Holy Marriage

Holy Marriage
Kucing-kucingan s2



“Hidup Cuma sekali, Alan. Jangan sia-siakan kesenangan ini.” Naga menempelkan ponsel ke telinga. Saat telepon tersambung, ia berkata, “Alta, temui aku sebentar! Satpam akan mengantarmu.”


Naga memutus telepon. Kemudian menatap Alan intens. “Sepanjang aku melalang buana kemana-mana, kuakui kau adalah pria paling tampan yang kukenal. Kau sempurna, Alan. Jangan terlalu membatasi diri. Kau sendiri yang rugi.”


Pintu ruangan otomatis bergerak, membelah dan bergeser ke arah kiri dan kanan saat seorang gadis melintasinya.


Alan membelalak, terkejut melihat gadis berkemeja putih dengan rok sepan selutut itu memasuki ruangan. Jantungnya deg-degan sampai-sampai ia menegakkan punggung. Namun detik berikutnya punggungnya kembali menyandar di sandaran kursi saat menyadari bahwa gadis itu bukanlah Anna. Ya, gadis berpakaian rapi itu mirip sekali dengan Anna. Alan sampai terkejut dan mengira kalau itu adalah Anna.


Huh… Anna itu kan berjilbab, mana mungkin Anna menguraikan rambutnya di tempat begini. Saking miripnya gadis itu dengan wajah Anna, Alan sampai terkecoh. Wajar, wajah gadis itu benar-benar mirip dengan Anna. Bibirnya, hidungnya, matanya, bahkan senyumnya juga mirip Anna. Kenapa Tuhan menciptakan makhluk yang hampir sama? Meski mirip, secara fisik, mereka terlihat sedikit berbeda.


“Laporan tadi mana?” tanya Naga pada gadis itu.


“Ini, Pak.” Gadis itu menyerahkan laporan seakan-akan sudah mengerti laporan yang dimaksud atasannya.


Naga membaca sekilas kertas yang baru saja ia terima. Pandangannya kemudian terarah ke Alan.


“Alan, kenalin, ini Alta. Pegawai di kantorku.” Naga mengerlingkan sebelah mata ke arah Alan.


Alan mengerti maksud kerlingan itu. Naga benar-benar nakal.


Alta menjulurkan tangan memperkenalkan diri kepada Alan. Disambut oleh Alan dengan menyebutkan namanya.


Naga mempersilahkan gadis itu pergi setelah urusannya dianggap selsai.


“Bagaimana, Alan? Kau tertarik dengan gadis itu? Dia mirip istrimu, bukan?” Naga mendekati Alan lalu menyenggol lengan temannya itu. “Sengaja aku carikan yang seperti dia, aku tahu seleramu nggak akan berpaling dari istrimu. Kurasa pilihanku nggak akan salah.” Naga mengirim sebuah nomer ke ponsel Alan. Kemudian ia meraih ponsel Alan dan menekan tanda save untuk memasukkan nomer tersebut ke daftar kontak ponsel Alan.


“Suatu saat kau pasti membutuhkan gadis itu. Telepon dia kalau kau membutuhkannya. Alta.” Naga berjalan keluar ruangan sambil cengengesan.


***


Malam itu, pukul sebelas Alan baru pulang ke rumah. ia langsung masuk kamar dan melihat Anna sudah tidur di ranjang. Alan terpaksa mengerjakan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh Anna sendirian. Ia tidak tega membangunkan Anna hanya untuk mengurusi dirinya. Pria itu meletakkan tas laptop ke meja. Kemudian membuka dasi, jas kerja, kemeja dengan tangannya sendiri. Ia juga melepas sepatu dan kaos kaki dengan gerakan malas akibat tubuhnya yang terasa lelah dan letih. Ia melempar sepatu yang didalamnya telah dionggokkan kaos kaki ke bawah meja. Kemudian ia mengenakan celana pendek dan kaos yang sudah di sediakan oleh Anna di kursi.


Ponsel yang dia letakkan di nakas berdering. Alan menghambur dan menggeser tombol hijau dengan gerakan cepat, takut Anna akan terbangun akibat deringnya yang keras. Alan melirik Anna yang terbaring dengan mata terpejam, ia kemudian melangkah menuju balkon untuk menjawab telepon.


Anna yang sebenarnya sudah terjaga sejak Alan memasuki kamar akibat suara pintu yang dibuka pun membuka matanya. Ada apa dengan Alan? Kenapa dia mesti sampai ke balkon hanya untuk menjawab telepon?


Ya Tuhan, jauhkan aku dari segala bentuk prasangka. Anna mengesah dalam hati.


Sepuluh menit berlalu dan Alan masih berteleponan.


TBC