
Alan seketika itu berdoa dalam hati, semoga ia dijauhkan dari segala kemaksiatan. Sudah cukup maksiat yang telah berlalu, jangan lagi ditambah. Akan bertumpuk dosa yang harus ia pertanggung jawabkan jika kembali bermaksiat.
“Kita pulang yuk, Mas!” ajak Anna membuat Alan menoleh ke arah Anna yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian gamis seperti saat Anna datang ke lokasi itu. Anna benar-benar cantik mengenakan gamis. Alan tak pernah jemu mengatakan kalau istrinya itu memang cantik. Itulah salah satu penyebab ia tergila-gila pada Anna.
Entah sejak kapan senam selesai dan Alan tidak menyadarinya. Perhatiannya sejak tadi sedang fokus kepada yang lain.
“Oke. Yuk, kita pulang.!” Alan menggandeng Anna dengan posesif. Berusaha menunjukkan pada dunia kalau Anna hanya miliknya. Pandangan Alan kemudian tertuju ke lelaki kelemis dan berkata, “Apa yang kita sembunyikan terkadang memang nggak diketahui manusia. Tapi Allah Maha melihat. Saya duluan, permisi!”
Lelaki kelemis itu bangkit bangun merasa tidak menyukai kalimat yang dilontarkan Alan. Ekspresinya berubah sengak dan alisnya terangkat tinggi. Dipandanginya langkah Alan yang menjauh dengan tatapan sebal.
Entah kenapa Alan ingin menoleh ke belakang saat dia sudah sampai di ambang pintu. Dia terkejut melihat Cintya menghampiri lelaki berkemeja biru itu. Kemudian dua insan itu beriringan menuju arah yang sama. Dan Alan juga tidak menyangka jika dirinya sanggup memberikan ceramah singkat pada orang yang tak dikenal. Sejak kapan ia jadi bicara sok alim begitu? Kata-kata tadi terlontar begitu saja saat sderet kata melintas di kepalanya.
“Anna, apa tadi itu kamu senam bareng Cintya? Apa di ruangan senam tadi ada Cintya? Apa tadi...”
“Mas, nanyanya kok banyak banget tapi kayaknya pertanyaannya sama?” potong Anna membuat Alan membungkam.
“Iya, tadi ada Cintya di belakangku, Mas. Tapi kami sama-sama diam dan nggak saling ngobrol karena fokus sama si pemandu senam. Bukannya di sana tempat senam untuk ibu-ibu hamil, ya? Kenapa ada Cintya?”
“Dia nggak sedang hamil. Hanya pengen senam di tempat itu aja.”
“Darimana kamu tahu?”
“Temennya tadi yang cerita.”
“Oh…”
Alan sampai tidak sadar kalau di sana ada Cintya karena pandangannya hanya terarah ke Anna. Untuk apa dia menatap wanita lain? Baginya, matanya hanya akan sejuk saat memandang istri sendiri. Anna tidak pernah membosankan. Hati Alan selalu tenang setiap kali menatap wajah Anna.
Alan tidak bertanya lagi. Ia menelan pertanyaan-pertanyaan di hatinya tanpa harus mendapat jawabannya.
Entah kenapa Alan merasa sedih melihat kehidupan Cintya. Kenapa Tuhan memperlihatkan kehidupan baru Cintya kepadanya?
“Mas, ada apa? Kok, nggak dijalanin mobilnya?” tanya Anna seraya menyentuh punggung tangan Alan.
Alan menoleh, ia merasa damai oleh sentuhan lembut tangan Anna. Dia kemudian tersenyum dan membalas sentuhan Anna dengan mengelus punggung tangan istrinya itu. Sungguh, berumah tangga dalam keadaan saling cinta itu terasa sangat indah.
“Okey, kita pulang!” Alan menjalankan mobilnya.
***
Tbc
Dear all, aku mau kasih tau ke kalian, ada cerita terbaruku loh, judulnya
PACARKU DOSEN
ceritanya seru banget, kalian bisa ketawa guling-guling dan baper secara serentak. itu cerita menguras energiku banget, beda sama cerita ceritaku yg lain. Buruan dibaca sekarang juga, rugi banget kalo gak baca apa lagi kalo sampe ketinggalan baca. serius, serius serius
ini dia penampakan covernya untuk saat ini
cari aja judul PACARKU DOSEN, atau liat di profilku, kalian akan menemukan cerita itu.
Cayo, masukin ke favorit dan ikuti terus ceritanya. dijamin ketagihan. seriuus. apa lagi ygpacarku dosen, sayang banget kalo gak baca. kutunggu komen kalian di sana. siapa yg muncul duluan yaaak