Holy Marriage

Holy Marriage
Kejujuran Anna



“Apa sampai sekarang Alan belum menikahimu?” tanya Anna berhai-hati.


“Kalau aku udah dinikahinya, untuk apa lagi aku menuntutnya supaya dia menceraikanmu?”


“Huuufth…” Anna melepas nafas lega. Ternyata Cintya dan Alan belum menikah. Lalu apa tujuan Alan mengaku kalau ia sudah menikah siri dengan Cintya? Bahkan mengaku berbulan madu ke luar negeri bersama gadis itu? Apa keuntungan yang Alan dapatkan dari kebohongannya itu?


“Apa kamu nggak pernah pergi ke luar negeri bersama Alan?” selidik Anna.


“Pergi ke luar negeri? Bersama Alan?” Cintya terkekeh. “Dalam rangka apa? Jangankan ke luar negeri, ke luar kota pun nggak pernah. Aku dan dia seringnya jalan-jalan berduaan di seputaran Jakarta.”


Anna mengangguk. Itu artinya yang sekilas ia lihat di mall saat Alan pergi ke luar negeri itu memang benar Cintya.


“Awalnya Alan memang bilang nggak akan menceraikanmu disaat aku dan dia telah menikah, kalau perlu kamu akan dijadikan istri selamanya olehnya supaya hidup kami tetap jaya ditengah gelimang harta yang William miliki. Tapi menginngat kamu nggak menginginkan Alan, sementara udah bertahun-tahun berlalu dan pernikahan kami masih juga belum terlaksana karena banyak kendala, aku yang memutuskan supaya dia menceraikanmu saja, sebab aku udah dapetin rumah, mobil dan uang dari perusahaan yang Alan kelola. Kurasa perpisahanmu dengan Alan juga menjadi kabar baik untukmu bukan?”


“Cintya, aku…” Leher Anna tercekat untuk meneruskan.


“Apa, Anna? Katakan saja?” Senyum Cintya mengembang lebar, yakin jika Anna akan memberi motivasi dan keputusan terbaik untuknya.


Anna tidak mendengar respon apapun dari Cintya. Detik berikutnya ia mengangkat wajah, menatap wajah Cintya yang entah sejak kapan sudah memucat. Sepertinya gadis itu syock. Punggungnya juga sudah tidak dalam posisi tegak di sandaran kursi, melainkan sudah membungkuk lemas.


“Maafin aku, Cintya. Awalnya aku sama sekali nggak punya rasa pada Alan, aku ngerasa gelid an asing pada sumiku sendiri. Aku bahkan mengawali pernikahan suciku dengan niat bodoh yang pasti nggak diridhai Tuhan. Tapi Tuhan berkata lain, Dia balikkan hatiku untuk mencintai suamiku. Dia bantu hatiku buat ngelurusin niat pernikahanku. Aku mencintainya.” Jika dulu Anna takut menyakiti Cintya karena Cintya menyandang status yang sama dengannya, yaitu istri Alan. Tapi sekarang Anna berani mengutarakan hal itu karena Cintya dan Alan belum berstatus suami istri. Sudah selayaknya Anna mempertahankan rumah tangganya, menjauhkan Alan dari perbuatan zina, menjauhkan Alan dari Cintya.


“Nggak mungkin, Anna. Nggak mungkin.” Cintya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, bahunya bergetar sesenggukan. “Ini artinya kamu nggak mau bercerai darinya? Apakah ini artinya keputusan hanya ada di tangan Alan? Aku berharap Alan secepatnya menceraikanmu.”


“Cintya, plis. Jangan katakan itu.” Mata Anna berkaca-kaca menatap Cintya yang larut dalam tangisan. Hati Cintya pasti hancur.


“Apakah kau dan dia udah tidur bersama?” Kedua telapak tangan Cintya masih di posisi yang sama. Suara Cintya bergetar menahan isak tangis.


“Itu adalah privasi kami. Tapi aku berharap kelak Pak William akan mendapatkan cucu dariku.”


Cintya semakin larut dalam tangisannya. “Dari jawabanmu itu, aku tau Alan telah menyentuhmu. Kamu mengkhianatiku, Anna. Aku nggak akan sesakit ini jika aku nggak mencintai Alan. Udah bertahun-tahun lamanya aku membuang waktuku hanya demi menunggu Alan, tapi ini yang kudapetin.”


TBC