
Pandangan Alan beralih kepada Alata. “Alta, keluarkan surat yang kukirimkan kepadamu melalui email pagi tadi. Sudah kau print, kan?”
“Sudah, Pak!” jawab Alta sambil menyerahkan selembar map yang sudah dia siapkan. “Ini, Pak.”
Alan menggeser map dan membukanya. Dia mengernyit melihat isi map. “Hei, apa ini?”
“Kenapa, Pak?” Alta sontak menoleh ke arah map yang dibuka oleh Alan. “Eh, maaf, Pak. Sepertinya saya salah.” Muka Alta memerah melihat kertas bergambar naruto. Sepertinya dia tadi salah menarik kertas saat memasukkannya ke dalam map. Malah gambar tangannya yang diberikan kepada Alan. Baru kali ini Alta melakukan kesalahan. Bahkan kesalahan dilakukan di saat-saat penting seperti itu. Mukanya malu sekali.
Alta buru-buru mengganti kertas yang dimaksud oleh Alan dengan kertas yang baru saja dia ambil dari dalam tas.
Alan mengangguk. Dia menatap sekilas kertas yang sudah diberi stempel. Lalu membubuhkan tanda tangan di kertas itu. dia menyorong kertas tersebut ke arah Reno.
Dengan seulas senyum, Reno menanda tangani kertas pengangkatan jabatan tersebut.
Setelah itu, perbincangan dilanjutkan mengenai pembahasan pekerjaan. Pembicaraan berjalan dnegan hangat dan normal. Sampai akhirnya Alan menutup pertemuan dan dia keluar ruangan diikuti oleh Alta.
Alan berhenti saat memasuki ruangan sekretaris. Dia menoleh ke arah Alta. “Ikut ke ruanganku!” titahnya.
Alta mengangguk dan mengikuti Alan. Dia duduk di kursi depan bosnya.
“Mulai hari ini, kamu laporkan juga kepada Reno seluruh jadwal kerjaku supaya Reno mengerjakannya jika aku tidak bisa menghandlenya,” kata Alan.
“Tentu, Pak.” Alta mengangguk. Dia kemudian memperhatikan bibir Alan yang sedikit memucat. Pria di hadapannya itu kini memejamkan mata dengan dahi bertaut. Alta pun sampai ikut mengerutkan dahi melihat bosnya tampak seperti menahan sesuatu.
“Hari ini Bapak membatalkan semua jadwal kerja dan Bapak menyerahkan pekerjaan kepada Pak Reno. Apakah ini menyangkut rasa sakit yang Bapak derita?” tanya Alta masih dengan dahi mengernyit.
Alan tidak menjawab. Dia menopang kepalanya dengan tangannya. Matanya masih terus terpejam. Terdengar erangan dari mulut Alan.
Mendengar itu, Alta segera bangkit berdiri, memutari meja. Kemudian meraih lengan Alan. “Pak, kita ke rumah sakit saja. Biar saya cari bantuan.”
“Tidak. Jangan bawa aku ke rumah sakit. Percuma!” lirih Alan lebih speerti bisikan.
“Tapi..”
Alta menarik nafas dalam-dalam. “Bagaimana kalau saya ambilkan air putih untuk Bapak?”
“Ya. ambilkanlah!” Alan menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
Alta menghambur keluar ruangan, lalu kembali dengan membawa segelas air putih. Dia menyerahkannya kepada Alan, mendekatkan bibir gelas ke bibir Alan dengan hati-hati, membimbing pria itu meneguk minuman dalam gelas.
Alan meneguk beberapa teguk saja.
Sial! Air minum tumpah saat Alta hendak menjauhkannya dari mulut Alan akibat tangan Alan yang tanpa sengaja menyenggol gelas di tangan Alta.
“Aduh, baju Bapak malah jadi basah.” Alta mengambil tisu untuk membersihkan kemeja di bagian dada Alan.
“Tidak perlu!” Alan mendorong tangan Alta.
Alta segera menjauh dari Alan. “Pak, Bapak tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin Bapak masih bertahan dengan kondisi seperti ini? Bapak sering mengatakan ke saya kalau Bapak sangat mencintai istri Bapak, lalu kenapa Bapak tidak jujur saja ke istri Bapak mengenai hal ini?”
Alan menarik nafas dalam-dalam, setelah rasa sakit di kepalanya sedikit menghilang, dia pun membuka mata. dia diam saja.
“Pak, tidak ada wanita yang malah membenci suaminya saat suaminya sedang menderita sakit. Apa Bapak tidak mau didampingi istri saat Bapak dalam keadaan tidak sehat? Bapak itu kritis, Pak.”
“Aku tidak apa-apa.” Alan menarik nafas lagi. “Kamu tidak perlu memaksaku ke rumah sakit. Aku sudah melakukan pengobatan rutin, beberapa hari terakhir aku juga menghabiskan waktuku bermalam di klinik khusus dokter pribadiku. Dan sudah sering kukatakan kepadamu kalau aku tidak akan mungkin jujur pada Anna, istriku. Karena dia harus menjadi kuat saat aku meninggalkannya, dia tidak boleh merasa kehilangan dan terpuruk saat aku meninggalkannya.”
TBC
.
.
.