
Seharian, Anna menghabiskan waktu bermain dengan Azzam. Setelah tadi pagi Azzam bermain air di kolam mini yang mesti dipompa terlebih dahulu, sekarang sudah waktunya Anna menidurkan Azzam. Anna meletakkan tubuh bocah itu ke kasurnya, sayangnya Azzam beranjak bangun setiap kali Anna merebahkan tubuh si kecil.
Azzam sibuk ingin turun dari ranjang, dia terus menuju ke tepi ranjang dan turun ke lantai. Sengaja Anna menidurkan Azzam di kasur yang teronggok di lantai tanpa ranjang, dia takut Azzam menggelinding jatuh ke lantai jika ditidurkan di atas. Sebab Azzam tidak senyenyak malam saat tidur siang.
Arni menunggui di sisi kasur. Anna masih berbaring menatap Azzam yang sibuk menyerakkan mainannya dari keranjang. Mata Anna memang tertuju ke arah Azzam, namun pikirannya melayang entah kemana. Ini adalah hari ke dua setelah Alan meninggalkan rumah dan mengaku tidak akan pulang selama seminggu. Entah apa yang dikerjakan oleh Alan. Pria itu tidak bilang mengenai kesibukannya. Entah dia pergi ke luar negeri, atau ke luar kota atau apa pun itu. Yang jelas Alan tidak pulang, itu saja yang Anna tahu.
Azzam mengambil raket mainan lalu membawanya mendekati Anna.
Plak!
Raket dilayangkan dan dipukulkan ke wajah Anna.
“Astaghfirullah…” Anna mengelus pipinya yang mendadak memerah.
Arni malah terkekeh.
“Azzam! Jangan nakal, dong!” Anna menatap Azzam gemas. Yang ditatap malah tertawa lebar memamerkan gigi putihnya.
Kemudian untuk kedua kalinya Azzam melayangkan raket. Beberapa kali raket mengenai tubuh Anna. Anna berusaha menghindari raket yang ditujukan ke arahnya.
“Azzam, jangan, sayang!” seru Anna.
Azzam malah tertawa seakan-akan menyukai sesuatu yang dia anggap sebagai permainan, tanpa tahu mamanya menderita akibat pukulannya. Meski tangan Azzam kecil, tapi pukulannya lumayan.
“Ups!” Anna menangkis raket yang melayang ke arahnya. “Nggak kena!” ledeknya.
Azzam pun tertawa sambil mengerahkan tenaga sekuat mungkin untuk menarik raket dari tangan Anna. Namun tenaganya kalah kuat hingga raket tidak juga lepas dari pegangan Anna. Seketika bocah itu beretriak sekeras-kerasnya, menjerit meminta supaya Anna melepaskan raket tersebut.
“Hmm… Ini nih yang namanya Azzam, maunya menang terus.” Anna tersenyum gemas menatap anaknya yang menjerit dan mengamuk sambil menarik-narik raketnya.
Terpaksa Anna melepaskan raket tersebut.
Sontak tawa Azzam kembali melebar. Hidungnya yang mancung pun berkerut akibat tawanya itu, matanya menyipit. Kemudian dia kembali melayangkan raket ke tubuh Anna sambil mengoceh, “Bababanana mataamaa…”
Anna menghindari layangan raket dengan bangkit berdiri.
“Baik!” jawab Arni.
Tiba-tiba Azzam menangis saat melihat Anna melangkah pergi menuju pintu. Bocah itu melempar raket di tangannya ke sembarang arah sambil mengejar Anna menuju pintu. Anna menoleh dan lagi-lagi tersenyum melihat Azzam menghambur memeluk kakinya. Bocah gemuk itu menggelayut dan merangkul erat kaki Anna seperti tidak ingin ditinggalkan.
“Tuh kan, Azzam maunya mama nemenin Azzam, kan?” Anna melepaskan lingkaran lengan kecil Azzam lalu jongkok dan menatap wajah putra tampannya itu. “makanya Azzam jangan nakal sama mama.” Anna menyentil ujung hidung mancung putranya dan ditanggapi dnegan tawa renyah dari Azzam.
Azzam mengalungkan kedua lengannya ke leher Anna dan kakinya berjinjit-jinjit minta digendong.
“kalau Azzam maunya mama deket-deket sama Azzam, Azzam nggak boleh pukulin mama dengan menggunakan raket, ya!” Anna menunjuk raket yang teronggok di lantai.
Arah pandang Azzam tertuju ke telunjuk Anna, kemudian dia mengangguk.
“Anak pintar!” Anna mengusap singkat pucuk kepala Azzam.
Kemudian Azzam menjingkrak girang sambil tertawa. Anna merengkuh tubuh Azzam dan menggendongnya menuju ke kasur.
Dia rebahkan tubuh putranya ke kasur lalu menidurkannya. Sepertinya Azzam sudah lelah bermain sehingga tidak butuh waktu lama untuk Azzam tertidur.
Mata Azzam sudah terpejam erat dan mulutnya terbuka, menandakan si kecil sudah pulas.
“Arni, jagain Azzam, ya! Kamu ikutan istirahat aja di sisi Azzam!” titah Anna sambil menyusun bantal guling ke sisi kanan dan kiri tubuh Azzam.
Arni mengangguk patuh.
BERSAMBUNG
.
.
.