
Alan menyerahkan kertas itu kepada Anna tanpa ekspresi.
“Itu udah jadi kesepakatan kita. Jangan protes.” Anna tertawa cekikikan. Menang.
“Jadi selama kita nikah nggak ada istilah ****?” Alan menatap Anna dengan dahi bertaut.
Mendapat tatapan itu, Anna sedikit gugup lalu berkata, “Aku masih pengen sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.”
Alan mengangguk. “Aku sama sekali nggak berniat melakukannya malam ini denganmu. Aku tadi hanya ingin sedikit bersenang-senang. Setelah pernikahan ini, aku akan memulangkanmu ke rumah orang tuamu. Meski kita udah menikah, bukan berarti kita tinggal serumah.”
Anna mengangguk girang. Akhirnya yang ia khawatirkan tidak terjadi. Ia masih bisa hidup dan tinggal bersama Ayah dan Angel. Ia tidak perlu menyesuaikan diri dengan keglamouran hidup Alan.
“Kita akan tinggal serumah setelah dua tahun kemudian.”
“Oke, aku setuju banget. Tapi apa alasannya? Kenapa ada peraturan itu?”
“Kamu masih terlalu muda, saat ini prioritasmu adalah sekolah. selesaikan tugasmu itu. Orang tua kita akan kuberi pengertian soal ini. Mereka pasti mengerti karena kamu masih harus memikirkan sekolahmu, aku akan menjemputmu disaat usiamu udah bertambah dewasa.”
Anna lega. Dua tahun, cukup untuknya menyiapkan mental.
“Berarti LDR-an.”
“Beda rumah, bukan berarti kita nggak berhubungan.”
“Berhubungan gimana maksudnya?” Anna menelan, agak gugup.
“Maksudku, kita akan tetap sering bertemu. Aku akan menjemputmu disaat aku membutuhkanmu, ada masanya kamu harus mendampingiku. Paham?” Kali ini nada bicara Alan kembali tegas.
Anna mengangguk.
“Pintar!” Alan mengusap pucuk kepala Anna, lalu kembali berbaring.
Alan menaikkan alis. Sepertinya Alan memang tidak suka banyak bicara, ia terkesan diam jika tidak ditanya.
“Aku ngerasa nggak puas dengan jawabanmu waktu itu, dan aku perlu jawaban yang lebih pasti.”
“Soal apa?” tanya Alan.
“Apa alasanmu menyetujui perjodohan kita? Jaman begini, mana ada anak nurut sama orang tua kayak kebo dicucuk hidungnya, apalagi ini menyangkut teman seumur hidup. Sementara kalau dilihat dari wajah, fisik dan kekayaan yang kamu punya, tentunya ada ribuan cewek yang kepincut sama kamu. Dan kamu lebih memilih dijodohin? Sama aku lagi, cewek yang nggak punya kelebihan apa-apa.”
“Kalau begitu bersyukurlah.” Alan menatap Anna serius.
Setiap kali mendapat tatapan serius dari mata gelap Alan, Anna selalu salah tingkah. Ia memalingkan wajah.
“Anna!” Alan memiringkan tubuh, menopang kepala dengan satu tangan.
“Ya?” Anna mendadak gugup ditatap Alan seintens sekarang.
“Intinya kamu rela terjebak dalam pernikahan ini hanya karena kamu kecewa sama mantan pacarmu, dan kamu ingin memanas-manasinya?” tanya Alan.
“Tepatnya begitu.”
“Alasan nggak logis. Apa begini labilnya pikiran remaja seusiamu? Lalu gimana kalau pendapatmu salah? Gimana kalau pernikahan ini nggak berarti apa-apa bagi Rafa?”
Muka Anna mendadak memanas. Pertanyaan Alan membuatnya merasa sia-sia. Tapi kemudian ia cepat mengelak, “Nggak mungkin, pasti ini berpengaruh besar bagi Rafa. Baru dapet kabar kalau aku mau nikah aja dia udah kelojotan nggak karuan. Sekarang dia pasti nangis guling-guling.”
“Itu menurutmu.” Alan menghela napas atas sikap Anna yang rela menikah dengannya hanya karena alasan sepele, sakit hati dengan mantan. Terdengar tidak masuk akal. Tapi mungkin memang begitu perasaan dan cara berpikir remaja seumuran Anna, yang emosi belum terkontrol dan darah mudanya mudah mendidih.
TBC