
“Dan kamu nggak menolak aku kuliahin di sana karena tau Rafa ada di sana? Kamu girang dengan keputusanku itu, bukan? Aku nggak tau bagaimana caramu menghabiskan waktu bersama-sama Rafa ataupun Aldi selama di kampus.”
“Mas Alan, cukup! Jangan curigai aku!” seru Anna dengan nada agak tinggi. “Kenapa kamu nggak bisa mempercayaiku sama seperti aku mempercayaimu? Ketika kamu berada sangat dekat dengan perempuan lain yang jelas-jelas berstatus pacaran, aku tetap bisa memegang teguh kepercayaanku ke kamu. Aku tetap berusaha positif thinking.”
“Nggak ada alasan wanita yang menginginkanku untuk meragukanku. Aku adalah milikmu, dan kau tahu itu. Sementara aku, alasan apa yang membuatku bisa mempercayaimu? Sejak awal, aku tau kamu masih memendam perasaan dengan mantanmu itu. Dan sekarang kalian terlihat selalu dekat.”
“Aku bisa apa? Yang membuatku begini hanyalah situasi dan kondisi. Aku sama sekali nggak punya rasa apapun sama Rafa, dan Aldi hanyalah sebatas dosen yang telah lama aku kenal. Itu aja. Apa kamu masih nggak percaya itu?” Anna menggertakkan gigi, emosinya telah terpancing.
“Entahlah!”
Jawaban yang mengesalkan. “Entahlah gimana maksudnya? Jadi sekarang aku harus apa?”
Alan mengusap wajah kasar kemudian melewati Anna dan keluar kamar.
Anna hanya bisa melongo melihat kepergian Alan. Tubuhnya terhempas dan terduduk di sisi ranjang. Tangisnya pecah dan bahunya bergetar. Anna jadi bingung, sebenarnya Alan bersikap demikian karena cemburu, atau hanya sebatas alasan untuk bisa mencari kesalahan Anna hingga ia dengan leluasa bisa berhubungan dengan Cintya? Kenapa Alan tidak bisa mempercayainya? Harus bagaimana lagi ia bersikap?
“Huaaaa….” Tangis Anna benar-benar memecah keheningan.
Alan menyetir mobil dengan perasaan tak menentu. Ternyata begini rasanya jatuh cinta? Sakit hati, cemburu dibumbui takut kehilangan ujung-ujungnya malah merasa jengkel. Ia sangat mencintai Anna, tapi kenapa ia uring-uringan begini dan ingin meluapkan kemarahan hanya karena alasan cemburu?
Gejolak-gejolak cintanya yang meluap terhadap Anna membuatnya merasakan kecemburuan yang berkobar hebat. Itulah alasannya tersakiti.
Alan merasa dirinya kekanak-kanakan. Tapi terkadang, pada orang-orang tertentu, sikap kekanak-kanakan laki-laki justru muncul kepada wanita yang sangat dicintai. Dan itu menimpa diri Alan.
Seharusnya ia bisa mengambil sikap dengan pemikiran yang dewasa, tapi nyatanya tidak. hatinya tidak bisa dikendalikan. Beginilah caranya mengekspresikan kekecewaan.
Jika saja cintanya terhadap Anna tidak dalam, mungkin kecemburuannya juga tidak sedalam sekarang. Justru karena cintanya yang terlampau dalam hingga kecemburuannya terkadang tidak beralasan. Bukannya mementingkan perasaannya sendiri, tapi terlalu sulit untuk mengatur perasaanya agar mengalir seperti yang diinginkan. Ia merasa cintanya sedang terancam, dan ia tidak ingin apa yang ia cintai diganggu orang lain, ia hanya ingin menjadi yang nomer satu di kehidupan Anna. Sikapnya yang berlebihan hanya efek dari takut kehilangan. Apakah rasa cintanya yang begitu besar membuat akal sehatnya hilang?
Berkali-kali Alan memukul bundaran setiran. Bingung, serba salah. Ia mencintai Anna, tapi kenapa tidak mau mengesampingkan ego? Kenapa masih saja mengutamakan emosi?
Bahkan ketika sudah sampai di kantor, Alan hanya bisa termenung memikirkan apa yang baru saja terjadi. Sudah bolak-balik Reno memasuki ruangan dimana Alan menghuni, tapi Reno tidak berani bicara karena melihat muka Alan yang ditekuk. Akhirnya ia memilih pergi lagi dan meninggalkan Alan sendirian.
TBC