Holy Marriage

Holy Marriage
Tekad Bulat



Sayangnya Alan tidak tahu, bahwa sesungguhnya Anna ingin Alan memperlakukan dirinya seperti istri-istri normal lainnya.


Anna tersenyum mengingat semua itu. Andai saja Alan tahu, perasaan Anna kini telah berubah seratus delapan puluh derajat, apakah semua akan tetap sama? Mungkinkah Alan masih akan menjauhinya?


Sudah fix dan tidak bisa dipungkiri lagi, setelah kejadian menyakitkan kemarin, justru menyadarkan Anna akan satu hal, bahwa ia jatuh cinta pada Alan.


Selama ini Alan selalu bersikap baik terhadap Anna, memanjakan Anna dengan limpahan materi yang tidak pernah putus, memperhatikan Anna dengan sikap lembutnya, dan yang jelas tidak marah.


Semua yang Alan lakukan cukup membuat Anna merasa diperhatikan dan mengakui bahwa apa yang Clarita dan Stefi katakan tentang Alan yang memiliki sifat penyayang itu adalah benar, bukan hanya kepada orang yang dicintai saja Alan memberikan perhatian dan kasih sayang. Di sisi lain Anna harus kehilangan konsentrasi belajar karena Alan lebih sering keluar malam. Penuh kecurigaan, Anna berpikir kalau Alan sering keluar untuk menemui Cintya, mereka pasti bermesraan dan saling melepas rindu. Ya ampun, Anna malah gagal fokus memikirkan kepergian Alan setiap malam. Dan hari ini, Alan bahkan tidak pulang sejak pagi hari pamit akan berangkat kerja.


Haruskah Anna jujur tentang perasaannya? Haruskah ia meminta Alan supaya tidak menikahi Cintya dan memulai hidup baru, berumah tangga yang sesungguhnya dengan dirinya? Bukankah yang memulai tidak ingin membina rumah tangga adalah Anna sendiri? Ia bahkan membuat surat kesepakatan sebelum pernikahan berlangsung dengan berbagai larangan. Lalu sekarang dia juga yang mencabut segala tuntutan itu? Adilkah ini buat Alan? Adilkah buat Cintya? Kenapa ia jadi merasa serakah demi kepuasan diri sendiri?


Tidak. Anna tidak serakah. Ia hanya ingin meluruskan niatnya membentuk rumah tangga. Salahkah itu?


Baiklah, Anna harus mengambil keputusan. Ia harus mempertahankan rumah tangganya. Ia harus jujur tentang perasaannya. Ia harus mengubah tujuan rumah tangganya dan mengatakan agar Alan tidak menikahi Cintya. Mungkin itu akan kedengaran egois dan munafik karena telah mengingkari pernyataannya sendiri, tapi kenyataan tidak bisa dipungkiri, Anna benar-benar telah jatuh cinta.


Tekad Anna kini sudah bulat, ia harus bicara empat mata dengan Alan. Semoga pria itu bersedia membina rumah tangga tanpa ada orang ketiga diantara mereka. Semoga Cintya akan dipertemukan dengan pria yang jauh lebih mulia.


Anna melipat buku belajarnya dan menyusun rapi di rak. Telunjuknya memencet tombol mematikan lampu belajar. Dengan langkah diseret, ia berjalan menuju ranjang. Manik matanya menatap jam di pergelangan tangan sebelum terpejam, pukul satu dini hari.


Alan belum pulang juga. Kemana dia? Tidak biasanya Alan pulang selarut itu.


Apakah ungkin yang dikatakan Rafa itu benar, bahwa Alan sedang bermain dengan wanitanya di luar sana? Apakah mungkin Alan sedang bersenang-senang dengan Cintya? Mereka berduaan lalu masuk kamar dan.... Tidaaaak. Anna menjerit dalam hati.


Untuk lebih jelasnya, Anna menyambar ponsel dan menelepon Alan. Tidak dijawab. Jantung Anna berlarian, khawatir jika pikiran buruk di kepalanya benar-benar terjadi. Anna mengulang panggilan hingga tiga kali dan Alan tidak menjawabnya.


Kamu dimana?


Tumben jam segini belum pulang.


Anna mengirim pesan untuk Alan. Sudah terkirim namun Alan tidak membacanya. Ya Tuhan, Anna semakin gelisah. Kini ia berdiri di balkon menatap ke bawah, menanti mobil Alan masuk.


Anna terduduk di teras balkon sambil menatap ponsel. Telepon tidak dijawab, pesan juga tidak dibalas. Sebenarnya apa yang sedang Alan lakukan?


***


TBC


 


Maaf pendek. Kejar tayang demi penuhi janji. Heee