup diri dan menjauh dari Anna.


“Apa kamu masih lama di sini?” Tanya Anna.


“Aku menunggu tamu. Sabar sebentar.”


“Baik. Kalau begitu aku tunggu di luar.”


Alan mengangguk.


Anna meninggalkan ruangan Alan. Dia menghampiri meja Alta. Gadis id hadapannya itu tampak sibuk dengan setumpuk kertas di meja sampai-sampai Alta tidak menyadari kedatangan Anna yang kini sudah berdiri di depan mejanya.


“Ada apa?” Tanya Alta masih dengan pandangan fokus ke kertas. “Pak Alan sedang tidak bisa diganggu. Silahkan tinggalkan pesan dan akan saya atur waktu untuk bisa bertemu dengan beliau.”


“Alta!” panggil Anna.


Sontak Alta mengangkat wajah dan meninggalkan pekerjaannya. Ia bangkit berdiri untuk menyambut Anna. “Eh, maaf Ibu. Saya kira tadi karyawan. Ada apa, Ibu? Apa ada yang bisa saya bantu?”


“Aku mau bicara sebentar denganmu.”


“Oh.” Muka Alta langusng memucat seputih kapas. Gugup. “Ada apa ya, Bu?”


TBC