Holy Marriage

Holy Marriage
Ketegasan Alan



Sialan! Sosok Rafa kembali melintas di benak Anna. Sekian lama ia berusaha melupakannya, sudah seharusnya ia bisa mengenyahkan dari pikirannya. Kenapa begitu sulit melupakan orang yang pernah singgah di hati meski dia sudah menyakiti?


Sejenak Anna ingin mengumpati dirinya sendiri, namun itu menunjukkan betapa lemah dirinya gara-gara pria itu.


Kemudian dengan menggebu-gebu, Anna menceritakan kegembiraannya yang meluap-luap karena telah berhasil membuat Rafa sakit hati. Anggap saja Anna sedang menghibur diri.


“Anna yakin Rafa beneran sakit hati ngeliat Anna nikah sama cowok lain?” tanya Angel dengan pandangan tidak yakin.


“Yakin, dong.”


“Rafa itu pembohong. Bisa aja yang dia bilang itu omong kosong. Kebiasaan ngibul. Cuma buat sensasi doang. Padahal sebenernya dia biasa aja tuh ngeliat pernikahan Anna. Udah, jangan percaya lagi sama omongannya. Jangan inget-inget Rafa lagi dan jangan terpengaruh sama air mata buayanya Rafa, Rafa itu playboy, mulutnya nggak bisa dipercaya. Udah jelas dia selingkuh, sama sahabat Anna sendiri lagi, kenapa Anna masih aja percaya?”


“Iihh.. Kakak kok ngomongnya gitu? Sama aja kayak Alan. Anna percaya kalau sekarang Rafa lagi stres berat.” Anna kesal tidak mendapat respon baik dari kakaknya. Andai saja ia bisa membalikkan perasaannya semudah meniup debu, tentu sudah sejak dulu Anna melupakan Rafa. Tapi perasaannya sulit dikendalikan.


“Mm... Pokoknya Anna puas. Anna bahagia, Kak.”


“Sst... kamu kan udah punya suami keren. Fokus aja ke Alan. Udah deh, jalani aja pernikahan Anna sama Alan. Mulailah move on dan membuka lembaran baru, jadikan rumah tangga Anna rumah tangga yang sesungguhnya. Jangan lagi mikirin Rafa.”


Anna mengangguk meski tidak semua yang ia dengar diterima dengan baik.


“Anna!”


Panggilan yang sumbernya dari luar membuat Anna dan Angel saling pandang. Suara Alan.


“Ya. Aku di sini!” Anna melompat turun dari ranjang dan berlari keluar kamar. Ia menghampiri Alan yang berdiri di tengah-tengah ruang keluarga. Lelaki itu tampak rapi mengenakan kemeja berwarna biru muda. Jas dan dasinya menggelayut di lengan.


“Kamu udah rapi gini?” Anna heran menatap penampilan Alan yang ketika ia tinggalkan tadi masih pulas. Dan sekarang sudah menjelma menjadi serapi itu.


“Hm.”


“Aku bahkan belum siapin semuanya buatmu.” Anna mendekati Alan dan mengambil dasi dari lengan suaminya lalu memasangnya di leher Alan. Berikutnya ia memasangkan jas ke tubuh Alan. “Mau minum teh hangat? Atau susu?”


Alan menggeleng. “Kamu belum siap-siap? Ini hari sekolahmu, bukan?” Alan menatap penampilan Anna yang masih sama seperti tadi malam, piama lengan panjang.


“Nggak mau kuanterin ke sekolah? Sekalian aku mau pergi ke kantor,” tawar Alan.


“Aku kepagian kalau berangkat jam segini.”


“Ya udah, aku pergi ke kantor duluan. Nanti kamu ke sekolahnya naik taksi aja, ya.”


“Kenapa? Aku biasa pake motor, kok.”


“Mau nurut nggak?” tegas Alan membuat Anna langsung mengangguk patuh.


Alan membalikkan badan dan berpapasan dengan Herlambang. “Pagi, Ayah. Aku berangkat kerja dulu.”


“Hei... Tampan sekali menantu Ayah ini.”


Yang dipuji tersenyum menghormati.


“Nggak mau sarapan dulu?”


“Sarapan di kantor aja.”


“Terima kasih ya, kamu udah mau nginep di sini.” Herlambang merangkul bahu Alan dan membimbingnya berjalan keluar.


Anna terdiam menatap keakraban antara Ayah dan menantu.


“Buruan mandi, Anna. Nanti telat ke sekolah!”


Seruan itu membuat Anna menghambur menuju kamar untuk menunaikan perintah Angel.


***


Tbc