Holy Marriage

Holy Marriage
Dia Tak Cinta



“Anna, kamu adalah seoarng wanita, sama sepertiku. Bagaimana rasanya ketika kamu membuang banyak waktumu untuk seorang pria, dia memberimu cinta, kasih sayang, dan kehidupan indah yang nggak mungkin diberikan orang lain. Disaat kamu ingin meninggalkannya karena terlalu lama berpacaran, lalu dia meyakinkanmu untuk tetap bertahan demi masa depan bersama. Dan sekarang kamu ditinggalkan olehnya, apa yang akan kau lakukan? Ini nggak udah buatku, Anna. Aku terlanjur mencintai Alan. Kenapa Alan nggak bisa mempercayaiku? Dia menganggapku telah menjerumuskannya hingga akhirnya dia memutuskanku. Aku nggak ngelakuin yang dia tuduhkan. Kenapa Alan nggak percaya pada orang yang dia cintai?”


Anna mendekati Cintya, kemudian memeluknya, membiarkan gadis itu menangis di pundaknya. “Cintya, aku mengerti dengan kesedihanmu. Tapi apa yang bisa kulakukan?”


Cintya semakin sesenggukan. Sudah tidak ada lagi yang bisa Cintya ucapkan, suaranya habis oleh tangisan.


“Kalau aku katakan yang sesungguhnya, maukah kamu berhenti menangis?” Anna mengusap punggung Cintya.


Cintya terdiam memikirkan kata-kata Anna. Apa yang sebenarnya akan Anna ucapkan? Kedengaran serius. Cintya kemudian mengangguk.


“Percuma menangisi orang yang nggak mencintai kita, bukan?” lanjut Anna.


Cintya masih diam, belum bisa memahami ucapan Anna.


“Alan nggak pernah mencintaimu, Cintya. Dia hanya mempermainkanmu. Sekarang dia justru mencintaiku, dia nggak mau melepaskanku, dia ingin hidup selamanya denganku. Itulah kenyataannya.” Anna berharap Cintya akan melupakan Alan setelah mengetahui perasaan Alan yang sesungguhnya. Pahit memang, tapi harus ditelan demi memudahkan Cintya untuk memilih kebahagiaan lain. Cintya berhak untuk bahagia. Alan sudah melakukan kesalahan dengan memanfaatkan Cintya, biarlah Cintya mengetahui kebenarannya, biarlah Alan menanggung resiko dari kesalahannya.


Cintya menarik tubuhnya mundur dan menatap mata Anna.


“Apa maksudmu, Anna?”


“Alan nggak pantas ngedapetin cintamu, terlalu berharga air matamu dihabiskan untuk pria yang sebenarnya nggak cinta sama kamu.”


“Jangan bohongi aku, Anna. Kamu hanya ingin membuatku menjauhi Alan dengan cara ini bukan? Apa buktinya kamu ngomong begitu?” Cintya hampir shock.


“Semua yang Alan lakukan ke kamu udah jadi bukti. Dia memilih hidup dengan wanita lain dari pada denganmu. Dia ninggalin kamu begitu aja. Tinggalkan dia, kamu berhak memilih kebahagiaan, bukan dengan pria yang hanya memberimu harapan palsu.”


“Yang Anna katakan itu benar, Cintya,” sahut suara bariton.


Serentak Anna dan Cintya menoleh ke sumber suara. Entah sejak kapan Reno berdiri di antara mereka.


“Alan sama sekali nggak pernah mencintai lo, Cintya. Lupain dia. Yang ada di hati Alan sekarang hanyalah Anna, itulah sebabnya dia nggak mau mempertahanin hubungan sama lo. Dan semua alasan yang ngebuat dia mutusin lo, mempermudahnya untuk bisa ngelepasin lo,” lanjut Reno seperti gong.


Cintya menatap Reno lekat, seakan sedang mencari kejujuran. Reno adalah sahabat paling dekat Alan, Cintya tahu Alan hanya terbuka pada Reno.


Tangis Cintya semakin pecah.


“Kamu janji nggak akan menangis kalau tahu yang sesungguhnya bukan?”


Cintya tidak perduli, ia tak sanggup menghentikan tangisannya.


“Cintya, andai aku di posisimu, tentu aku juga akan sangat kecewa dan marah sama Alan. Aku memahamimu,” ucap Anna dengan mata berkaca-aca. Tangisan Cintya membuatnya turut ingin menangis. Ia mengerti bagaimana hancurnya perasaan Cintya saat itu. “Kamu berhak marah karena udah dipermainkan, tapi kumohon maafkanlah Alan. Dia pasti memiliki alasan kenapa harus melakukan hal ini kepadamu.”


“Alan jahat.”


“Jangan menangis lagi. Menangislah hanya untuk pria yang tulus mencintaimu.”


TBC