Holy Marriage

Holy Marriage
Baper



Anna melihat punggung Alan bergetar. Cepat-cepat Anna mengeluarkan kepala Alan dari bajunya dan ia melihat suaminya itu menangis. Anna melotot melihat pria itu menunduk sambil mengusap air mata.


Anna heran, baru saja pria itu tertawa gembira, sekarang sudah menangis seperti baru kena seruduk kerbau.


Alan berdiri dan memeluk Anna. Isaknya terdengar keras di telinga Anna.


“Sebentar lagi aku akan jadi seorang Ayah.”


Oouh… rupanya Alan sedang baper. Anna baru sadar. Dan ia membiarkan saja pria itu melakukan aksi peluknya sampai puas.


“Setelah sejauh ini hidupku kutempuh, akhirnya apa yang kuinginkan terwujud. Allah benar-benar adil dan sayang sama aku. Dia meridhaiku menikah dengan perempuan yang selama ini sangat aku inginkan, Dia juga meridhaiku memiliki seorang putra. Aku terharu.”


Anna tersenyum di dada bidang Alan. Detik berikutnya ia memberontak ingin lepas dari pelukan Alan.


“Lepasin, Mas.”


“Enggak.” Alan masih terus memeluk. Ia mencium caruk leher Anna dan menghisap aroma wangi yang selama ini ia sangat sukai. Shampo aroma bunga.


“Aku sesak napas. Perutku bisa kempes kena tekan perutmu.”


Alan buru-buru melepas pelukan dan menatap Anna cemas. Ia menjauhkan badannya dari badan Anna.


“Perutmu nggak kenapa-napa, kan?”


“Peluknya kekencengan,” protes Anna kemudian menghempaskan tubuh ke ranjang.


“Maaf.” Alan agak malu dan menyusul Anna naik ke ranjang. Ia memiringkan badan dan berhadapan dengan Anna yang juga miring ke arahnya. Ia menyatukan jari-jarinya dengan Anna. Kembali mereka bertukar pandang.


“Aku bahagia, Anna.”


“Aku juga.”


“Aku juga.”


“Apa nggak ada kata-kata lain selain ‘aku juga’.”


Anna terkikik geli.


“Ya udah, kamu istirahat. Bobok.”


“Hmm.” Anna memejamkan mata. Ia merasakan kecupan di kening.


***


Alan menggaruk-garuk kepalanya dengan ekspresi cemas. Sebentar-bentar melongokkan kepala mengintip ke arah kaca bening yang di dalamnya ada sembilan ibu hamil sedang melakukan gerakan senam. Yang mana gerakan senam ditujukan untuk memperkuat otot tubuh saat menyongsong masa kelahiran. Senam itu juga bisa membantu mengurangi kram kaki, kaki bengkak di masa kehamilan.


Sebelum melakukan senam tersebut, Alan sudah membawa Anna konsultasi ke dokter keluarga, dan dokter memperbolehkan Anna melakukan gerakan senam ibu hamil. Tentu saja Alan tidak merelakan istrinya senam jika tanpa ijin dokter, karena gerakan senam bisa saja membahayakan janin pada kondisi tertentu.


Alan memperhatikan dari jauh gerakan Anna yang sedang duduk nyaman di atas karepet dengan badan tegak, kakinya merentang lebar dengan punggung tetap dalam keadaan tegak. Setelah itu dia mencondongkan badan ke depan pelan-pelan sambil mengarahkan lengan ke depan. Dia menahan posisi itu hingga beberapa detik sesuai dengan panduan sang pemandu.


Pemandu menjelaskan tujuan dari gerakan itu adalah untuk merelaksasi otot-otot pada punggung dan juga paha dalam agar tidak mudah pegal saat usia kandungan sudah sembilan bulan. Gerakan itu juga merupakan salah satu cara mengatasi sakit pinggang saat kehamilan sudah besar.


Setelah itu, pemandu memperagakan bermacam-macam gerakan yang diikuti oleh ibu-ibu hamil. Mulai dari senam pada posisi tidur, senam untuk melatih otot dada, dan masih banyak lainnya. Alan mulai tidak sabar. Apa lagi ia melihat ada seorang lelaki yang tentunya adalah suami dari salah satu para ibu-ibu di dalam, muncul dan duduk di sisinya. Lelaki itu pasti sedang menunggu istrinya, sama seperti Alan.


TBC