Holy Marriage

Holy Marriage
Malam Pertama



Setelah puas mengelilingi kamar luas, Anna melempar tubuhnya ke atas spring bed. Tangannya mengelus sprei yang wangi dan halus sembari memejamkan mata. Hotel tempatnya berbaring itu berjarak sekitar sekilo meter dari hotel yang disewa untuk pesta. Sengaja Alan memboking kamar itu agar tidak berbaur dengan tamu undangan.


Anna langsung membuka mata ketika merasakan kasur di sebelahnya terayun seperti terkena genjotan.


“Kamu?” Anna terbangun dan duduk melihat Alan sudah berbaring di sisinya. Ternyata Alan yang melempar tubuh ke ranjang sebelahnya.


Alan yang tadinya memejamkan mata, kini terbelalak lebar akibat suara cempreng Anna yang membuat kantuknya menghilang entah kemana.


Alan tersenyum kemudian langsung memeluk Anna dan menindihnya.


Sontak Anna berteriak histeris dan memukuli lengan kekar Alan semampunya. Kedua tangannya kini berada dalam dekapan tangan kokoh Alan hingga membuatnya kesulitan bergerak.


“Lepasin! Kamu apa-apaan, sih?” Anna menjerit sambil meronta-ronta.


“Sama suami sendiri kok kayak diperkosa?” Alan menjauhkan wajahnya meski lengannya masih mendekap tubuh kecil Anna.


“Lepasin!” ulang Anna dengan sorot membunuh.


Alan buru-buru menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuh Anna. Lalu berguling dan memunggungi Anna. Ia memejamkan mata sambil memeluk bantal guling. Bobok dengan nyaman.


“Udah berkali-kali aku bilang supaya kamu baca surat kesepakatan kita, tapi kamu nggak baca. Ini nih akhirnya, kamu kekep badanku sampe nggak bisa napas. Kamu mau apain aku?” Anna menatap punggung Alan kesal.


Merasa dicuekin, Anna memutari ranjang dan berdiri menghadap wajah Alan yang sedang pura-pura tidur pulas.


“Kenapa kamu tidur di sini?” pekik Anna.


“Salahnya dimana? Aku booking kamar untuk aku tidur, kenapa kamu yang ngelarang?” Alan balik tanya meski matanya masih dalam keadaan terpejam.


Dengan napas berat, Anna berjalan menuju tasnya yang tergeletak di meja. Ia mengambil surat kesepakatan yang sudah disetujui kedua belah pihak.


Alan melek sebentar melihat kertas itu lalu terpejam lagi. “Besok aja, ngantuk!”


“Mas Alaaaan!” jerit Anna semakin sebel.


“Teriaknya jangan kenceng-kenceng, Anna. Aku denger, kok. Bisa-bisa orang-orang salah duga, pengantin baru tereak-tereak dikirain ngapain.”


Kata-kata Alan membuat Anna spontan menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan.


“Mas, bangun! Pokoknya kamu harus baca sekarang! Percuma aku nulis sampe pegel kalau akhirnya nggak kamu baca dan cuma jadi tontonan tikus.” Anna menarik lengan Alan berusaha membangunkan tubuh gagah itu, tapi tubuh berat itu tidak bergerak meski Anna sudah mengerahkan tenaga dahsyat.


“Mas Alan!” Anna meninju dada Alan, membuat Alan langsung terbangun dan duduk.


“Jangan lakukan itu lagi!” Alan menatap kepalan tangan Anna yang siap meninju untuk kedua kalinya.


“Aku akan ngelakuin lagi kalau kamu terus cuekin aku.” Entah dari mana keberanian itu tiba-tiba muncul begitu saja. Sorot mata Alan yang biasanya terlihat horor, ekspresinya yang biasanya garang, dan nada bicaranya yang biasanya tegas, kini lenyap entah kemana. Alan terlihat lebih relaks dan bersahabat. Mungkin itulah yang membuat keberanian Anna muncul.


“Aku bisa muntah darah.”


“Bodo amat.” Anna menjulurkan lidah sambil mengedip-ngedipkan mata, membuat Alan tidak kuat menahan senyum.


“Ya udah, kamu maunya sekarang aku ngapain?”


“Baca ini!” Anna menyerahkan kertas itu.


Alan meraih kertas dan membacanya. Rasanya baru beberapa menit saja pandangan Alan menyapu tulisan dari nomer satu hingga membalikkannya sampai ke nomer 57, tapi ia sudah selesai membaca. Salah satunya, disana tertulis bahwa suami tidak boleh menggauli istri.


TBC