Holy Marriage

Holy Marriage
Tentang Alan



Anna keluar kamar sambil menatap jam di tangan, pukul 14.30. Dahinya mengernyit sebentar memikirkan sesuatu, tentang Alan. Kemudian dia menghambur menuju kamar, mengganti jilbab, mengambil tas dan memasukkan ponsel ke tas jinjingnya, lalu keluar rumah.


Anna mengeluarkan mobil dari garasi. Kemudian menghentikan mobil saat melihat sosok manusia berdiri di depan. Anna membunyikan klakson.


“Ya ampun Ndra, kamu udah bosan hidup apa gimana, sih? Main nonggok aja sembarangan di situ? Kalau ketabrak gimana?” geram Anna melihat Andra yang mendadak muncul dan kini berdiri di depan mobil.


Andra memutari mobil lalu mendekati jendela di sisi Anna. “Belum ketemu jodoh, Non. Jadinya adang memang bosan hidup. He heee… Nona mau kemana? Kok, pergi sendiri? Kenapa tidak mengajak saya?”


“Jangan ke Ge Er-an kamu, kemana–mana aku mesti ngajakin kamu terus. Ada kalanya aku pergi sendiri.”


“Tapi saya bisa dimarahin Tuan alan kalau beliau tahu Nona pergi sendiri tanpa saya.” Wajah andra memelas, takut disalahkan.


“Nggak akan ada yang memarahimu. Kalau ada yang memarahimu, maka kupecat dia.”


Andra terkejut sekaligus berlagak bingung mendengar pernyataan Anna.


“Aku nggak lama, kok. Kamu jagain rumah aja, jangan sampai digondol semut.” Anna menjalankan mobil, meninggalkan Andra yang terbengong.


Tidak ada tujuan lain selain kantor Alan. Anna ingin tahu scedhule Alan. Dia ingin melihat catatan di meja sekretaris. Apa kegiatan Alan sehingga pria itu pergi meninggalkan rumah selama seminggu. Mungkin Anna tidak akan bersikap begini jika Alan berterus terang kepadanya, tapi akhir-akhir ini sikap Alan benar-benar telah membuatnya bingung. Alan boleh bilang kalau dia merasa tidak berubah, namun Anna merasakan perubahan yang signifikan dari dalam diri Alan. Andai saja sejak awal Alan bersikap seperti sekarang, mungkin Anna tidak akan bertanya-tanya. Anna beranggapan kalau Alan pergi ke luar kota, atau barang kali ke luar negeri sehingga pria itu tidak bisa pulang ke rumah.


Sesampainya di tempat tujuan, mobil Anna melewati gerbang kantor sesaat setelah gerbang terbuka secara otomatis. Dia sekilas melihat mobil Alan terparkir di parkiran khusus diamond.


Anna sengaja memarkirkan mobil di sisi mobil Alan. Tidak ada seorang pun yang berani memarkir di sana kecuali keluarga Alan William.


Segera Anna turun dari mobil, namun ia beringsut mundur saat melihat sosok pria tampan berjas hitam melangkah keluar dari pintu kaca gedung perusahaan. Pria itu terlihat sibuk menelepon. Tak lain Alan.


Benar dugaan Anna, Alan sedang ada di kantor, pria itu tidak pergi ke luar kota. Lantas atas alasan apa yang membuat Alan tidak pulang ke rumah? Kemana dia bermalam selama ini? Apakah salah jika pikiran Anna jadi buruk terhadap Alan? Bahkan mungkin tidak akan ada wanita yang akan berpikiran positif saat mengalami hal yang sama.


Anna masuk ke mobil dan menyalakan mesin, dia menggerakkan mobil pelan-pelan menuju ke parkiran umum supaya tidak ketahuan sedang berada di sana. Sekarang dia lebih seperti main kucing-kucingan dengan suaminya sendiri.


Alan tampak masuk ke mobil dan menyetirnya ke luar area gedung perusahaan.


Melihat kepergian Alan, Anna bergegas memasuki gedung. Naik lift menuju ke lantai atas, tepatnya menuju ke ruangan Alan. Kini dia melintasi koridor panjang untuk bisa sampai ke ruangan yang dituju, lalu melintasi ruangan khusus bagian sekretaris yang wajib dia lalui sebelum memasuki ruangan Alan.


TBC


.


.


.