Holy Marriage

Holy Marriage
Aksi



“Kepercayaanku akan cinta udah punah. Dan nggak akan ada pria yang mencintaiku dengan tulus,” lirih Cintya.


“Ada. Pasti ada, hanya tinggal lo aja yang mesti buka hati dan lebih peka pada orang-orang di sekeliling lo,” tutur Reno.


“Pasti hanya orang-orang seperti Alan yang bakalan mendekatiku. Mereka akan memanfaatkan kecantikanku, memperalatku, dan kemudian mencampakkanku saat apa yang mereka inginkan udah didapatkan.”


“Sedikit aja lo buka mata hati lo, lo akan lihat masih ada orang yang mencintai lo tulus.”


“Setelah mengenal Alan, kepercayaan gue ke cowok udah terkikis habis. Laki-laki itu brengsek. Mereka hanya ingin manfaatin wanita doang. Memangnya siapa yang bisa mencintai gue dengan tulus?”


“Gue.”


Sontak Cintya menatap Reno dengan pandangan gusar. Entah kenapa isakannya terhenti, bola matanya menatap pria yang berdiri di hadapannya.


“Entah sejak kapan gue punya perasaan ke lo, tapi yang jelas gue sangat sayang sama lo. Segala perhatian dan pengorbanan yang tulus gue serahkan ke lo, sama sekali nggak keliatan di mata lo, mungkin mata hati lo udah tertutup oleh kharisma yang Alan miliki. Mungkin nggak Cuma sekali gue kasih kode supaya lo ninggalin Alan, bukan karena gue ingin ngerusak hubungan lo sama dia, tapi karena gue sayang sama lo. Gue nggak tega lo dipermainkan Alan. Gue nggak rela orang yang gue sayang diperalat oleh sahabat gue sendiri.”


Cintya masih diam menatap Reno.


“Alan adalah sahabat gue, nggak mudah buat gue ngebongkar niatnya ke lo. Gue hanya bisa kasih tau lo melalui banyak isyarat, tapi kenyataannya lo lebih percaya Alan dari pada gue. Kalau lo Tanya siapa pria yang tulus mencintai lo, maka itu adalah gue.” Reno maju selangkah, lengannya menjulur dan membawa Cintya ke dalam pelukannya. Gadis itu kembali terisak dalam pelukan Reno.


Anna beringsut mundur, lalu balik badan, berjalan menelusuri koridor menuju kamar Alan. Ia terkejut melihat Alan sudah tidak ada di tempatnya. Kemana Alan?


***


Rafa sedang mengendarai motor di jalan sepi. Kakinya mendadak menginjak rem saat tiba-tiba sebuah mobil menghadang di depannya dengan posisi melintang.


Rafa membuka helm dan menatap tiga orang lelaki berpakaian hitam-hitam turun dari mobil. Perawakan tubuh mereka yang gagah dan tinggi membuat Rafa agak gentar, apalagi mereka menatap Rafa dengan sangar.


Bugh


Bugh


Bugh.


Tanpa bicara sepatah katapun, tiga lelaki bertubuh sanggam itu memukuli badan Rafa setelah menyeret tubuh Rafa dari atas motor dengan mencengkeram erat kerah kemejanya. Otomatis motor Rafa tumbang karena belum sempat distandarkan.


Rafa tidak bisa melawan. Dengan bertubi-tubi, tiga lelaki itu meninju dan memukul tubuh Rafa tanpa ampun. Menghantam wajah Rafa dengan kepalan tangan. Menjotos perut Rafa sekuat tenaga, juga menendang paha Rafa.


Bruk.


Tubuh Rafa ambruk dan jatuh ke aspal. Ia meringkuk membentuk seperti busur panah seraya merintih kesakitan. Dari kedua sudut bibirnya mengeluarkan darah. Wajahnya lebam-lebam.


Alan duduk diam di dalam mobil. Lalu menoleh saat Rafa sudah tidak berdaya. Ia turun dari mobil dan jongkok menghampiri Rafa. Telunjuknya memegang dagu Rafa dan mengangkatnya hingga pandangan Rafa bertemu dengan Alan.


“Bersihin nama gue!” ucap Alan.


“Ape maksud lo?” suara Rafa terbata menahan rasa sakit.


“Jangan paksa gue memerintah dua kali.”


“Gue nggak ngerti, jelasin dulu maksud lo apa?”


TBC