
“Habis ini kuanterin ke kampus! Ini udah waktunya kamu kuliah.” Alan sudah berdiri di hadapan Anna, rapi seperti biasanya.
Anna menyilangkan tangan di dada. Menatap Alan dalam diam. Ia ingat tadi malam Alan pulang sampai larut. Bahkan ketika Anna terjaga jam dua dini hari, ia tidak mendapati Alan di sisinya. Alan mengaku lembur, ada banyak pekerjaan. Tapi pikiran Anna menerawang entah kemana. Ia menebak Alan menemui Cintya, memberi waktu pada gadis itu, memberi kehangatan dan kemesraan sebagai bentuk tanggung jawab. Bahkan mungkin bukan sekedar tanggung jawab semata, melainkan menyalurkan rasa cinta. Ah, air mata Anna merembes deras dalam kesendiriannya.
Sebagai lelaki, mana mungkin Alan memahami derita yang Anna alami karena harus berbagi suami dengan wanita lain. Entah kapan Alan pulang, Anna tidak menyadarinya. Pria itu sudah terbaring di sisi Anna saat ia terjaga di pagi hari.
“Mas Alan, kapan poligami ini berakhir?”
“Anna, aku udah bilang, jangan lagi pikirkan itu. Aku akan selesaikan masalahku dengan Cintya, seperti yang kubilang padamu. Aku akan pisah dengannya.”
“O ya? Semudah itu? Bukannya dia wanita pujaanmu? Jangan hanya nenangin aku, sementara di belakangku, kamu terus menemuinya. Aku rela mundur kalau memang kalian tetap bersatu.”
“Anna, plis. Jangan bahas itu lagi.”
“Aku ingin kamu pertemukan aku dengan cintya. Kita bicarakan masalah ini bertiga. Kita ambil jalan terbaik, aku ingin kejelasan.”
Alan terdiam menatap Anna yang berambisi.
“Oke, kalau kamu nggak bisa atur jadwal, biar aku yang hubungi Cintya untuk membahas masalah kita bertiga.”
“Jangan hubungi Cintya. Biar aku yang hubungi dia untuk kita bahas masalah kita bersama-sama.”
Anna mengesah, namun kemudian mengangguk. Ia harus memberi waktu pada Alan, memberi kesempatan dan mempercayakan semuanya pada Alan.
“O ya, bentar lagi Kak Angel menikah dengan Kak Colin.” Anna membayangkan terbentuknya keluarga anatara Angel dan Colin yang ia yakini pasti akan bahagia karena keduanya sama-sama mendalami agama. Tentu akan saling menghargai dan menyayangi karena Allah.
“Aku harus banyak belajar dari Colin, dia mengerti banyak bagaimana caranya membentuk keluarga yang baik,” sahut Alan.
Mereka keluar kamar.
***
Koridor kampus tampak lengang. Hening yang tercipta. Suara keramaian hanya terdengar dari kejauhan, tak lain suara anak-anak yang terdengar kecil di kelas-kelas. Pemandangan yang berbeda, biasanya koridor selalu dipenuhi mahasiswa yang lalu-lalang.
Anna melenggang melintasi koridor setelah tadi sempat melambaikan tangan ke arah Alan yang mengantarnya ke kampus.
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah sepatu yang beradu dengan lantai di kejauhan. Bukan hanya sepasang sepatu, tapi banyak sepatu hingga menimbulkan suara berisik.
Anna menoleh ke sumber suara. Di ujung koridor tampak empat orang cowok yang masing-masing membawa ransel, menggeret seorang gadis dan menyudutkan cewek itu ke dinding hingga cewek itu tidak bisa berbuat apa-apa karena kini ia dikerubungi empat cowok yang siap menghadang langkahnya. Dengan wajah-wajah sangar, empat cowok itu bersahut-sahutan memaki si cewek. Salah seorang mengacak-acak rambut cewek itu.
“Babu lo!”
“Emang enak?”
“Jangan mewek. Jelek entar. Nggak mewek aja udah jelek.”
“Ya ampun guys, liat deh. Hidungnya kembang kempis.”
“Keren kok idung kempis-kempis gitu. Ulang lagi. Kembang kempisin idung lo!”
Tidak ada balasan dari si cewek. Terdengar suara isak tangis. Anna berjalan mendekati ke arah pembulian tersebut. Dan ia membelalakkan mata saat sekilas melihat wajah cewek itu dari celah antara badan para cowok yang mengelilinginya. Tak lain Joli. Anna setengah berlari mendekati dimana Joli kini meringkuk.
TBC