
Begitu melepas mukena dan menoleh ke belakang, Anna dikejutkan dengan pemandangan unik. Selembar permadani merah tampak digelar di tengah-tengah kamar, di atasnya terdapat beraneka ragam makanan ringan. Selain itu, ada juga ikan bakar yang ukurannya sangat besar.
Bukan itu saja, di atas ranjang juga terlihat pemandangan yang berbeda. Hampir seluruh permukaan kasur dibanjiri bunga berwarna-warni, sebuket bunga terletak di tengah-tengahnya.
Pemandangan itu membuat Anna menganga saking kagetnya. Dalam hitungan setengah jam, Alan mampu merias semua itu.
Anna geleng-geleng kepala melihat Alan yang tersenyum menatapnya.
“Waw… Kamu bener-bener so sweet.” Anna tersenyum. Ia duduk di atas permadani setelah mengenakan pakaiannya. “Ini kamu dapet dari mana?” Anna meneliti makanan yang ada di hadapannya.
“Pesen. Baru aja mereka nganterin.”
“Bisa, ya?”
“Bisa, dong.”
Anna dan Alan duduk berhadapan, dipisahkan oleh makanan yang tersaji.
“Ya udah, langsung makan aja. Kenapa diliatin? Kamu mau makan yang mana?” tanya Alan.
“Mau ikan bakar. Duuuh… enak banget itu. Wanginya aja udah membakar hidung.” Anna mencubit ikan dan memakannya dengan lahap.
“Semenjak hamil, kamu makannya kayak orang kelaperan?” Alan heran melihat Anna yang sibuk merobek-robek ikan semaunya, dan sekarang sudah habis separuh.
Anna membalikkan ikan dan kembali menghajarnya. “Ini enak banget.”
Alan mengangguk dan memilih makan cemilan saja.
“Besok aku pengen jalan-jalan ke… Ke mana itu namanya? Duh lupa.” Anna mengingat-ingat nama sebuah tempat. Sudah ada di kepala tapi sulit mengucapkannya.
“Kemana?”
“Ke…
“Kuburan?”
“Dih… Mau nyari kuntilanak apa?”
“Keee….” Anna berpikir.
“Danau Toba?”
“Bukan.”
Bagaimana bisa dari Bali melompat ke Danau Toba? Anna nyengir.
“Lalu?” tanya Alan penasaran.
“Kintamani. Mau nyebutin itu aja susah banget. Duh gila, di sana tu seru banget. Aku udah lama nggak ke sana. Aku juga mau ke Arung jeram Sungai Ayung, aku pengen ikutan arung jeram di sana. Aku kangen pemandangan alam pegunungan di sana. Panorama sepanjang sungai indah banget, ditambah pahatan di tebing sungai, juga hijaunya pepohonan di sekitar sungai, lengkap deh indahnya.”
“Anna, kamu lagi hamil muda. Jangan jalan-jalan terus. Entar kecapekan, bahaya buat kandunganmu. Besok kita pulang.”
“Aku nggak pa-pa. Aku nggak capek, kok.”
“Nggak bisa! Besok kita harus pulang!” tegas Alan penuh penekanan.
“Kamu nggak usah secemas itu juga kali. Aku kan nggak nyangkul kebun, nggak panjat tebing, nggak ngelakuin sesuatu yang bikin keguguran. Aku Cuma kepengen refereshing doang.”
“Aku nggak mau kamu dan bayi kita kenapa-napa. Masih ada banyak waktu untuk kita jalan-jalan. Nggak harus disaat kamu lagi hamil muda begini. Oke?”
Anna menatap kecewa. Ia meyakini dirinya masih kuat dan tentunya akan baik-baik saja. Tapi kenapa Alan harus mencemaskannya seperti itu?
“Maaf Anna, aku ngomong kayak gini demi kebaikanmu. Jangan marah!”
“Aku nggak marah. Tapi untuk sehari besok aja kita jalan-jalan lagi ya, nggak sampai seminggu, kok. Setelah itu kita pulang.”
Alan terpaksa mengangguk meski dengan berat hati. Antara khawatir dan tidak tega. Bagaimana mungkin ia bisa menolak sementara Anna memohon dengan tatapan seperti bidadari?
Tidak butuh waktu lama untuk Anna menjadikan ikan hanya tersisa durinya saja.
Selesai makan, Alan menelepon pelayan dan meminta untuk membereskan kamar. Alan tidak lupa memberikan uang tips lumayan banyak yang membuat dua pelayan tertawa girang.
TBC