Holy Marriage

Holy Marriage
Pengorbanan



Ini adalah hari kedua semenjak Anna dirawat di rumah sakit.


Pintu terbuka. Angel dan Collin memasuki kamar. Angel menghambur memeluk Anna.


“Ya ampun, Anna. Kakak baru tau tadi kalau Anna masuk rumah sakit. Trus gimana kondisi janinmu? Katanya kamu pendarahan?” Angel melepas pelukan dan menatap Anna cemas.


“Alhamdulillah nggak pa-pa, Kak. Tenang aja, adikmu ini kan kuat. Nggak inget apa sejak kecil Anna yang selalu ngelindungin Kakak dari cowok-cowok nakal yang suka ngejahilin Kakak? Nah, Anna bisa dong ngejagain bayi Anna sendiri.”


Angel tersenyum melihat Anna yang selalu kuat. Sekilas ia mengenang masa lalu, memang selalu Anna yang menjadi pahlawan dan melindungi Angel dari segala marabahaya. Anna menendang para cowok yang berani kurang ajar atau menggoda Angel dengan berbagai gaya anehnya. Tidak salah jika Anna menganggap dirinya kuat.


“Ya, Kakak akui Anna memang kuat. Tapi si kecil ini belum tentu kuat. Jadi inget, jaga diri baik-baik. Jangan ada beban pikiran.” Angel mengelus sekilas permukaan perut Anna.


“Ngomong-ngomong, kakak tau dari mana kalau Anna ada di rumah sakit?” tanya Alan.


“Stefi yang cerita semuanya. Tadi kami sempet mampir sebentar ke rumah Papamu, Alan. Setelah berkunjung ke rumah Pak William, kami berniat berkunjung ke rumahmu. Tapi kata Stefi, Anna lagi ada di rumah sakit. Ya udah, kami langsung ke sini.”


Anna mengangguk.


“Gimana kondisimu, Anna? Udah baikan?” tanya Collin.


“Alhamdulillah udah lebih baik, kok,” jawab Anna.


“Syukurlah.” Collin lega.


Collin dan Angel meninggalkan rumah sakit setelah hampir satu jam mereka mengobrol dan bahkan sempat minum teh bersama.


Sepeninggalan Collin dan Angel, Alan bersitatap dengan Anna. Keduanya tersenyum.


“Mas Alan, aku haus.” Anna menyentuh tenggorokannya.


“Nih, minum!” Alan menyodorkan botol yang tutupnya sudah dibuka ke arah Anna.


Anna mendorong botol itu menjauh darinya. Kepalanya menggeleng.


“Kenapa?” tanya Alan.


“Aku kepengen es cendol.”


Mata Alan membulat. “Es cendol? Nggak salah?”


“Apanya yang salah?”


“Dimana aku cari es cendol?” Alan yang tidak pernah mengenal bahasa es cendol, sontak bingung harus cari kemana. Dan apa itu cendol? Yang ia tahu selama ini, jus, kopi, teh, dan minuman yang umum ada di restoran. Tapi cendol?


“Cendol itu yang kayak mana?” Alan garuk-garuk kepala membayangkan bentuk cendol.


“Yang pakai santan trus ampasnya tuh berwarna-warni. Liat aja di internet, pasti ada. Kamu coba aja deh pergi keluar sana, biasanya kan di pinggiran jalan ada tuh yang jualan.”


Alan masih diam terpaku.


“Tanya aja ke orang-orang dimana yang jualan cendol, gitu!” lanjut Anna tanpa merasa iba melihat muka Alan yang kebingungan. Wajar, Alan yang mulai dari sekolah dasar sampai menuntut ilmu di kampus elit, mana mungkin mengenal cendol. Kalaupun pernah melihat, mungkin ia tidak ngeh. Selama ini tempat-tempat tujuannya jauh dari kata cendol.


“Oke oke.” Alan menelan saliva agak sulit namun tetap memenuhi permintaan Anna.


Alan searching di google, mencari seperti apa bentuk cendol. Setelah gambarnya tampil, ia manggut-manggut. Ia pernah melihat minuman itu. Entahlah, mungkin ia kurang ngeh meski pernah melihatnya. Dan sekarang ia sudah tahu kalau minuman yang pernah ia lihat sekilas entah dimana itu namanya adalah cendol.


TBC