Holy Marriage

Holy Marriage
Doa



Beberapa bulan telah berlalu, Alan merasa kondisinya jauh lebih baik. Ia pun termotivasi untuk sembuh.


Alan pernah merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya, sampai ia tidak berdaya hingga meminum obat tidur. Saat itu, ia memutuskan untuk mengajak Anna jalan-jalan ke luar negeri, meninggalkan pekerjaannya selama dua bulan. Ia menempati rumah ayahnya yang di luar negeri. Tujuannya mengajak Anna ke luar negeri adalah untuk menikmati hari-hari terakhir bersama dengan orang-orang yang dia cintai, namun keadaan justru berbalik.


Selama dua bulan berada di luar negeri, kondisi fisiknya justru semakin membaik. Rasa sakitnya berkurang. Liburannya pun terasa menyenangkan. Dua bulan menjadi waktu yang singkat baginya, hingga ia menambah waktu beberapa bulan lagi untuk menetap di luar negeri.


Sungguh dahsyar, kondisi Alan semakin membaik. Alan berpikir, mungkinkah kebahagiaannya menjadi salah satu alasan dan motivasi di hidupnya? Ataukah Anna dikirimkan Tuhan untuk menjadi sumber kekuatannya? Alan tersenyum memikirkan semua itu.


Sepanjang liburan di Paris, Anna merasa sosok Alan berubah. Pria itu banyak diam, tertutup namu tidak sedingin dulu.


Merasakan kehidupannya yang semakin membaik, Alan kini mengubah sikapnya kepada Anna menjadi lebih mesra. Meski dia lebih banyak diam, namun cenderung lebih dekat. Motivasi hidupnya ada pada Anna, maka ia tidak akan menjauh lagi dari Anna. Dan jika memang Tuhan berkehendak lain atas usianya, maka ia pasrah. Namun satu hal yang tidak bisa ia lakukan, sampai dengan saat iniu, Alan belum bisa jujur terhadap Anna mengenai sakit yang dia rasakan. Baginya, Anna hanya boleh mengetahui hal-hal yang baik tentangnya. Dan hal buruk, biar dia sendiri yang merasakan.


Tanpa terasa, usia Azzam bahkan sudah dua tahun lebih. Bocah itu sudah pintar bicara meski belum bisa mengucap huruf R.


Tiga hari setelah pulang dari luar negeri, Anna kembali menjalani hidup di rumah seperti biasa. Alan berlum mulai bekerja. Tiga hari terakhir ini, Alan masih istrirahat saja di rumah. Beginilah jika perusahaan milik nenek moyang, segalanya dikerjakan sesuka hati.


Anna sedang duduk di atas sajadah, shalat subuh. Setelah berdzikir, ia menengadahkan tangan, memohon kepada sang Rabb. Ia meyakini bahwa saat subuh, para malaikat turun untuk menyaksikan maklhuk ciptaan Tuhan yang menjalankan ibadah serta turut mengaminkan doa manusia yang memohon tulus kepada Tuhan.


Tanpa Anna tahu, Alan yang saat itu terbaring di kasur dengan posisi menghadap Anna, mengawasi wanita itu dengan seksama. Telinganya pun mendengarkan setiap doa yang diungkapkan oleh istrinya itu.


Alan kembali memejamkan mata saat melihat Anna melangkah menuju ke arahnya. Pura-pura tidur.


“Mas Alan!” panggil Anna lembut. “Bangun, udah subuh.” Ia mengusap pelan kening suaminya dengan telapak tangan.


Usapan itu membuat Alan merasa seperti dibelai bidadari surga. Ah, mimpi. Mencium aroma wangi surga pun belum tentu bisa, bagaimana mungmin ia membayangkan hal-hal seindah itu. namun pada intinya, Nana adalah bidadari bagi Alan.


“Hm,” gumam Alan seolah-olah masih mengantuk berat.


“Bangun, gih. Udah subuh.” Anna memijit-mijit pundak, lengan dan punggung Alan.


Alan membuka mata, kemudian bergegas bangun dan melangkah ke kamar mandi.


TBC