Holy Marriage

Holy Marriage
Saling Melengkapi



“Sini! Temani aku!” Alan menepuk kasur sebelahnya.


Huh… kumat mesumnya. Pikir Anna.


“Kenapa diam? Siapa yang sms?” tanya Alan menatap Anna yang ekspresinya mendadak berubah sesaat setelah membaca pesan.


Anna tersenyum mencoba melenyapkan perasaan sakit. Ia tidak mau memperlihatkan kemarahan, atau mengambil sikap gegabah sebelum mendengar penjelasan dari suaminya tentang apa maksud pesan Cintya. Andai saja Alan benar-benar sudah menikah dengan Cintya, mungkin Anna tidak akan sekesal sekarang. Namun pada kenyataannya, Alan dan Cintya belum menikah, tidak pantas mereka berbuat hal-hal demikian.


Makna dari kata-kata yang disampaikan Cintya mengandung arti kalau apa yang Cintya katakan adalah fakta, bahwa Alan pernah mengecup Cintya, Alan pernah memeluk Cintya, dan Alan pernah menyentuh Cintya, tapi Anna tetap harus berpikiran tenang. Ingat, Alan adalah suaminya. Sangat tidak pantas Anna menampilkan muka masam, bersuara keras, atau membentak, seperti pesan-pesan Ayah Herlambang setiap kali bertemu Anna. Ia menjelaskan tentang bagaimana seharusnya bakti istri pada suami, bagaimana cara istri bertutur kata pada suami, dan bagaimana menyikapi suami yang keliru.


“Suami istri itu saling melengkapi, jika suami yang salah, maka istri meluruskan, dan jika istri yang salah, maka suami yang berperan mengingatkan.” Anna mengingat pesan Herlambang.


Sekali lagi, kata-kata yang ditulis Cintya menari-nari dalam ingatan Anna.


Aku rindu.


Aku kangen,


Kangen tawamu


Kangen godaanmu


Kangen kecupanmu


Kangen sentuhanmu


Kangen semua tentangmu.


Kapan kita bisa berpelukan lagi?


Saat tahu ada perempuan lain yang mengaku pernah dikecup, dipeluk dan disentuh suaminya, dada Anna rasanya nyeri sekali.


Muka Alan sedikit berubah saat membaca pesan tersebut. Anna tidak bisa mengartikan ekspresi semacam apakah itu. Tebak Anna, Alan sedang menyembunyikan sesuatu.


“Mm… Ah, udahlah. Nggak penting. O iya, aku belum sempet ketemu Cintya. Dan aku belum selesaikan masalahku dengannya.”


“Kamu bener-bener mau menceraikan dia?” selidik Anna seolah-olah dia belum tahu kalau Alan belum menikah dengan Cintya.


Alan tersenyum tipis. “Hahaaaaa….”


Anna mengernyit menatap Alan yang malah terbahak.


“Jangan bersandiwara, Anna. Cukup aku yang bersandiwara padamu.” Alan bangkit lalu berdiri, ia mendekati Anna dan mengikis habis jarak diantara mereka. Alan mengalungkan lengan kekarnya di pundak Anna. “Kamu tau aku dan Cintya belum menikah, bukan? Jangan pura-pura nggak tau soal itu.”


“Loh, dari mana kamu tau kalau aku soal itu?”


“Cintya udah certain semuanya ke aku.”


“Lalu apa maksudmu membohongiku? Apa untungnya kamu bilang kalau kamu udah menikah dengannya?”


“Untuk mengukur perasaanmu ke aku. Kalau kau menangis mendengar berita itu, berarti kau mencintaiku. Dan saat kau mencintaiku, maka kau akan melepaskan milikmu untukku. Kalau udah begitu, kita akan tetap bersama selamanya bukan? Dan sekarang kamu udah menjadi milikku seutuhnya.”


“Jadi sejak itu kamu udah cinta sama aku?”


“Anggap saja begitu.”


Jawaban tidak memuaskan. Anna mengerutkan dahi. Ia tahu suaminya sedang tidak jujur. Kata orang, mata tidak bisa berbohong. Dan Anna mendapati ketidak jujuran itu dari cara Alan yang menatapnya sedikit gusar. Anna menebak, Alan sedang berusaha membuat diri Anna terperangkap dalam kubangan cinta, setelah itu Alan akan membuat Anna tidak bisa hidup tanpa Alan. Sekarang Anna benar-benar sudah melepaskan mahkota wanitanya pada Alan atas dasar cinta.


TBC