Holy Marriage

Holy Marriage
Pupus



Anna ingin menelepon Alan, jari lentiknya sudah menekan nama suaminya itu, namun urung ketika ponselnya menerima sebuah kiriman video dari nomer yang tak terdaftar. Tak lain nomer Cintya, Anna sengaja tidak menyimpan nomer itu. Rasanya sulit menyimpan nomer wanita lain yang dicintai suaminya.


Apa yang akan Cintya tunjukkan? Kenapa wanita itu harus mengiriminya video? Sudahkah Alan memutuskan hubungan dengan wanita itu? Anna tidak ingin membuka video tersebut karena takut akan mendengar atau bahkan melihat hal buruk tentang Alan yang mungkin saja justru menyakiti perasaannya, namun ia sadar tidak boleh menjadi pengecut. Kebenaran apapun harus dia saksikan.


Anna menekan tombol tengah. Jantungnya mulai tak nyaman saat melihat sesuatu yang ditunjukkan di dalam video tersebut. Anna membeku melihat Alan duduk di sofa, di atasnya ada Cintya dan keduanya sedang berciuman. Adegan itu sangat melukai hatinya. Ia menelungkupkan ponsel ke pangkuan, tak kuasa melihat kelanjutannya. Ia hanya bisa mendengarkan suaranya saja.


Tapi tunggu, Anna ingin memastikan itu video kapan? Bisa jadi video setahun silam, Anna tidak akan menghiraukannya jika memang itu adalah video masa lalu Alan. Alan mengakui sudah berbuat banyak hal dengan Cintya, dan dia berjanji akan memperbaiki semuanya. Lalu untuk apa Anna menangisi masa lalu Alan? Yang Anna butuhkan adalah masa depan Alan.


Anna kembali menatap ponsel dan melihat kelanjutan video untuk memastikan pakaian yang dikenakan Alan. Anna menangis melihat pria itu mengenakan kemeja cokelat yang Anna belikan di Bali, dan baru kali itu Alan mengenakannya. Anna ingat Alan mengenakan kemeja itu di sepanjang perjalanan dan sampai pria itu pergi mengaku akan menemui Cintya. Artinya video itu baru saja berlangsung. Secara tidak sengaja dan tanpa Anna inginkan, ia melihat kemeja Alan sudah terbuka semua kancingnya, sementara Cintya hanya mengenakan bra saja sesaat setelah tangan Alan melepas tali di pundak gadis itu.


“Cukup!” Anna melempar ponsel ke lantai hingga terdengar suara retak. Ia tidak ingin melihat video itu lagi. Hatinya terasa ngilu dan tidak sanggup merasakan sakit. Tangis Anna pecah. Bayang-bayang bibir Alan yang berada di leher Cintya terus mengisi kepalanya. Meski kedua telapak tangan Anna menutup wajahnya disela isakan, bayangan itu terus menghantuinya.


Berarti dugaanya salah, Alan masih main serong dengan wanita itu. Berarti selama ini Alan diam-diam berkencan dengan wanita itu disaat-saat yang Anna tidak ketahui. Bahkan mungkin Alan bercinta dengan gadis itu saat mengaku lembur kerja dan pulang dini hari. Atau mungkin Alan bersama Cintya saat mengaku ada kerjaan ke luar kota. Awas saja jika Alan datang nanti, semoga saja tidak ada benda tajam di sekitar sana yang bisa saja membuat hidung Alan cuil separuh.


“Anna!”


Anna menurunkan kedua tangannya lalu mengangkat wajah, menatap Alan yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapannya. Anna membiarkan air matanya terus mengalir.


“Kamu menangis? Ada apa?” Raut wajah Alan tampak cemas. “Apa yang terjadi denganmu, kenapa kamu diam saja?”


Sorot mata Anna tajam menghunus ke mata cokelat Alan.


“Anna, kenapa menatapku begitu? Bicaralah!”


Anna mengamati kemeja cokelat sama persis yang Alan kenakan di video yang baru saja ia tonton. Kemeja itu tidak lagi berantakan, kini terlihat rapi, ujungnya masuk ke dalam celana, berbeda jauh kondisinya dengan yang ada di video.


TBC