Holy Marriage

Holy Marriage
Perdebatan



Alan menghela nafas kasar. “Oke, aku tau aku salah. Tapi inilah resiko yang harus kita hadapi dengan hubungan secara sembunyi-sembunyi. Jangan ambil resiko kalau nggak mau semuanya hancur.”


“Di posisi seperti ini, aku juga yang salah. Aku bosan, Alan. Aku bosan dengan permainan ini. Aku ingin kejelasan.”


“Keberanianmu ini bisa merusak rencana kita, paham?”


“Ya, aku paham. Bukan aku aja yang hancur, kamu bahkan akan lebih hancur. Aku hanya ingin menuntut janji-janjimu. Apa itu salah? Aku punya hak, Alan. Jangan lupakan itu!”


Anna mematung menjadi penonton. Perseteruan mereka membuat Anna merasa semakin bersalah. Dialah penyebab pertengkaran itu terjadi.


“Disaat kita ada urusan penting menyangkut masa depan kita, kamu malah mengabaikanku. Memangnya kamu kemana sampai harus mengingkari janjimu?” sengit Cintya semakin gondok.


“Cintya, aku yang salah. Aku sakit dan orang tua Alan terpaksa harus menyuruh Alan mengantarku ke dokter. Itu terpaksa Alan lakukan,” terang Anna berusaha meredam perselisihan.


Pandangan Cintya ke Anna berubah teduh. Ia kemudian tersenyum. “Anna, kamu nggak salah. Udah seharusnya Alan mengantarmu ke dokter, mungkin Pak William akan marah jika Alan tidak mematuhinya. Aku paham itu.” kemudian pandangan Cintya beralih kepada Alan. “Aku hanya benci kebohongan, juga ingkar janji. Jangan membuat janji kalau nggak bisa memenuhinya.”


Cintya melenggang pergi.


Alan memaku di tempat. Pandangannya kosong ke depan.


Hati Anna terenyuh melihat kesedihan yang menyemburat di wajah Alan. Entah apa yang sekarang sedang Alan rasakan. Mungkin ia terpukul atas sikap wanita yang ia cintai itu, mungkin juga ia terluka dan merasa sangat bersalah.


Bukan salah Cintya jika ia marah dan menjauhi Alan. Wanita mana yang tidak kesal jika disuruh menunggu lama dan janji yang sudah disepakati dikhianati. Andai saja Anna yang berada di posisi Cintya, mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Kesal, marah dan berakhir dengan ngambek minta dibujuk. Anna yang salah, sudah membuat semuanya menjadi kacau. Tapi bukankah itu yang ia inginkan? Ketika situasi sudah berpihak padanya, anehnya ia justru merasa bersalah dan sangat egois.


“Kamu nggak mengejarnya? Dia pasti ingin dibujuk,” lirih Anna ragu-ragu, setengah hatinya tidak ingin Alan menuruti kata-katanya, namun setengah hati lainnya tertuntut untuk bertanggung jawab atas kekacauan yang sudah ia buat.


“Naiklah. Cepat istirahat, kamu butuh istirahat yang banyak supaya anemiamu lekas sembuh,” tutur Alan kemudian lanjut berjalan menuju kamar.


Anna lari ngacir mengikuti Alan. Ia melihat Alan membaringkan tubuh di ranjang. Muka pria itu masih terlihat sama, frustasi.


“Sebenarnya rahasia apa yang dimaksud Reno?” tanya Anna.


“Jangan menambah beban pikiranku, Anna.”


“Aku perlu tahu, sepertinya rahasia itu menyangkut diriku.”


“Jangan tanyakan itu lagi!” Alan menatap Anna sangar.


Anna pun membungkam. Mana mungkin ia berani mengajukan pertanyaan lagi jika tatapan Alan sudah seperti mata elang. Anna menuju lemari, membuka pintunya dan mencari pakaian tidur.


“Loh, isi lemari kok tinggal sedikit? Bajuku pada kemana?” Anna terperangah menatap beberapa helai pakaian yang terisisa di gantungan.


“Pakaianmu udah dipindahin, tapi nggak semua. Masih ada sisanya, bukan?” Alan berbicara dengan mata terpejam, satu lengannya menutup kening.


“Dipindahin kemana? Aku diusir?” Anna mendekati Alan dengan jantung yang berdegup kuat. Ia tidak rela jika harus keluar dari rumah itu, bukan karena sudah merasa nyaman tinggal di sana. Namun ia tidak ingin jauh dari Alan.


“Ya, kamu diusir.”


TBC