
Perlahan Alan membuka kelopak matanya, netranya berputar menatap sekeliling. Ternyata ia masih tertidur di sofa. Berat sekali kepalanya. Berdenyut saat ia bangkit dan duduk. Alan memegangi kepala, sakit sekali.
Alan menurunkan kaki ke lantai. Dengan gerakan sulit, ia bangkit berdiri dan berjalan sempoyongan menuju ke anak tangga.
“Arrgkh..” Alan mengerang. Kepalanya semakin terasa sakit sekali. Ia terus melangkah, setengah terpejam.
Bruk! Tangannya meraih pintu. Mencengkeram erat handle pintu. Menyandarkan punggung ke dinding. Keringat dingin mencuat di sekujur tubuhnya.
Kreek!
Suara pintu dia buka.
Alan mengerjapkan mata dan berusaha mengamati kondisi di hadapannya, pemandangannya kabur dan sedikit bergoyang akibat kepalanya yang terhuyung-huyung.
Oh… ternyata ia salah arah. Tujuannya tadi adalah ingin ke kamar, tapi yang sekarang ada di depan matanya adalah teras dan halaman luas pekarangan rumahnya. Alan ingat, ia belum menaiki anak tangga.
Setelah berusaha menguasai diri, Alan kemudian berjalan menuju ke anak tangga dan menapakinya dengan sulit, rasa sakit di kepalanya benar-benar membuatnya tidak berdaya.
Untuk sampai di kamar, dia membutuhkan waktu cukup lama. Ia tidak mendapati Anna di kamar, entah kemana wanita itu. Alan tidak ingin memikirkan banyak hal di kepalanya. Dia hanya ingin melempar tubuhnya ke kasur dan tidur.
Tubuhnya menelungkup di kasur, sepatu masih terpasang di kaki, jas juga tidak dilepas. Penampilannya masih sama saat ia keluar. Rambutnya sedikit berantakan akibat tangannya yang beberapa kali meremas rambut.
Alan ingin tertidur saja, tidur untuk selamanya jik aperlu. Rasa sakit di kepalanya benar-benar telah membuatnya pasrah. Namun satu hal yang menjadi beban batinnya, Anna dan Azzam. Jika dia pergi meninggalkan dunia, maka kepada siapa dia menitipkan Anna dan Azzam?
Gelap.
***
Siang itu, perlahan Alan membuka mata. Pertama yang dia lihat adalah kasur king size sisinya yang bergumpal selimut. Tubuhnya berada di dalam selimut yang sama. Suasana kamar benar-benar hening.
Pandangannya tertuju ke pakaian yang dia kenakan. Kaos putih di tubuhnya. Lalu ia membuka selimut dan melihat celana yang dia kenakan. Celana panjang pun sudah berganti menjadi celana selutut.
Alan duduk dan kembali mengamati sekitar. Korden jendela dibuka lebar hingga matahari dari luar tampak begitu cerahnya. Alan mengesah, sepertinya sudah lama sekali dia tertidur sampai-sampai tubuhnya terasa pegal sekali. Sakit di kepalanya sudah reda. Dia bisa bernafas lega sekarang.
Dia memijit-mijit sebentar caruk lehernya.
Kletek!
Terdengar pintu kamar mandi di putar, kemudian Anna keluar dari kamar mandi. Gerakan tangan Alan yang memijit pun berhenti menatap Anna yang melenggang dengan handuk melilit tubuh, rambut basah tergerai panjang setelah keramas.
Manik mata Alan mengawasi tubuh Anna yang kenyal nan bercahaya. Alan menelan saliva. Dia merindukan wanitanya.
Anna tersenyu menatap Alan. Alan terdiam dan menegang menatap senyuman itu. Kepalanya diingatkan dengan satu hal, ia harus menjadi Alan yang buruk di depan Anna supaya Anna tidak begitu terluka saat dia tinggalkan, sehingga Alan tidak membalas senyuman Anna. Dia menampilkan ekspresi datar saja, bahkan kini berpaling seakan tidak mengharapkan Anna.
Tanpa peduli dengan tatapan cuek Alan, Anna melangkah mendekati ranjang dengan gemulai.
“Halo, sayang! Selamat pagi!” Anna berseru gembira.
Alan tidak peduli. Dia hanya mengembalikan pandangan ke arah Anna dengan tatapan dingin saat merasakan ujung kasur terayun akibat lutut Anna yang naik ke kasur.
Sontak tubuh Alan terasa panas dingin melihat handuk yang tersingkap saat Anna maju dengan posisi berlutut.
Sungguh Alan tidak bisa menahan diri melihat pemandangan di depan matanya. Anna adalah satu-satunya wanita yang membuatnya lumpuh hanya dengan menatap saja, bagaimana mungkin Alan akan kuat jika begini. Dia bahkan menahan nafas saat Anna sudah duduk di hadapannya.
TBC