Holy Marriage

Holy Marriage
Ujian



Berbagai pemandangan unik tercipta. Si pencontek sibuk mencari contekan, si pintar percaya diri dan menjawab soal dengan tenang, dan ada yang ditegur pengawas karena ketahuan menyimpan jimat alias kertas bertuliskan rumus yang diikat di paha. CCTV di setiap kelas meminimalisir adanya para siswa yang curang.


Beberapa hari berlalu dan ujian pun sudah selesai. Seluruh siswa merasa lega sudah melewati masa-masa menegangkan, meski hasil akhir masih mengambang.


Dan Anna, ia tidak merasa waspada dengan hasil ujiannya. Bukan takabur, tapi yakin dengan usahanya meski muka Alan menjadi penyebab utama yang kerap mengganggu konsentrasinya saat menjawab soal, entah kenapa ia malah kepikiran Alan terus. Anna memang tidak pernah meraih juara umum, minimal predikat juara kelas selalu ia genggam.


Class meeting, merupakan hari bebas untuk anak-anak kelas dua belas. Berbagai macam kegiatan dibentuk, pertandingan-pertandingan olah raga pun dilaksanakan.


Anna sangat menyukai badminton. Olah raga itu menjadi hiburan tersendiri baginya. Seperti hari ini, ia mengikuti lomba badminton. Dengan lincah, ia memainkan raket, berlari kesana kemari. Lawannya tak lain adalah musuh bebuyutan, Joli.


Anna meloncat girang sambil mengangkat raket tinggi-tinggi seperti menjuarai badminton tingkat nasional ketika skor akhir menunjukkan kemenangan Anna. Ia girang bukan main. Sorak-sorai terdengar membahana memenuhi aula. Arini mengucapkan selamat dan memberikan sebotol air mineral yang langsung diteguk oleh Anna.


Ekor mata Anna menangkap pemandangan menyedihkan, Joli duduk lemas dengan pandangan menerawang menatap ke arah anak-anak yang gegap gempita menyambut kemenangan Anna. Gadis itu duduk menggelesot di lantai tanpa memperdulikan celana olah raganya yang menjadi kotor. Kepalanya menunduk murung.


Terbesit rasa iba dalam hati Anna melihat pemandangan itu. Joli pasti kecewa karena tidak meraih juara badminton. Badminton adalah olah raga yang disukai Joli, sama seperti Anna. Wajar Joli merasa sedih atas kekalahannya.


“Gue ke toilet dulu, kebelet!” Anna menyerahkan kembali botol air mineral kepada Arini dan berlari menuju toilet. Ia membasuh muka dan bercermin setelah mengelap wajah dengan air.


Tiba-tiba terdengar suara isak tangis di belakangnya. Anna menoleh ke sumber suara, melihat sosok gadis menyandarkan tubuh di dinding dan melepas tangis di sana. Anna dapat mengenal gadis itu meski wajahnya ditutupi kedua telapak tangan. Tak lain Joli.


“Joli, lo nangisin kekalahan pertandingan tadi?” lembut Anna mendekati Joli.


Cepat Joli membuka telapak tangannya dan menatap Anna. Ia diam saja, tidak mau menjawab.


“Ya udah kita tukeran aja. Biar gue bilang ke panitia kalau kemenangan gue tadi dihangusin aja. Dan lo yang dianggep menang.” Anna mengalah. Kebahagiaan Joli berada di kemenangan badminton, dan Anna mungkin tidak sebahagia Joli saat memenangkannya, Biarlah Joli yang meraih posisi itu jika memang posisi itu baik untuk Joli. Dan mungkin benar apa yang dibilang Ibunya Joli, Anna dan Joli harus saling memaafkan. Jika dengan cara ini ia dan Joli bisa kembali baikan, tentu ia akan merasa sangat senang. Hanya satu keinginan Anna, tidak ingin menyimpan dendam.


Joli menatap Anna cukup lama, namun terasa berat lidahnya bicara. Setelah apa yang ia lakukan, Anna masih bersikap sedemikian baik terhadapnya.


“Nggak usah, Ann.” Joli langsung berbalik dan pergi meninggalkan toilet.


Anna mengangkat bahu, membiarkan Joli meninggalkannya.


***


TBC