
Alan melenggang memasuki sebuah rumah. Tak lain rumah Reno. Beberapa menit setelah ia mengantar Anna ke kampus, ia mendapat chat dari Reno.
Ke rumah gue, bro.
Ada kejutan
Alan mengingat chat yang dikirim Reno dan ia segera meluncur ke rumah sahabatnya itu. Alan langsung masuk. Ruangan depan sepi dan berantakan, tidak ada siapa-siapa. Botol-botol bekas minuman yang sudah kosong berserakan di meja. Alan langsung menerobos masuk ke kamar Reno.
Benar dugaannya, Reno ada di kamar. Reno tidak sendirian, ada sosok pria menemaninya. Entah siapa orang yang duduk membelakanginya itu. Mereka duduk di atas ranjang sambil mengobrol dan tertawa lepas.
Alan menarik kursi dan mendekatkannya ke sisi ranjang, lalu duduk di sana.
“Hei... Adik gue udah dateng.” Reno menepuk pelan lengan Alan. “Liat nih siapa yang ada di depan gue.” Reno menunjuk lelaki yang usianya satu tahun lebih tua dari Alan. Tak lain Colin.
Alan terbelalak kaget, sudah sekian lama ia tidak bertemu dengan Colin dan sekarang sahabatnya itu ada di depan matanya. Dulu, mereka sering tidur bersama ketika duduk di bangku kuliah. Setelah lulus kuliah, mereka dipisahkan oleh jarak.
“Ya Tuhan, mimpi apa gue semalem?” Alan memeluk Colin erat-erat. Dibalas dengan pelukan tak kalah erat dari Colin.
Cukup lama mereka berpelukan melepas rindu. Bahkan setelah melepas pelukan, Alan kembali memeluk Colin untuk kedua kalinya. Reno tersenyum lebar menatap kehangatan di depan matanya itu.
“Kapan lo dateng? Kenapa nggak ngabarin? Kan gue bisa jemput di bandara?” Alan melepas pelukan.
“Sengaja, buat kejutan,” jawab Colin. “Gue mah nggak seberapa kaget ketemu lo, Lan. Tadi malem kita juga udah ketemu, kok. Gue udah peluk lo lagi.”
Alan mengernyitkan dahi tidak mengerti. Dan ia menangkap maksud ucapan Colin setelah Colin menceritakan kejadian tadi malam.
“Tadi malem gue yang nagnterin lo pulang dalam keadaan mabuk. Alan, jangan ikuti gaya hidup Kombet yang amburadul. Kombet itu susah dibilangin, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Capek ngomong doang,” ucap Colin. “Kalo lo ada masalah, bawa tahajud aja.”
Alan tersenyum. Inilah yang dirindukan dari sosok Colin, suka menasihati, menceramahi dan menyejukkannya dengan kata-kata bernuansa rohani. Ia benar-benar rindu dengan siraman rohani dari Colin.
“Jangan jelek-jelekin gue, dong. Entar gue juga tobat, kok. Gue jauhin deh itu yang namanya minuman beralkohol.” Reno protes.
“Kita nggak tau kapan maut menjemput. Kalau belum sempet tobat dan Tuhan udah nyabut nyawa kita, gimana?”
“Capek ngasih tau lo, Mbet.” Colin membaringkan tubuhnya ke ranjang. “Mungkin tunggu hidayah turun, baru lo nyadar. Itu pun kalo hidayahnya bersedia dateng. Kalo enggak, gelap deh itu hati lo. Hidayah itu nggak bakalan dateng kalo nggak dijemput, Mbet.”
“Colin kalo ngomong serem banget, deh. Masak nyumpahin hati gue jadi gelap.” Reno menendang-nendang kaki Colin.
“Yang dikatakan Colin nggak salah, kok. Lo juga pacaran sukanya sama cewek yang aneh-aneh. Seksi dan hot.” Alan kemudian tertawa setelah mengucapkan kalimat itu.
“Itu mah gue nggak bisa ngelak. Normal gue. Namanya juga bawaan lahir. Suka gereget sama yang mulus.”
“Parah lo!” Alan menoyong kepala Reno.
“O ya Alan, ada satu hal lagi yang belum lo tau dan ini bakalan jadi berita baik buat lo,” tukas Colin.
“Apa?”
“Kita bakal sodaraan.”
“Hm?” Alan masih belum mengerti. “Jangan bikin gue penasaran. Lo nggak macarin adik gue, kan?”
“Sembarangan. Enggaklah. Kakak ipar lo yang namanya Angel bakalan nikah sama gue. Nggak lama lagi gue ngelamar dia.”
“Serius?” Alan girang.
“Yo’i. Jadi selama ini cewek yang sering lo ceritain itu Angel?”
Colin mengangguk mantap.
“Buset, hubungan kita yang sedekat ini akan semakin dekat dan bahkan menguat dengan ikatan yang lebih menjamin. Gimana kalo kita double date?” celetuk Alan yang dijawab dengan kedipan sebelah mata oleh Colin.
***
TBC