
“Anna, kumohon hentikan sandiwara pernikahanmu dengan Alan. Aku lelah dengan semua ini. Aku dan Alan saling mencintai tapi kami kesulitan meluangkan waktu karena antara aku dan Alan ada kamu. Alan harus membagi waktunya demi meraih kepercayaan orang tuanya. Kurasa apa yang kami miliki udah cukup, sudahilah hubunganmu dengan Alan. Alan belum bisa menceraikanmu karena dia nggak tahu harus bicara apa pada kedua orang tuanya setelah menalakmu, maka inilah saatnya kau tunjukkan perananmu. Kamu aja yang menuntut cerai, maka selesai semua masalah. Alan nggak perlu terbebani alasan apa yang membuat kalian harus berpisah.”
Anna terpaku.
“Bukankah perpisahan ini yang kamu inginkan bukan? Kamu ingin bebas dari Alan, bukan? Inilah saatnya kamu lepas dari pria yang nggak mencintaimu. Biarkan kami yang saling mencintai ini hidup leluasa.”
“Cintya, jangan bebankan masalah ini pada Anna. Jangan jadikan dia kambing hitam untuk dipandang bersalah di mata keluargaku. Walau bagaimanapun, aku yang seharusnya mengajukan keputusan itu, bukan Anna.” Alan memohon.
Anna menatap Alan. Keduanya bersitatap sepersekian detik.
“Anna, plis! Nggak ada lagi yang perlu dipertahankan dari dua orang yang nggak saling cinta bukan?” Cintya menggenggam tangan Anna.
“Iya, aku akan putuskan. Beri aku waktu beberapa hari.” Anna terenyuh menatap tangisan Cintya. Wanita itu meneteskan air mata memohon keadilan, memohon kesungguhan Anna akan pembuktian ucapan yang pernah Anna ungkapkan.
Kenapa sesulit ini jalan yang harus Anna tempuh? Anna menyesal sudah membuat kesalahan besar, mengawali rumah tangga dengan menulis kesepakatan konyol yang akhirnya justru memaksanya harus mengikuti aturan yang menyiksanya sendiri.
Cintya menubruk Anna dan memeluknya erat. “Terima kasih, Anna.”
Alan terpaku menatap Anna, yang sampai detik ini seperti tak sudi menatap dirinya.
Cintya kemudian pergi setelah mengusap air mata dan member senyum sangat manis kepada Anna. Begitu besar harapan Cintya untuk Alan yang ia titipkan melalui pundak Anna.
“Anna!” panggil Alan ketika mobil Cintya sudah berlalu pergi dari halaman rumah.
Anna tidak mau menatap Alan.
“Seperti dalam perjanjian kita. Juga seperti yang kamu harapkan, menikahiku, dan kemudian melepasku setelah semua yang kamu inginkan telah tercapai. Kamu dan Cintya udah bersatu, kalian juga udah dapetin banyak uang dari Papa William. Lalu apa lagi? Kalau kamu kesulitan mencari alasan di hadapan kedua orang tuamu, biar aku yang bicara.”
“Anna, aku nggak mau membuatmu kelihatan buruk di mata keluargaku. Kamu udah banyak membantuku, kamu masuk di keluargaku dengan baik-baik, mana mungkin kubiarkan kamu pergi meninggalkan nama yang buruk dengan memintaku bercerai tanpa alasan yang jelas.”
“Kamu udah memberiku rumah, kuanggap cukup sebagai imbalan untukku.”
“Tapi tujuanmu menikah denganku bukan untuk itu, Anna. Rasanya nggak adil.”
“Bukankah itu yang kamu harapkan?”
Alan diam.
Anna kecewa melihat Alan yang hanya diam. Artinya memang Alan mengharapkan perceraian itu. Hanya karena tak enak hati, Alan berbelit-belit menahan dirinya.
“Jangan cegah aku. Kamu nggak mencintaiku, kan?” lanjut Anna.
Alan terkesiap mendengar pertanyaan itu. Dan ia hanya bisa menatap Anna tanpa sepatah kata yang terucap dari bibirnya.
Anna semakin kecewa, diamnya Alan menunjukkan kalau pria itu memang tidak mencintainya. Benar apa kata Cintya, alasan apa yang membuat Anna bertahan seatap dengan Alan sementara ia hidup tanpa cinta. Tahukah Alan, sesungguhnya hati Anna kini telah terpaut pada Alan? Perlukah ia mengungkapkan perasaannya pada pria yang jelas-jelas mencintai wanita lain? Andai saja Alan mengetahui isi hatinya, akankah semua berubah?
TBC