
Herlambang menyesal kenapa tidak merundingkan masalah itu terlebih dahulu kepada Angel sebelum mengambil keputusan. Keyakinannya akan kepatuhan Angel membuatnya percaya sepenuhnya kalau Angel tidak akan menolak kemauannya. Tapi ternyata ia salah. Kenyataan tidak sesuai dengan harapannya.
“Anna, antara Ayah dan Pak Wiliam sepakat dengan pernikahan ini sejak bertahun-tahun lamanya. Nggak ada alasan Ayah menolak kemauan Pak Wiliam karena Ayah merasa berhutang budi padanya. Pak Wiliamlah yang memberikan modal pada usaha yang Ayah jalankan sekarang. Dialah yang membuat Ayah kembali bangkit setelah bertahun-tahun usaha ayah terpuruk. Dan Ayah merasa harus mengikuti keinginannya ini. Bukan maksud Ayah menjadikan Angel sebagai alat untuk berbalas budi, tapi tidak ada yang salah dengan kemauan Pak Wiliam. Pak Wiliam berasal dari keluarga baik-baik. Jika Ayah membatalkan kesepakatan yang sudah sekian lama kami buat, mau ditarok mana muka Ayah nanti? Apakah kamu tega membiarkan ayah merasa malu karena membatalkan kesepakatan yang sudah dijalin bertahun-tahun lamanya? Walau bagaimana pun, pernikahan ini harus berlangsung.”
Angel masih menangis sesenggukan di posisi yang belum berubah, bersimpuh di lantai.
Anna merengkuh bahu Angel dan membawa ke rangkulannya, berusaha menenangkan.
“Apapun yang terjadi, pernikahan ini harus tetap dilaksanakan, harus! Maafkan Ayah,” sambung Herlambang sebelum akhirnya keluar ruangan.
Bahu Angel terlonjak mendengar suara debuman pintu yang tertutup.
Anna hampir menangis menatap Kakaknya yang tersedu-sedu. Pilu sekali ia melihat tangisan itu. tidak pernah Anna melihat kesedihan Angel separah sekarang. Bagaimana tidak? Perpisahan dengan orang yang Angel cintai sudah menanti di depan mata. Angel terpukul.
Andai Anna yang berada di posisi Angel, mungkin Anna sudah melakukan hal-hal yang jauh lebih ekstrim dibanding Angel. Lebih baik hidup bersama orang yang tidak dicintai, dari pada berisah dengan orang yang dicintai. Itu pasti sangat menyakitkan. Wajar Angel merasa sangat terpukul. Bahkan sudah banyak mimpi yang Angel dan Collin bangun untuk bisa hidup bersama, dan kini tiba-tiba sirnah dalam waktu seketika.
“Anna, hiks...”
“Iya, Kak! Anna di sini bersama Kakak!” Anna memeluk kakaknya.
“Kakak nggak kuat. Kakak nggak mau berpisah dengan Collin. Kakak sangat mencintainya.” Suara Angel disela sedu sedan.
“Kakak pasti kuat.”
“Collin terllau berharga untuk kakak lepasin. Collin adalah harapan masa depan kakak. Kakak nggak bisa hidup tanpa dia. kami saling mencintai. Tapi kenapa ini harus terjadi pada kami? Kakak nggak sanggup jika harus berpisah dari Collin. Nggak sanggup, Ann. Ini sangat menyakitkan.”
Kepala Angel ambruk di bahu Anna, seakan ia tidak kuat lagi menopang kepalanya sendiri. Tangisnya kian menjadi-jadi.
“Aku yakin nggak ada wanita sekuat kakak. Makanya kakaklah yang diberi ujian seperti ini,” lanjut Anna.
Angel tidak lagi bisa mengomentari. Ia larut dalam tangisannya.
Anna merasa sedih mendengar isakan tangis kakaknya. Isakan itu terasa menusuk hatinya. Inilah kali pertamanya ia mendengar isakan sepilu itu keluar dari mulut Angel.
Oh...
Ribet juga jatuh cinta jika akhirnya harus berpisah. Anna tidak bisa membayangkan seperti apa rasa sakit yang Angel rasakan sekarang.
***
TBC
Jangan lupa klik like
Love,
Emma Shu