Holy Marriage

Holy Marriage
Jaga Gengsi



Alan mondar-mandir di ruang tamu, sudah rapi mengenakan kemeja, tanpa dasi, tanpa jas. Sesekali ia menguap, ngantuk. Semalaman tidurnya tidak nyenyak. Hampir setiap lima belas menit, ia membalikkan badan, gelisah. Jika dihitung, mungkin sudah puluhan kali ia membalikkan badan ke sana kemari di sepnjang malam. Tidurnya pun hanya satu jam saja.


“Mas Alan, udah setengah jam loh mondar-mandir kayak setrikaan. Kalau yang dipijak kain, udah lecek itu kainnya, Mas,” celetuk Andra mengingatkan Alan yang sejak Andra memulai mencuci mobil hingga selesai, Alan masih mondar-mandir seperti orang hilang akal.


Alan menatap Andra sekilas tanpa memberi komentar. Ia menghempaskan tubuh ke sofa dan berbaring di sana.


“Nggak jadi kerja, Mas?” tanya Andra yang balik lagi dari arah dapur. Sepertinya sekarang giliran Andra yang mondar-mandir.


Alan menutup wajahnya dengan bantal sofa. Detik berikutnya tangannya merogoh ponsel dan menjawab telepon.


“Cancel aja,” titahnya pada Vania, sekretarisnya di seberang. Ia sedang malas berpikir dan memilih jalur aman. Ponselnya kembali menempel di telinga ketika Vania kembali menelepon. “Suruh Reno yang urus,” titahnya lagi dengan nada tidak bersahabat.


Berikutnya ponsel masih berdering.


“Apa lagi?” Alan mengerutkan dahi ketika sekretarisnya di seberang sana mengatakan kalau Reno sedang ke luar negeri. Alan sampai lupa kalau ia sendiri yang menugaskan Reno ke luar negeri. “Ya sudah, beri tahu Collin saja. Biar dia yang urus,” ucapnya dan kemudian mengubah ponsel ke mode silent.


***


Dua hari berlalu. Anna menghabiskan waktu dengan menyibukkan diri pada segala sesuatu yang ada di rumah, tak lain membereskan rumah Ayahnya, meski dalam keadaan kaki pincang karena kaki kirinya belum pulih.


Selama itu, Alan belum juga mengunjunginya. Alan juga tidak menelepon atau sekedar nge-chat. Alan benar-benar keras kepala. Ini artinya, benarkah Alan lebih mencintai Cintya dari pada dirinya yang sudah berjuang membuat Alan jatuh cinta padanya? Apakah usahanya selama ini masih belum cukup?


Akhirnya Anna mengalah, ia harus pulang. Bukan mengalah pada Alan. Tapi mengalah pada diri sendiri. Karena ia takut dosa jika terus-terusan memendam kesal pada suami.


Satu hal yang membuatnya merasa didera rasa bersalah, mungkin kecelakaan itu adalah teguran untuknya yang sudah meninggalkan rumah tanpa minta ijin pada suami terlebih dahulu.


Anna mengetik pesan di kolom yang nomor tujuannya adalah Alan.


Syg, jemput aku, dong.


Aku mau pulang.


Tapi kemudian ia men-delete-nya, mengetik kata-kata lain yang lebih bersahabat dan bernuansa romantis, tapi kemudian dihapus lagi. Mungkin sudah tujuh kali Anna mengetik dan kembali menghapusnya.


Serba salah.


Kata-katanya terkesan menggurui, memerintah, terlalu puitis, atau malah lebay dan menggelikan. Ia ingin pergi ke kantor Alan dan memberi kejutan, supaya hubungannya dengan Alan membaik. Tapi akhirnya semua ide di kepalanya tidak terpakai. Ujung-ujungnya cuma memesan taksi online setelah Ayahnya pergi kerja.


Sembari menunggu taksi datang, Anna menatap foto Alan yang kini menjadi walpaper di hapenya. Ia harus mulai membujuk Alan dan mengajak baikan, tidak boleh mendiamkan suaminya. Hubungannya dengan Alan sekarang, benar-benar tidak menenangkan.


TBC