Holy Marriage

Holy Marriage
Gagal s2



“Mas Alan, handukmu melorot,” jerit Anna. Meski ia sudah terbiasa dengan fisik Alan, namun tetap saja mukanya memerah menatap suaminya dalam keadaan demikian hingga ia langsung emmalingkan wajah.


Alan menatap ke bawah. Tangannya dengan cepat meraih handuk lalu kembali melilitkannya ke pinggang. “Nggak pa-pa. kamu juga udah sering lihat.” Kemudian Alan mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Anna.


Benar-benar istri cerdas. Anna tahu banget jenis pakaian apa yang Alan butuhkan dan Alan sukai di saat libur begini. Semua pilihan Anna, menjadi pilihan terbaik bagi Alan.


Anna memanggil Andra, memerintah supaya Andra membawa koper ke mobil dan Andra mematuhi.


“Kita berangkat sekarang, Mas?” tanya Anna saat Alan sudah selesai mengenakan pakaiannya.


“Oke, sayang! Tapi tunggu aku pakai jaket dulu.” Alan meraih jaket Dering ponsel membuat tangan Alan langsung menyambar benda pipih itu.


“Halo…” Alan lama terdiam mendengar suara di seberang. “Ya ya.. Oh… Oke.” Alan menatap Anna dengan ekspresi berubah drastis. “Maafin aku sayang. Acara batal. Aku ngak bisa temenin kamu liburan hari ini.”


Ekspresi Anna langsung berubah. Antara kecewa dan sebal. Selalu saja begini. Entah bagaimana Anna harus meluapkan perasaannya. Beberapa minggu yang lalu, Alan menjanjikan akan liburan ke luar kota, tapi batal karena urusan kerjaan. Sebulan yang lalu juga terjadi kejadian yang sama. Mau sampai kapan Anna dibuat kecewa.


Anna menghela nafas. Tapi ia harus tahu diri, harus bersabar dan memahami kondisi suaminya yang memang menjadi orang penting di perusahaannya. Anna tidak boleh egois. Kekesalannya mungkin manusiawi. Tapi ia tidak boleh protes, ini sudah konsekuensi sebagai istri Alan William.


“Kamu marah?” Alan menyentuh pipi Anna dengan telapak tangannya.


“Enggak.” Ekspresi Anna masih tetap sama, merengut. Sebenarnya Anna tidak ingin menampilkan ekspresi seperti itu, tapi batinnya tak bisa dibohongi. Jujur saja ia kesal karena harus menelan kekecewaan berkali-kali. Entah ia harus kesal pada siapa. Mungkin pada situasi. Bukan salah Alan jika pria itu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Itu sudah menjadi bagian dari kehidupan Alan yang menjalankan tugas sebagai amanah orang tuanya.


Anna mengangguk berusaha memahami.


“Kalau kamu mau, pergilah liburan bersama Azzam. Andra akan membawamu.”


“Aku nggak mau.”


Alan mengernyit.


“Kali ini aku ijinkan kamu pergi tanpa aku,” ucap Alan berusaha menghibur.


“Aku nggak mau.” Anna menegaskan kalimatnya. “Aku hanya mengharap bisa bersama-sama denganmu di luar sana, Mas Alan.”


“Oke oke, akan kucari waktunya nanti. Sekarang aku harus pergi. Jaga diri baik-baik di rumah. Kalau mau kemana-mana, kabarin aku. Suruh Arni dan Rina ngejagain kamu dan Azzam dengan baik. Jangan sampai telat makan. Kalau terjadi apa-apa padamu atau pun Azzam, aku akan ganti asisten rumah tangga dengan yang baru.”


Anna hanya bisa terdiam menatap kepergian Alan. Sudah memuncak kebahagiaan yang ia rasakan saat hendak pergi liburan dengan suami, namun kebahagiaan itu lenyap seketika waktu. Sungguhpun demikian, Anna harus bisa memahami kondisi suaminya.


TBC