
Alan dan Anna duduk bersebelahan di sebuah meja yang sudah diboking, keduanya berpakaian sangat elegan. Alan sengaja membeli baju couple untuk pertemuan malam itu. Colin dan Angel duduk di kursi depan mereka.
Kebahagiaan di wajah Angel memancar cerah, sepertinya pertemuan kali ini menjadi pertemuan berharga baginya. Alasan utama di balik kebahagiaannya hanya satu, kehadiran Colin di sisinya.
Angel bisa keluar rumah malam itu berkat Anna. Ya, Anna dan Alan yang menjemput Angel ke rumah. Jika bukan Anna yang menjemput, tentu Herlambang tidak akan mengijinkan Angel keluar malam. Setibanya di kafe, Colin sudah menunggu di sana.
Begitu hidangan disajikan pelayan, mereka berempat langsung menyantap.
“Doain kami cepet nyusul, biar kita iparan,” ujar Colin, kini ia melirik gadis di sebelahnya.
“Kalau udah halal, pasti kami nggak kucing-kucingan gini lagi.” Angel menanggapi Colin. “Alan, Anna adalah adik yang sangat istimewa. Udah banyak yang Anna lakukan untukku. Pengorbannya benar-benar luar biasa. Asal kamu tau, yang awalnya dijodohin sama kamu itu aku. Tapi aku udah punya Colin. Nggak mungkin Colin kutinggalin. Dan Anna rela melepas masa single-nya demi menyelamatkan hubunganku dengan Colin, juga demi nama baik Ayah di depan Pak Wiliam. Pengorbanannya itu membuatku sangat terharu. Alan, tolong jaga Anna baik-baik, jangan kecewakan adik yang luar biasa ini.”
Alan tersenyum dan mengangguk. “Tentu. Aku pasti jagain adikmu dengan sangat baik.” Alan mengusap pucuk kepala Anna. “Kamu benar, Anna sangat istimewa.”
Anna menatap Alan, benarkah apa yang Alan katakan? Anna istimewa bagi Alan? Lihatlah, Alan begitu tenang dan adem saat mengucapkannya. Atau itu hanya omong kosong sekedar untuk menyenangkan Angel? Tidak mudah menerka tentang Alan, pria itu terlalu sulit ditebak. Yang jelas, Anna merasa senang disebut sebagai manusia istimewa oleh Alan.
“Laki-laki didominasi dengan logika, dan perempuan didominasi oleh perasaan. Jadi lo mesti paham banget sama makhluk yang namanya perempuan,” sahut Colin. Sekarang Angel dan Colin lebih seperti guru yang sedang mendidik murid-muridnya. “Intinya, saling memahami satu sama lain.”
Anna dan Alan merasa ada sesuatu yang berdenyut dalam jantung saat mendengar kalimat yang diucapkan Angel dan Colin, perjalanan rumah tangga mereka jauh dari apa yang dikatakan Angel, juga Colin.
Suasana mendadak terasa serius. Dan Alan berusaha mengubahnya dengan berkata, “Colin, setelah urusanmu di Kalimantan beres, buruan lamar Angel. Jangan kelamaan. Entar Pak Haji keburu ngejodohin Angel dengan anak Pak Haji lainnya, berabe kan?” Alan tertawa setelahnya.
“Pasti, dong. Secepatnya kulamar Angel,” sahut Colin penuh keyakinan. “Lagi pula aku udah ajukan surat resign di kantorku sesuai permintaanmu, tinggal nunggu uang pesangon.”
“Akan kusediakan satu jabatan di perusahaan tempatku bekerja. Kita akan jadi rekan kerja,” ujar Alan dan langsung disambut senyum lebar oleh Colin. “Aku tau dimana skillmu.”
Colin tampak bangga mendapat tawaran itu. Beruntung ia memiliki sahabat seperti Alan. Yang begitu besar menghargai sahabat dengan caranya.
TBC