
Alan akhirnya tersenyum saat melihat Collin memasuki ruangannya. Collin tidak sendirian, ia bersama Angel. Alan sampai lupa jika kakak iparnya itu sudah bekerja di perusahaannya.
“Apa kabar pengantin baru?” Alan memperlihatkan ekspresi ceria seolah-olah ia tidak ada masalah. Dan seperti biasa, Alan selalu mampu menyembunyikan masalahnya di hadapan orang lain hingga tidak terbaca oleh lawannya. “Loh, lo bawa Kak Angel ke sini?”
“Iya, dia nganterin gue. Katanya sekalian mau ke kantor Ayah juga. dia juga mau liat-liat kantor tempat gue kerja katanya.” Collin merangkul bahu Angel dan membimbingnya duduk di sofa. “Aku pengen memberitahukan tempat kerjamu jugake Angel. Biar familier sama tempat ini.”
Alan meninggalkan kursinya dan ikutan duduk di sofa. “Biar gue panggilin OB suruh bikinin minum.”
“Nggak usah. Aku bentaran aja, kok,” ucap Angel. “Sempurna. Gedung ini sangat sempurna. Kamu beruntung dititipin perusahaan segede ini sama Allah. Semoga amanah, ya!”
Alan mengangguk sambil tersenyum.
“O iya, gimana kabar Anna?”
Alan mendadak gusar mendengar nama Anna disebut. Tapi seperti biasa, ia selalu mampu menyembunyikan apa yang ia rasakan di hadapan lawan bicara.
“Anna baik. Jam segini pasti dia sedang kuliah,” jawab Alan seakan-akan tidak terjadi masalah diantara dirinya dan Anna. Padahal ia tahu, Anna tidak baik-baik saja. Anna pasti sedang galau. Dan ia tidak tahu bagaimana perasaan istrinya sekarang, setelah sikapnya tadi.
“Ya udah, salam buat Anna.” Angel menoleh kepada Collin dan berkata, “Mas, aku nggak bisa lama, aku pergi dulu.”
“Biar kuanterin sampai ke bawah.”
Collin mengusap pucuk kepala Angel sembari melempar senyum.
“Assalamu’alaikum.” Angel mencium punggung tangan Collin.
“Wa’alaikumusalam.” Collin berdiri mencium kening istrinya. Ia mengantar Angel hingga sampai ke pintu. Mereka terlihat berbincang sangat mesra dan akhirnya Collin ikut pergi meninggalkan ruangan. Sepertinya ia tidak tega membiarkan istrinya turun ke lantai bawah sendirian. Sikap Collin tampak sangat menghargai istri, sopan dan lembut. Dia juga berkali-kali mengatakan supaya Angel berhati-hati. Kasih sayangnya terpancar jelas dari sorot matanya. Inilah wujud dari karunia Allah, Dia menciptakan kasih sayang diantara manusia.
Alan terenyuh melihat pemandangan itu. Terbesit pertanyaan dalam benaknya, kenapa ia tidak bisa seperti Collin?
Seharian, bahkan sudah empat belas jam Alan dan Anna tanpa komunikasi. Padahal biasanya mereka selalu saling chat. Setiap menit saling tanya kabar, tak jarang video call meski baru satu jam tidak bertemu. Tapi hari ini, semua berbeda.
Alan menatap ponselnya. Sudah pukul sepuluh malam dan ia masih berdiam di ruang kerja setelah seharian bergelut dengan pekerjaan. Sampai detik ini Anna belum juga menghubunginya. Jika kemarin Anna sibuk ngechat dan menghubungi Alan disaat Alan sedang kesal, mengingatkan Alan supaya jangan lupa shalat, jangan lupa sarapan dan bla bla. Tapi sekarang Anna mendiamkannya. Apakah Anna benar-benar marah padanya? Sungguh, Alan tidak menginginkan situasi itu terjadi. Bahkan Alan menginginkan Anna menghubunginya. Alan sangat merindukan Anna.
Tapi jika memang ia merindukan Anna, kenapa tidak dirinya saja yang duluan menelepon? Alan terlalu angkuh, bahkan menghadapi sosok yang ia cintai sekalipun.
Alan sudah memegang ponsel dan menatap kontak yang diberi nama ‘My Wife’ untuk menghubungi Anna, tapi enggan dan memilih menutup ponsel kembali. Ia tidak ingin pulang sebelum Anna meneleponnya. Namun akhirnya ia bosan sendiri dan berkemas untuk pulang.
***
TBC.