
Anna meletakkan gelas ke meja sesaat setelah meminum isinya. Perutnya terasa begah karena terlalu banyak minum air putih. Efek kebanyakan makan sambal sehingga dia memaksa diri untuk meminum banyak air putih untuk menetralkan rasa pedas di perut.
“Rin, rujak yang kamu bikin pedes banget, loh. Aduuh... Aku sampai kepedasan.” Anna mengibaskan tangan di depan mulutnya.
“He heee... Kan Nona yang minta dicampurin cabe rawit,” jawab Rina yang sedang membereskan mangkuk dan sisa peralatan bekas membuat rujak.
“Lain kali jangan dicampur cabe rawit deh. Kapok jadinya, nih. Lidahku kayak kebakar.”
“Kasihan Den Azzam kalau Non makan pedes-pedes, nanti Den Azzam bisa mencret, kan masih minum ASI.”
“Kamu mah parno aja. Ya udah, aku ke atas dulu.” Anna berlalu meninggalkan ruang makan. Dia berpapasan dengan Alan saat melintasi ruang tamu. Suaminya itu baru pulang kerja. Anna cukup melirik saja, setelah itu dia terus melangkah dan menaiki anak tangga.
Alan menatap tingkah Anna yang terlihat cuek.
“Anna!” panggil Alan.
“Bicara saja saat di kamar. Aku capek,” kata Anna sambil melenggang.
Alan tidak protes, pria itu mengikuti Anna sampai ke kamar. Alan duduk di sisi ranjang, dia melihat Anna yang tampak sibuk sendiri. Wanita itu memasuki kamar mandi. Cukup lama Anna di kamar mandi, entah melakukan apa. Kemudian dia keluar lalu langsung menuju ke lemari. Dia mengambil beberapa buah tas, lalu mengelapi tas tersebut.
“Anna!”
“Hm?” Anna masih fokus dengan pekerjaannya. “Ya sudah, bicara saja. Aku mendengarmu.” Anna geleng-geleng kepala melihat tasnya yang berdebu.
“Aku besok ada acara kantor, dan aku akan bawa sekretarisku di acara itu. kamu pasti akan mendengar penggelaran acara kantor, jangan mempermasalahkan saat aku tidak membawamu. Kuharap kamu bisa menjawab dengan baik saat papa menanyakan hal ini ke kamu.”
“Anna! Aku berbicara denganmu!” tegas Alan.
Anna sekilas menoleh ke arah Alan. Kemudian pandangannya kembali ke tas. “Aku juga mendengarmu kok. Ini loh tasku lama nggak dipakai tapi malah menjadi kotor begini.” Anna meletakkan tas ke meja. “Ya udah, besok biar kusuruh Rina membersihkannya.”
Alan menatap Anna datar. Dia tidak ingin bicara selagi Anna tampak sibuk sendiri. Dia dikacangin sekarang.
Anna menuju ke toilet, mencuci tangannya yang kotor oleh debu. Kemudian dia kembali ke kamar. kali ini dia tapak sibuk mengganti sarung bantal.
Alan merebahkan tubuhnya di sisi kasur dengan kaki selonjor. Netranya mengamati Anna yang sedang sibuk. Dia terus memperhatikan istrinya itu sampai istrinya berhenti dari kegiatannya. Setelah mengganti alas bantal, wanita itu melepas jilbab dan menyisir rambut, lalu kembali lagi ke kamar mandi.
Alan menunggu cukup lama sampai akhirnya Anna keluar dari kamar mandi.
“Eh, Mas Alan? Kamu udah pulang?” Anna membelalak melihat Alan yang duduk di sisi ranjang.
Alan pun mengernyit mendengar pertanyaan itu. Konyol, sejak tadi emmangnya apa yang dilihat oleh Anna? Alan sudah sejak tadi di sana dan bahkan mengajak ngobrol tapi dikacangin.
“Aku sedang mengajakmu bicara, Anna.”
“Maksudku tuh kok tumben kamu pulang? apa udah bosan mengeluyur? Aku nggak pa-pa kok kalau kamu mau kelayapan kemana-mana,” kata Anna dengan senyum lebar.
TBC