
“Kau kemari untuk membicarakan masalah kita bukan? Jadi gimana, kapan kamu menceraikan Anna?”
“Aku ke sini mau ketemu Rafa,” ucap Alan semabri menunjuk Rafa dengan dagunya.
Rafa yang sedang asik main game, tidak menyadari kedatangan Alan.
“What? Rafa? Untuk apa kamu nemuin adikku? Emangnya kamu kenal dia?” Setengah kecewa, Cintya juga bingung.
“Panggilin dia ke sini!” tukas Alan yang malas mendekati Rafa meski jarak mereka tidak jauh.
“Alan, apa kamu nggak mau minum dulu? Ayolah, kita ngobrol sebentar.” Cintya mengelus lengan Alan yang terbalut kemeja panjang. Sudah lama ia mengharapkan Alan, sia-sia rasanya jika ia melewatkan kesempatan manis berduaan dengan Alan di waktu yang menurutnya pas. “Aku ingin impian kita untuk bisa menikah akan segera terwujud.”
“Kita akan bicarakan ini nanti.” Alan yang sudah kepalang bingung akan hilangnya Anna, terlihat malas membahas hal lain. Ia berjalan mendekati ruangan luas tempat Rafa berbaring. Ujung sepatunya menginjak pemadani dekat siku tangan Rafa.
Rafa mengangkat kepala saat menyadari ada sepatu menginjak permadani tempatnya berbaring, mengernyit saat melihat pemilik sepatu. Ia meletakkan stick game dan bangkit bangun. Iris matanya melirik Cintya yang mematung di dekat pintu.
“Ahahaaaa....” Rafa tertawa ngakak. “Dasar buaya! Lo kesini buat nemuin Kakak gue? Bener kan dugaan gue, lo itu laki-laki rawan dan berbahaya. Penjahat kelamin. Udah punya istri kok masih aja nemuin perempuan lain.”
“Rafa, jaga bicaramu!” tegas Cintya yang tidak menyukai ucapan adiknya.
“Lo haus perempuan, hm? Atau jangan-jangan Anna nggak ngasih jatah ke lo?” Rafa melangkah meninggalkan permadaninya, namun terhenti ketika punggung bajunya seperti nyangkut. Ia menoleh dan melihat tangan Alan memegangi baju belakangnya hingga membuatnya kesulitan bergerak.
Plak! Akhirnya pukulan keras mendarat di wajah Rafa. Sangat keras hingga darah segar mencuat dari sudut bibirnya. Alan melangkah maju dan memberikan pukulan bertubi-tubi. Rafa tidak sempat melawan, gerakan tangan Alan begitu gesit dan kecepatannya luar biasa. Cintya hanya bisa berteriak histeris meminta supaya Alan berhenti memukul.
Rafa tersungkur. Alan di atasnya siap melayangkan tinju, tapi kepalan tangannya tertahan di udara. Melihat muka Rafa yang babak belur, Alan jadi tidak tega.
“Masih mau hadiah dari genggaman tangan gue?” tanya Alan datar.
“Sudah, Alan. cukup!” Cintya memegangi lengan Alan.
“Ini belum seberapa. Gue bisa lakuin lebih dari ini kalau gue mau. Semakin dibiarkan, keliatannya lo malah ngelunjak,” ucap Alan dengan muka datar. “Jangan anggap gue sama kayak lo. Gue kesini mau...” Kata-kata Alan terhenti, ia ingin menanyakan dimana Anna, tapi jika pertanyaan itu terlontar, pasti Rafa akan berada di atas angin. Dan bocah tengil itu akan tertawa karena mengira Anna bersamanya, bahkan mungkin menganggap Alan tidak becus menjadi suami sampai-sampai keberadaan istri sendiri pun, ia tidak tahu. Mungkin juga Rafa akan mengatakan kalau Alan tidak pantas menjadi suami Anna.
“Apa? Mau apa? Ngomong aja? Belum ada Undang-Undang yang ngelarang orang bicara.” Rafa masih berani menantang. Sepertinya ia belum kapok.
Tanpa perlu bertanya, kini Alan yakin Anna tidak ada di rumah itu. Andai saja Anna ada di sana, tentu Rafa akan tertawa penuh kemenangan karena Anna ada bersamanya. Ah, kenapa pikiran Alan begitu buruk terhadap Anna? Disaat genting begini pun, ia masih sempat mengira kalau Anna menemui Rafa.
TBC