Holy Marriage

Holy Marriage
Cuek s2



Pintu kamar mandi terbuka dan manik mata Anna tertuju ke arah Alan yang berjalan mendekati ranjang. Pria itu duduk di sisi Anna, diam saja. Seakan-akan tadi tidak terjadi apa pun. Apakah Alan tidak tahu kalau Anna kesal sekali atas sikap alan yang mendadak berubah?


Anna melirik Alan yang duduk di sisinya. Pria itu menguap kemudian merebahkan tubuh ke kasur. Anna semakin gedeg, kenapa Alan bersikap seakan-akan tidak berdosa saja?


“Kamu nggak ingat ya janji kita dulu?” Tanya Anna dengan wajah ditekuk akibat rasa kecewa yang mendalam.


“Apa?” Alan memejamkan mata.


Ya ampun, diajak ngobrol, Alan malah merem. Nyebelin iih…


“Kita udah sepakat untuk saling terbuka dan nggak ada hal kecil pun yang disembunyiin,” ucap Anna dengan raut kesal.


“He’em.”


He’em doang?


“Kita nggak boleh merahasiakan apapun pada pasangan,” lanjut Anna.


“Lalu?”


“Trus kertas yang tadi itu apa? Kenapa kamu sembunyiin dari aku?”


“Sudah malam, tidurlah!” Alan membalikkan badan hingga kini posisinya menelungkup.


“Mas Alan! Aku kan lagi ngomong.”


Alan diam saja.


“Mas Alan, aku minta penjelasanmu. Kertas tadi itu apa? Kenapa mesti kamu sembunyiin dari aku? Aku berhak tau.”


“Anna! Aku capek, jangan bahas hal-hal nggak penting!” gertak Alan sambil bangkit bangun. Pria itu melenggang keluar kamar.


Anna tertegun menatap kepergian Alan. Ia membanting tubuh ke kasur dengan wajah cemberut.


Sementara Alan melangkah menuju ke lantai bawah. Ia ke ruang makan, mengambil sebotol minuman dingin dari kulkas dan duduk di kursi sembari meneguk minuman tersebut. Beberapa menit ia menghabiskan minuman lalu ia meninggalkan meja makan.


Alan menelusup memasuki selimut lalu memeluk Anna dari belakang. Tak ada respon dari Anna meski Alan menciumi kepala Anna yang tidak berhijab. Alan yakin Anna belum tidur. Mana mungkin Anna tertidur secepat itu. Anna masih tetap diam saat kecupan Alan mulai merayap kemana-mana.


Alan menyesal telah membentak Anna, mungkin dengan cara mencumbu, kemarahan istrinya akan meluntur.


“Anna!” bisik Alan di telinga Anna.


Wanita itu tidak bergerak.


“Sayang, beri aku waktu sebentar sebelum tidur.” Alan menarik bahu Anna hingga membuat Anna menelentang, ia mendaratkan bibirnya ke bibir Anna dan terhenti ketika Anna mendorong dada Alan.


“Masih marah?” tanya Alan lembut.


Sebenarnya Anna tak kuasa menerima tatapan Alan yang penuh cinta. Terbukti dari sinar mata Alan yang dipenuhi gelora memabukkan. Ingin rasanya Anna membalas tatapan itu dengan ulasan senyum dan tatapan yang tak kalah memabukkan, tapi Anna tidak bisa membiarkan perubahan sikap Alan yang membuatnya sebel


“Jangan ganggu aku, Mas Alan.”


Alan menciumi wajah Anna, tanpa melewatkannya walau satu inchi. “Aku yakin kamu pasti tahu kalau wanita menolak suami maka malaikat akan mengutukinya sampai pagi.”


“Itu nggak berlaku untuk istri yang sedang datang bulan.”


Alan menjauhkan kepalanya. Entah benar atau tidak yang Anna katakan, tapi ia memilih mundur, dari pada dosa karena kebablasan. Alan akhirnya berbaring di sisi Anna, lengannya menyelusup masuk ke caruk leher Anna dan mendekapnya erat memaksa posisi Anna menjadi miring menghadap Alan, pepet maksimal.


“Maafin aku, Anna. Aku bener-bener lagi pusing. Jangan bahas masalah tadi lagi. Jangan curigai aku. Nggak ada masalah apapun.”


Bagaimana bisa Anna tidak membahas masalah itu? Ia masih penasaran tentang kertas yang dibumi hanguskan oleh Alan dengan cara menyiramnya pakai air lalu disobek-sobek.


“Apa ada wanita lain?”


“Pertanyaan apa itu? Aku mencintaimu udah sejak kamu masih remaja, apa mungkin akan ada wanita yang bisa membuatku jatuh cinta lagi? Nggak ada, Anna. Aku hanya mencintai kamu. Dan hanya kamu satu-satunya wanita di hidupku. Jangan ngambek, sayang.”. Suara Alan terdengar sangat lembut. Pria itu mendaratkan kecupan di kening Anna.


TBC


Siapa nih yang masih stay di sini. ini ceritanya beda loh dengan only anna, jadi semua berubah karena revisi..okay?