
Alan menarik tangan Anna hingga Anna kembali terduduk, memaksa kedua tangan istrinya itu melingkar di perutnya, hingga Anna dapat merasakan betapa gagah tubuh yang sedang ia peluk, ujung tangannya hampir tidak bersentuhan saat memeluk. Kemudian Alan mencium singkat pipi Anna yang berujung dengan omelan Anna.
“Ini di jalan, entar nabrak,” protes Anna karena ulah Alan yang mesti sampai harus menoleh demi bisa menciumnya.
Alan mengelus punggung tangan Anna. Mereka mampir di warung bakso. Belum pernah Alan menginjakkan kaki di sana. Dan kali ini, atas permintaan Anna yang menginginkan bakso raksasa, Alan pun akhirnya mengikuti kemauan istrinya duduk di meja kecil yang ruangannya juga tidak terlalu luas. Anna memilih meja paling sudut, supaya terkesan romantis.
Di ruangan sempit yang jelas jauh dari kata elit, Alan justru menemukan banyak sisi kehidupan yang selama ini ia tidak tahu.
“Mas, baksonya satu mangkuk, ya!” pinta Anna pada seorang pelayan yang menghampiri.
“Satu aja? Kita kan berdua,” protes Alan.
“Satu cukup buat berdua. Minumnya teh hangat dua ya, Mas.”
Pelayan mengangguk patuh dan berlalu pergi.
Alan sempat kaget saat melihat semangkuk bakso yang disuguhkan. Tidak salah jika pemilik warung menamainya bakso raksasa. Ukuran bakso benar-benar jumbo, menyamai ukuran kepala bayi baru lahir. Mangkuk tersebut hanya cukup diisi dengan satu bundar bakso, tanpa mie.
Anna memotong-motong bakso dengan sendok, menuangkan saus, kecap dan sambal ke mangkuk lalu mengaduknya. Kemudian ia menyucuk bakso yang sudah dipotong dengan garpu dan menyuapkannya ke mulut Alan sambil mangap dan mengucapkan huruf, “Aaa…”
Alan tersenyum lalu menyantap bakso yang disodorkan. Tak lupa, Anna juga menyuapi kuahnya untuk Alan. Ternyata selera Anna lumayan pedas. Menikmati makanan pedas ditambah ruangan tanpa Ac, membuat Alan merasa kepanasan hingga bulir-bulir keringat menetes-netes mengaliri pelipisnya. Kipas angin di atas tidak mampu membuat rasa gerah menghilang.
Sadar akan suaminya yang kepedasan, Anna pun meraih air mineral dan membantunya meneguk air tersebut. Anna juga mengelapi pelipis Alan yang berkeringat dengan tisu.
“Pengantin baru ya, Mas?” tanya pemilik warung sambil melirik dan tersenyum. Meski kedua tangannya sibuk mengurus bakso pesanan, namun matanya tidak luput dari kemesraan Anna dan Alan.
“Sebenernya udah bukan pengantin baru, Mas,” serobot Anna sebelum Alan menjawab. “Tapi keliatannya masih kayak pengantin baru, ya? Suami saya ini emang penyayang, makanya harmonis terus.”
Pemilik warung tersenyum lagi melihat Alan yang hanya bisa senyam-senyum mendengar istrinya berceloteh. Beberapa pengunjung, yang kebanyakan pasangan remaja, berkali-kali mencuri pandang ke arah Anna dan Alan, romantis bukan main.
Alan menyerahkan uang ratusan ribu kepada pemilik warung setelah selesai makan.
“Kembaliannya buat Bapak aja.”
Sontak pemilik warung menyambutnya dengan senyum lebar dan ucapan terima kasih.
Kemesraan antara dua sejoli itu belum berakhir, bahkan ketika meninggalkan warung, Alan merangkul bahu Anna dan membimbingnya sampai ke parkiran.
“Kasian Bapak tadi, jualan sampai malem. Pasti capek,” ujar Alan sembari membayangkan kesibukan pemilik warung yang tanpa jeda melayani pengunjung. Pemilik warung itu hanya mengandalkan dua pelayan.
Anna tersenyum menanggapinya. Sekarang Anna tahu kenapa Alan tidak mau mengambil uang kembalian. Suaminya itu ingin berbagi pada yang lebih membutuhkan.
***
TBC