Holy Marriage

Holy Marriage
Kejutan



“Selamat datang di istana keluarga besar Wiliam!” Wiliam merentangkan tangan menyambut Anna yang berdiri di ambang pintu bersama Alan di sisinya. Ia berjalan mendekati Anna dan mengumbar senyum lebar pada menantunya.


Anna balas tersenyum meski kelihatan kaku dan aneh, kemudian pandangannya mengedar ke seisi ruangan luas di depan mata. Keluarga besar Wiliam memenuhi ruangan tersebut.


Rasanya Anna seperti sedang memasuki stadion sepak bola. Riuh gempita. Anna tidak sempat menghitung, jumlahnya banyak. Tentunya akan butuh waktu lama untuknya menghafal nama-nama mereka. Bahkan jika ia ketemu salah satu diantara mereka di jalan, kemungkinan Anna tidak akan mengenalnya. Wajah mereka terlalu banyak.


“Sst.. Kenapa nggak ngomong kalau aku di bawa ke rumahmu?” bisik Anna kepada Alan di sebelahnya.


“Nurut aja. Semua perlengkapanmu udah kupindahin ke rumah ini, kok. Ayahmu juga udah ijinin,” balas Alan yang juga berbisik.


“Kok, aku nggak tahu?”


“Supaya jadi kejutan untukmu. Keluargaku mendesak supaya aku menjemputmu, jangan sampai membuat mereka curiga.”


Anna benar-benar menjadi pusat perhatian. Seluruhnya tersenyum gembira menyambutnya. Mendapat perhatian begitu, mendadak lutut Anna menjadi lemas, rasanya tempurung lututnya gemetaran, menari-nari dan hampir copot. Ia tidak menyangka jika istri Alan mendapat perhatian istimewa seperti yang ia rasakan sekarang. Wajar, karena dari tujuh turunan keluarga Wiliam, anak lelakinya selalu berjumlah satu. Termasuk Alan, hanya dia satu-satunya anak lelaki yang patut dilestarikan.


Beruntung sekali hidup Anna Salsabila. Entah berapa kali Anna harus membatin bahwa ia seharusnya merasa beruntung memiliki suami seperti Alan yang keluarganya juga menyambutnya dengan sangat baik.


“Ayo, masuk, Kak Anna!” Clarita menghambur dan menarik lengan Anna, memaksa Anna berjalan memasuki ruangan luas.


“Kak Anna, ini semua keluarga Papa. Rame banget, kan? Mereka menunggu kedatangan Kakak.” Clarita menatap Anna bahagia.


Lagi, Anna mengedarkan pandangan ke sekeliling, semuanya menatapnya dan ia semakin grogi. Mereka saling sahut membicarakan Anna.


“Cantik, ya?”


“Anak Pak Haji itu.”


“Nggak salah Wiliam pilih menantu.”


“Sopan.”


Alan melirik Anna yang kelihatan gugup, ia pun mengambil inisiatif untuk mengalihkan perhatian semua orang supaya berpindah kepadanya.


“Papa, kenapa nggak bilang kalau mereka ada di sini?” tanya Alan yang menyesalkan ketidaktahuannya tentang kehadiran saudara-saudaranya. “Kalau tau mereka dateng kan aku bawain buah tangan tadi.”


“Untuk kejutan. Mereka sengaja nggak ngasih tau kamu biar kamu dan Anna dapet kejutan disambut keluarga besar begini. Ada nenek, kakek, sepupu, Tante-tantemu, para Om dan banyak lagi lainnya. Seru, kan?” jawab Wiliam.


“Ya udah, kita makan bersama aja dulu, yuk!” ajak Alan.


“Pasti, dong! Ini saatnya kita makan bareng dengan penghuni baru di rumah ini,” sahut Stefi.


“Ayo ke ruang makan, Mama udah suruh pembantu masak banyak dan mereka udah siapkan semuanya di meja makan,” ajak Laura sambil berjalan menuju ruang makan.


Semuanya mengikuti menuju ruang makan. Berbagai menu tersedia di meja besar, ada lima meja panjang yang masing-masing dipenuhi aneka masakan lezat. Alan dan Anna duduk di kursi bersebelahan.


Nenek Alan begitu perhatian hingga rela mengambilkan nasi ke piring Anna dan Alan.


Sambil menikmati makan, mereka yang duduk mengelilingi meja pun berbincang hangat tentang masa depan Anna dan Alan. Menurut Wiliam, Anna harus menunda momongan dulu. Tapi menurut Nenek Alan yang tentunya adalah Mamanya Wiliam, berharap Anna secepatnya memiliki anak. Ia ingin segera menimang cucu, keturunan Alan.


Ngomong-ngomong soal cucu, Anna jadi merinding sendiri. Ya ampun, kenapa mereka membicarakan hal itu secepat ini?


TBC