Holy Marriage

Holy Marriage
Ingin Mencium Kamu



“Mas Alan! Bisakah kamu menghargai jerih payahku?” Anna kesal. “Lama-lama kamu tuh bikin kesel terus. Aku juga manusia, mas Alan. Aku bisa kecewa, marah dan kesal. Oke, sekarang kita bicara dari hati ke hati, bicara dengan pemikiran dewasa. Maumu sekarang apa?”


“Anna, aku lelah.” Hanya itu yang sanggup Alan katakan.


“Aku jauh lebih lelah dengan sikapmu ini.”


Tidak ada respon dari Alan.


“Mas Alan, kamu mau menjawabku apa enggak?”


Alan diam saja.


Kesal, Anna pun mengangkat tangannya dan mendaratkan kepalan tangannya di perut Alan.


Seketika, Alan mengerang dan terduduk memegangi perutnya.


“Aku sedang bicara denganmu dan kamu malah mendiamkanku. Kelewatan!” geram Anna dengan ekspresi kesal.


Alan berusaha menampilkan ekspresi datar seakan tonjokan Anna tidak menimbulkan efek apa pun, meski sesungguhnya kepalanya semakin nyut-nyutan. Nyeri dan menyakitkan.


“Bukan hanya kamu yang capek kalau begini caranya, aku pun lebih capek,” ungkap Anna kemudian duduk di sisi ranjang. Dia menatap Alan yang terlihat lemas, kelihatannya memang capek sekali. Hati Anna terenyuh karenanya.


“Terserah saja jika kamu mau marah,” ucap Alan datar. “Aku tidak peduli. Silakan marah, tapi jangan KDRT.”


“Apa kamu lupa kalau aku pernah ikut belajar bela diri? Ya gini akibatnya kalau kamu sengaja nyakitin aku.”


Alan diam saja. Dia malah membanting tubuh ke kasur dan bahkan kembali terpejam.


“Mas Alan, aku sedang bicara denganmu? Apa kamu nggak bisa meluangkan sedikit waktu saja untukku? Kenapa selalu begini sikapmu ke aku? Di luaran sana, kamu punya waktu bahkan sampai dua puluh empat jam full. Setibanya di rumah, bahkan lima menit pun kamu nggak bisa menyisakan waktumu untukku.” Anna ingin sekali menonjok Alan lagi.


Anna mengesah, hatinya nyeri melihat Alan yang cuek dan sama sekali tidak peduli kepadanya.


Alan merasakan satu tetes air mendarat di atas punggung tangannya. Hati Alan berdenyut merasakan tetesan tersebut. Dia tidak perlu membuka mata untuk melihat air apa yang membasahi punggung tangannya itu. Sudah pasti air mata Anna.


Alan melingkarkan lengan tangannya ke perut Anna, lalu menarik tubuh itu mendekat ke arahnya hingga tanpa sengaja tubuh Anna menubruk tubuh Alan. Dada Anna mendarat di dada pria itu.


“Apa posisi ini sudah cukup membuatmu nyaman untuk curhat? Ya sudah, curhatlah sekarang!”


Meski pun hati Anna dibikin kesal oleh Alan, namun entah kenapa dia merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan Alan. Dia bahkan sejenak memejamkan mata menikmati irama detakan jantung di pipinya. Ia menghela nafas, mencoba untuk membuat hatinya merasalebih tenang. Mencoba untuk menyabarkan diri. Dia sesungguhnya sangat merindukan Alan yang tingkat over protektifnya sangat tinggi seperti dulu, kenapa semuanya berubah dalam sekjap waktu? Alan yang sekarang seperti bukan Alan yang dia kenal dulu.


Setelah hati Anna sedikit tenang, dia pun menoleh dan menatap Alan. Dia mencoba untuk berbicara dari hati ke hati dengan pemikiran tenang. “Mas Alan, kita ini udah sama-sama dewasa dalam berpikir. Kita bukan anak-anak lagi. Kita juga udah bertahun-tahun menikah. Kamu pasti tahu kalau menikah itu bukan hanya sebatas untuk bisa tidur bersama dan tinggal seatap kemudian bikin anak. Bukan itu yang namanya rumah tangga.”


Anna menelan dengan sulit, lehernya pun tercekat.


“Menikah adalah menyatukan dua jiwa yang berbeda, menyatukan tujuan yang berbeda dan menjadikan keluarga yang baik,” lanjut Anna. “Suami istri seharusnya bisa saling melengkapi, saling menutupi kekurangan dan kelebihan, saling berbagi, memahami satu sama lain. Di saat ada yang kosong di dalam dirimu, maka akulah yang mengisinya, demikian sebaliknya. Di saat ada yang tersakiti, maka yang lain mengobati. Jika hanya untuk sekedar ingin mencari kesenangan di luaran sana, maka nggak seharusnya kamu menikahi wanita. Karena perbuatanmu itu sama sekali tidak mendidik. Kamu yang menjadi imamku, tentu seharusnya kamu yang memimpinku, bukan malah memberi kebebasan kepadaku untuk bisa berbuat semena-mena di keluarga kecil kita. Aku bahagia memiliki suami sepertimu, tapi itu dulu. Sekarang semuanya berubah. Aku sedih, aku kecewa dan selalu tertekan karena ulahmu. Apa kamu senang melihatku sedih seperti ini?”


Alan diam saja. Hatinya basah mendengar sederet kalimat panjang yang diucapkan Anna. Ingin sekali dia mengecup kening istrinya. Ingin sekali dia mengusap kepala wanita itu.


BERSAMBUNG


.


.


.