Holy Marriage

Holy Marriage
Permintaan Gadis Lain



Anna mengikuti Cintya yang melenggang keluar ruangan dan berjalan melewati beberapa pintu.


“Kita ngobrol di ruangan ini aja, eh enggaklah. Di ruangan lain aja, deh. Di ruangan itu nggak asik, catnya terlalu norak. Di mana ya enaknya?” Cintya beberapa kali berhenti di depan pintu, namun kemudian berjalan lagi. “Oke, kita ngobrol di ruangan ujung sana aja, di sana lebih nyaman.”


Anna mengikuti. Cintya sudah sangat hafal dengan kantor Alan. Gadis itu membuka pintu dan memasuki ruangan seperti sudah sangat familier. Ia kemudian duduk di sofa. Pandangan Anna berkeliling mengamati seisi ruangan. Tebak Anna, ruangan itu didesain khusus untuk bersantai.


“Ayo, duduk!” tukas Cintya membuat Anna langsung menatap Cintya yang tersenyum ramah ke arahnya.


Anna menghempaskan tubuh di sofa depan Cintya, meja menjadi pembatas.


“Jadi kamu istrinya Alan?” tanya Cintya sambil menyilangkan kaki hingga rok pendeknya tersingkap dan pahanya terpampang nyata.


“Ya. Apa Alan pernah cerita soal aku?”


“Ya. Dia sekedar ngasih tau kalau kamu adalah istrinya. Dan aku nggak boleh cemburu karena antara kamu dan dia terikat dalam pernikahan hanya atas alasan yang sama-sama menguntungkan. Dia nggak mencintaimu, kamu juga nggak mencintainya. Nggak ada alasanku untuk mencemburuimu.” Cintya bicara dengan mata berbinar penuh kebahagiaan. “Sebenarnya aku ingin bilang ke Alan kalau dia nggak boleh menghamilimu, tapi ternyata Tuhan sangat baik sama aku. Justru kamu yang ngelarang dia untuk menyentuhmu, tentu aja aku sangat bahagia dengan kabar itu. Alan memintaku supaya tidak mencemaskan hubungan kalian.”


Anna tersenyum. Tidak tahu harus bahagia atau bersedih, suaminya harus berpacaran dengan wanita lain. Tapi apa yang ia jalani itu sudah ia setujui sejak awal. Ah, ambil positifnya saja.


“Anna, makasih ya udah ngasih aku kesempatan untuk merasa sebahagia ini.” Cintya mengusap punggung tangan Anna dua kali.


“Tentu. Alan adalah cowok paling baik yang pernah kukenal. Dia perhatian, penyayang dan romantis. Dia juga nggak pelit. Royal banget sama aku. Apa aja dia beliin. Dan yang paling kusuka, dia dermawan. Dia sering berbagi sama orang-orang yang nggak beruntung. O ya Anna, boleh aku minta sesuatu?”


“Apa itu?” Anna benar-benar butuh air minum untuk mengaliri tenggorokannya yang terasa kering. Cintya yang banyak bicara sejak tadi, tapi malah tenggorokannya yang kering kerontang.


“Aku mencintai Alan, dan kamu nggak punya cinta ke dia, kan?”


Anna mengangguk menyadari apa yang dikatakan Cintya itu benar adanya.


“Ijinkan aku menikah siri dengan Alan. Kami hanya ingin hidup bahagia di atas rasa cinta yang selama ini udah kami bina bertahun-tahun lamanya. Kamu tetap jadi istri sahnya Alan di mata keluarga besar Alan, juga di mata semua orang, dan aku hanya akan menikah siri tanpa diketahu siapapun. Kamu tentu ingin membahagiakan ayahmu, kan? Jalani aja pernikahanmu itu dengan Alan, jangan pikirkan aku.”


Anna menghela napas. Kali ini ia benar-benar terjebak dalam situasi sulit. Artinya Cintya ingin memperalatnya supaya Cintya bisa berbahagia dengan Alan dan menikmati harta kekayaan Alan. Jika Anna bercerai dengan Alan, tentu Cintya tidak bisa menikmati kekayaan Alan sepeser pun karena Alan akan dimiskinkan oleh Papanya. Lalu Anna harus jawab apa?


“Kamu kan nggak punya perasaan apa-apa sama Alan, tentu kamu nggak pa-pa kalau Alan nikahin aku, kan?” Cintya tersenyum menatap Anna, sementara tangannya mengelus pungung tangan Anna.


TBC