Holy Marriage

Holy Marriage
Mantan



Anna memejamkan mata gemas. Jadi itu artinya sampai sekarang ayahnya tidak mempercayai kata-katanya? Sudah berbuih mulutnya menjelaskan kalimat yang berulang-ulang, tapi hasilnya sama saja. Ayahnya memang tidak marah, tapi tidak mempercayainya. Perasaan Anna campur aduk jadinya. Antara sebal dan malu. Sebel karena tidak bisa membuat Ayahnya percaya. Malu karena dianggap melakukan hal-hal tidak wajar.


“Kamu tahu kan Ayah melarang keras kamu pacaran? Karena Ayah nggak mau terjadi hal-hal buruk pada putri Ayah. Anak perempuan itu harus dijaga betul-betul kehormatannya. Ayah nggak bilang kamu berbuat hal buruk sama Alan, kok. Ayah hanya ingin kalian segera menikah karena kalian udah saling suka. Ayah nggak mau menunggu sesuatu yang buruk terjadi jika kalian udah sama-sama menyukai.”


Getar ponsel di tas Anna membuat Anna langsung membuka resleting tas dan membuka puluhan chat yang masuk. Dari Rafa.


Rafa dapet kabar dari Kak Angel.


Apa bener Anna mau nikah?


Sama anak pengusaha kaya, ya?


Tega Anna ninggalin Rafa?


Honey, pliiis… batalin pernikahan itu?


Kenapa Anna begitu cepat ambil keputusan?


Apa Anna udah lupa kenangan indah kita berdua?


Rafa sayang banget sama Anna.


Jangan tinggalin Rafa, sayang.


Kita bisa mulai semuanya dari awal.


Maafin Rafa kalau Rafa salah


Apa yg terjadi antara Rafa dan Joli itu gk seburuk yg Anna lihat.


Rafa bisa jelasin semuanya, Joli yg mulai ngerayu dan ngasih Rafa minuman.


Rafa dijebak.


Rafa cuma sayang sama Anna.


Honey, balas dong.


Gk ada yg bisa gantiin Anna di hati Rafa


Dijebak endasmu! Trus yang gue liat boncengan berduaan sama Joli pas hari libur itu siapa? Dedemit? Anna membatin geram. Namun kemudian ia tersenyum girang.


***


Aula kantor dipenuhi manusia berpakaian rapi, yang pria mengenakan jas dan yang wanita mengenakan gaun indah. Tak lain para staf penting di kantor tempat Alan bekerja. Mereka tampak sedang mengobrol santai. Hari ini, mereka bekerja hanya setengah hari saja karena setelahnya mereka akan menuju ke hotel tempat diadakannya party perusahaan.


Pandangan Alan mengedar ke seisi aula. Semuanya berpasangan. Lalu bagimana dengan dirinya?


Alan menyambar gelas dan mengisi air mineral dari dispenser lalu meneguknya gusar.


“Alan, kita semua sebentar lagi mau meluncur bersama-sama dari kantor langsung ke lokasi party. Trus lo gimana?” tanya Reno seraya menyenggol lengan Alan.


Alan menaikkan alis. Apa maksud pertanyaan Reno? Tentu saja ia juga akan langsung pergi ke lokasi party. Lantas?


“Kalo gue sih bakalan ngegandeng Lola, staf baru itu. Pacar gue lagi ke luar kota, terpaksa nyomot cewek laen buat sekedar di pesta doang biar kesannya nggak jomblo. Lo sendiri?”


“Gue juga mau pergi ke sana.”


“Sendirian?”


Pertanyaan konyol. Lalu siapa yang akan Alan bawa? Dia seorang CEO, mana mungkin akan sembarangan nyomot cewek seperti yang Reno lakukan. Lebih mustahil jika ia membawa Anna, gadis SMA yang tentunya sekarang masih berkutat dengan buku pelajaran. Jaga image.


“Sendirian bukan aib bukan?” ucap Alan setelah beberapa detik berpikir.


“Semua orang tau kalo sebentar lagi lo bakalan nikah, lo punya calon istri. Masak sih lo nggak bawa calon istri lo di acara sepenting ini?”


“Lo tau sendiri siapa calon gue bukan?”


“Iya gue tau calon lo itu masih sekolah. Meski lo gandeng dia di acara ini, bukan berarti lo mesti kasih tau status calon lo itu ke semua orang, kan?” bisik Reno supaya suaranya tidak terdengar siapapun kecuali Alan.


“Pak Alan, Anda akan membawa calon istri Anda bukan?”


“Oh... senang sekali, sebentar lagi kami akan berkenlan dengan calon istri Bapak.”


“Sepertinya ini akan menjadi pesta cinta buatmu, Alan!” sahut lelaki tengah baya yang tak lain teman dekat William.


Alan tersenyum paksa kemudian meninggalkan aula.


***


TBC