Holy Marriage

Holy Marriage
Di Kamar



Harus kelihatan romantis di hadapan banyak tamu. Tuntutan itu muncul dengan sendirinya di hati Anna. Ia tidak mau mengecewakan Wiliam yang telah mengorbankan banyak uang demi pesta semeriah itu. Tentu ia harus tampil bahagia di mata semua orang. Alan sudah sah menjadi suaminya sejak akad sakral sehari yang lalu, tidak salah jika ia memperagakan kemesraan seperlunya. Yang penting tidak kebablasan.


Sesungguhnya dalam hati, Anna bertanya-tanya, kenapa Alan sejak tadi melakukan gerakan dansa yang begitu romantis? Apa Alan sengaja mencari kesempatan? Atau memang begitu gaya dansa orang-orang elit? Entahlah, Anna mengikuti saja. Ia tidak mau banyak tanya. Alan yang berdiri rapat dengannya itu terasa sangat asing dalam dirinya. Ia sama sekali belum mengenal sifat Alan. Jadi lebih baik diam.


“Tanganmu bisa agak longgaran dikit nggak? Aku susah gerak ini, jarak kita terlalu deket,” bisik Anna di telinga Alan. Kini mulutnya bisa seajajar dengan telinga Alan mengingat ia mengenakan sendal high heel sangat tinggi. Tanpa heel, tentu ia mesti berbisik sambil mendongak demi menangkap wajah Alan yang jauh lebih tinggi darinya.


Alan menuruti, memperlonggar pegangannya di pinggang Anna hingga kini Anna menjauhkan badannya dari badan Alan.


“Nah, gini kan enak.” Anna lega.


Alan diam saja. Tatapannya tampak mengedar ke mana-mana. Ia tidak fokus ke wajah Anna. Entah apa yang dipikirkan Alan.


“Aduuw!” Anna memekik ketika jempol kakinya terinjak sepatu Alan. Spontan tangannya yang ada di pundak Alan mencubit cukup kuat, membuat Alan mengernyitkan dahi menahan cubitan. Untung saja teriakan Anna tidak terlalu keras dan suaranya tersamarkan dengan keramaian di sekitar. Hanya dua pasang anak muda yang sedang berdansa di sebelah mereka yang mendengar jeritan Anna.


“Anna, kok, udah jerit aja? Jeritnya nanti di kamar, dong,” tukas seorang lelaki yang berdansa dengan pasangannya di sebelah Anna, membuat kekasihnya memberikan cubitan mesra di pinggangnya.


Anna dan Alan saling pandang.


“Pengantin baru emang suka dibuli,” ucap Alan santai.


“Sepatumu nginjek kakiku. Sakit tauk!” celetuk Anna dengan ekspresi kesal.


“Sori, nggak sengaja.”


“Makanya jangan ngeliatin kemana-mana, salah-salah entar hidungku yang kamu injek.”


Alan menanggapi kekesalan Anna tanpa ekspresi.


Alan menggeleng.


“Kenapa?”


“Males.”


Jawaban singkat yang membuat Anna menelan geram.


“Tapi kamu wajib baca, jadi aku nggak capek ngasih tau apa-apa aja yang nggak boleh dan harus kamu lakukan,” ucap Anna dengan gigi gemeletukan. Ketidakperdulian Alan membuatnya benar-benar gondok. “Emangnya kamu nggak mau tau isinya apa? Kamu nggak boleh melanggar, loh.”


“Kamu nulisnya kebanyakan, aku nggak suka baca.”


“Apa susahnya sih baca doang?” Anna menatap heran.


“Tulisanmu jelek, Anna.”


Anna terdiam mendengar kata-kata barusan. Menurut kaca mata Anna Stela, tulisan paling indah di kelasnya adalah miliknya. Lalu kenapa Alan mengatakan tulisannya jelek? Alan keterlaluan!


***


Anna mengedarkan pandangan ke seisi kamar luas nan elit. Menakjubkan, warna lantai dan kusennya senada, merah bata, dipadu korden warna gold, elegan. Kulit Anna meremang merasakan sapuan sejuk angin yang keluar dari AC. Gadis itu berjalan mengelilingi kamar dan melihat-lihat sisi dinding, sofa serta menyentuh korden yang menjuntai indah. Pakaian bawahnya yang panjang terseret-seret menyapu lantai. Ia masih mengenakan gaun pengantin.


Tbc