Holy Marriage

Holy Marriage
Kesepakatan Pra Nikah



“Sebelum pernikahan ini terjadi, kita mesti adakan kesepakatan terlebih dahulu. Hitam di atas putih.”


Alan kembali menaikkan alis tidak mengerti dengan ucapan Anna.


“Kita menikah atas perjodohan, bukan karena cinta.” Anna memberanikan diri meski dengan suara gemetar. “Tulislah apa aja kewajiban dan larangan yang harus kulakukan. Aku janji akan mengikuti semua kemauanmu. Dan aku juga akan menulis hal yang sama. Kamu nggak boleh mengingkarinya. Kita harus sama-sama taat pada kesepakatan yang kita buat.” Anna mengernyitkan dahi agak was-was, takut Alan akan menyemburnya setelah ini. Walau bagaimanapun ia sama sekali belum mengenal sosok Alan, ia tidak mau terjebak dalam pernikahan dengan pria asing itu. Harus ada kesepakatan sebelum semuanya terlanjur.


“Silahkan!” Alan tampak tenang menghadapi Anna. “Tulislah seberapa banyak perintah, permintaan dan laranganmu untukku sebanyak yang kamu mau. Aku juga akan menulis persyaratan yang wajib kamu patuhi.”


Anna mengeluarkan kertas HVS dan pena dari dalam tasnya. Semua sudah ia siapkan. Ia menyerahkan sebagian kertas kepada Alan. Kemudian ia mulai menulis apa-apa saja yang tidak boleh dan harus dilakukan Alan hingga menghabiskan berlembar-lembar kertas. Sesekali Anna berhenti menulis untuk berpikir. Tidak boleh ada satu pun larangan yang terlewatkan. Bagaimana pun Anna cemas jika suatu saat suaminya akan memukulnya atau melakukan tindakan lain yang tidak menyenangkan. KDRT di dalam rumah tangga sering kali menghiasi layar kaca, dan Anna tidak ingin itu terjadi pada kehidupannya. Ada banyak larangan yang Anna tulis, suami dilarang memukul istri, suami dilarang menghardik istri, suami wajib berkata lembut pada istri, dan masih banyak lagi lainnya.


Mungkin Alan membutuhkan waktu lama untuk membaca dan mempelajarinya. Jari-jari Anna bahkan sampai keram menulis serentetan kalimat yang memenuhi lembaran-lembaran kertas HVS.


Sedangkan Alan tidak menulis. Pria itu menunggu Anna selesai menulis. Terlalu lama menunggu, ia pun fokus ke ponsel dan menggeser-geser layarnya dengan jempol.


“Selesai.” Anna menandatangani kesepakatan yang ia tulis di atas materai dan menyerahkannya kepada Alan. “Baca aja dulu biar kamu paham.”


Tanpa sekilaspun melihat tulisan rapi yang sudah Anna catat hingga berjumlah 57 poin, Alan langsung membubuhkan tanda tangan di kertas itu.


“Udah, dong! Plis, berenti main hape-nya!” rengek Anna melihat Alan yang kembali sibuk dengan ponselnya.


Alan mengalihkan pandangan dari ponsel dan menatap Anna tanpa sepatah kata.


“Kertasmu mana? Bawa sini biar aku tanda tangani!” Anna menyodorkan telapak tangannya ke arah Alan.


Alan menunjukkan kertasnya. Anna bingung melihat kertas milik Alan kosong, tidak ada tulisan apapun yang tertera di sana.


“Aku nggak butuh kertas ini.” Alan meremas kertas miliknya dan membuangnya ke tong sampah. “Aku akan menulis persyaratanku di kertasmu aja.” Alan mengambil pena dan menulis kalimat di atas kertas milik Anna yang masih kosong, tepatnya beberapa centi di bawah nomer paling akhir, Alan hanya menulis satu baris saja.


Sontak Anna tercengang membaca satu baris kalimat tersebut. ISTRI DILARANG MEMINTA CERAI.


TBC