
Anna terbangun saat suara adzan sayup-sayup terdengar berkumandang. Ia mengucek mata yang rasanya berat sekali untuk dibuka. Setelah kelopak matanya sempurna terbuka di menit ke tiga, Anna duduk dan menyibakkan selimut. Ia mengernyit saat sadar ada yang berbeda dalam dirinya. Seingatnya, tadi malam ia terduduk di lantai balkon dan kemudian tanpa sadar tertidur di sana. Bagaimana bisa sekarang ia tidur pulas di atas ranjang?
Anna menatap ke bawah dan melihat Alan tertidur pulas di kasur lipat yang dibentangkan di sisi ranjang, berselimut sampai ke dada.
“Mas Alan!” Anna meenggoyang lengan Alan, membangunkannya. Tubuh besar itu tidak bergerak sama sekali. Tidurnya pulas.
Anna tersenyum menatap betapa polosnya wajah Alan saat tertidur. Tidak ada sorot sangar dari matanya, tidak ada ekspresi bengis di wajah itu, pria itu terlihat sangat manis.
“Mas Alan, bangun! Udah subuh. Shalat lagi!” Anna duduk di sisi Alan.
“Mmmph...” Suara Alan terdengar sangat berat dan serak. Matanya masih terpejam erat.
“Shalat subuh!” lanjut Anna sambil mengguncang lengan Alan. Anna mengernyit menyadari lengan yang dibungkus tuxedo putih. Pagi tadi Alan tidak mengenakan pakaian itu ketika akan pergi bekerja. Anna bahkan belum pernah melihat pakaian itu membalut tubuh Alan. Sepertinya pakaian baru.
Alan mengubah posisi tidur menjadi miring, membelakangi Anna.
“Ayo, bangun.”
“Hmm... Ngantuk.” Suara Alan lebih seperti gerutuan tak jelas.
“Waktu subuh nggak lama, loh.”
Alan menggeliat, mengucek mata. Lalu kembali telentang dan menatap Anna.
“Aku capek banget.” Alan duduk sembari menggeleng-gelengkan kepala untuk mengembalikan kesadaran. Tangannya menyingkap selimut, memperlihatkan celana warna senada dengan tuxedo yang ia kenakan. Kaus kaki abu-abu masih melekat di kakinya.
Alan menatap Anna lalu bertanya, “Kenapa tadi malem kamu tidur di balkon? Mau bunuh diri?” Alan mengulum senyum.
“Iiih.... kamu ngaco. Jadi kamu yang gendong aku ke kamar?”
“Kalo bukan aku lalu siapa lagi?”
Muka Anna memerah. Andai lampu saat itu tidak remang-remang, tentu Alan bisa melihat pipi Anna yang seperti tomat. Anna mengusap pipinya yang memanas.
“Lain kali jangan suka tidur di balkon,” lanjut Alan dengan tatapan teduh. “Angin malam bisa membuatmu masuk angin. Kamu adalah tanggung jawabku.”
Lihatlah, Alan memberi Anna perhatian dan kasih sayang yang tumpah ruah. Sedikitpun Alan tidak pernah membuat Anna jengkel. Perlakuannya benar-benar mengagumkan. Bagaimana mungkin Anna sanggup menunda proses jatuh cinta yang ia sendiri tidak menyadari kapan fall in love itu berlabuh di hatinya. Yang pasti, saat ini muncul perasaan baru yang menyenangkan dalam diri Anna.
Tidak salah jika setiap selesai shalat subuh, Anna kerap memandangi foto Alan yang ukurannya luar biasa besar terbingkai manis di dinding kamar.
Baru saja Anna hendak membuka mulut untuk mengatakan kejujuran, Alan sudah duluan bicara.
“Maaf aku tadi malem nggak angkat teleponmu. Hp-nya kusilent. Aku bahkan baru baca pesanmu saat udah sampai rumah. Kuharap kamu maklum, tadi malem itu hari sakral bagiku, aku dan Cintya menikah. Jam sembilan malam acaranya selesai. Dan aku langsung membawa Cintya ke rumahku, kedua orang tuaku nggak tau alamat rumah itu karena memang aku membelinya tanpa sepengetahuan mereka.”
Jantung Anna mendadak lemah. Apakah ini yang dinamakan terkena serangan jantung? Mulut Anna benar-benar membungkam. Dan jawaban Alan berhasil membuat hati Anna merasa ditusuk. Rasanya seperti ada yang menggeliat di hatinya. Ia menahan nyeri di dadanya.
TBC