
Ketika akhirnya pintu kamar mandi terbuka, Anna pun mengangkat wajah menatap Alan yang keluar dengan lilitan handuk di pinggang dan singlet. Alan sudah menanggalkan pakaiannya.
Pria itu kemudian merebahkan tubuhnya ke kasur.
Anna membelalak melihat suaminya yang malah terbaring. “Loh, Mas Alan, kita kan mau pergi. Kok, malah tiduran, sih?”
Alan menoleh ke arah Anna. “Jadi kamu tetap mengajakku pergi?”
“Loh, iya dong. Memangnya kenapa? Kok, seolah-olah batal tanpa alasan?” Anna mengernyit bingung.
“Pakaianku kan sudah dikotori oleh Azzam. Apakah aku harus memakai baju lagi dan berangkat sekarang?”
Pertanyaan konyol! Apakah hanya karena baju kotor lantas kepergian mereka akan menjadi batal? Kenapa Alan terlihat tidak bersemangat begitu saat diajak pergi? Tadi sore Alan berjanji akan menemani Anna makan malam dengan penuh semangat, tapi saat tiba waktunya, Alan tampak tidak bersemangat.
“Jika biasanya kebersamaan kita terkendala dengan pekerjaanmu, sekarang apakah kamu akan membatalkan tanpa ada alasan kesibukan kerja?” lirih Anna.
Alan menatap Anna dengan mata menyipit. Dia bahkan tidak bergerak dari tempat tidur.
“Aku nggak akan memaksamu, kok, Mas Alan. Kalau kamu memang nggak berminat untuk pergi, ya udah nggak apa-apa.” Anna bangkit berdiri membawa pakaian yang sudah dia siapkan dan meletakkannya kembali ke lemari.
Alan menghela nafas. Dia bangkit duduk lalu berkata, “Ya sudah, bawa kemari pakaianku!”
Anna menoleh, menatap Alan yang kini tampak menaikkan alis. Lalu dia membawa pakaian itu dan menyerahkannya kepada Alan.
“Baiklah, kita akan pergi.” Alan memakai pakaiannya. “Kemana Azzam?”
“Dia bersama Sita di bawah.”
“Bantu aku memakai celana!” titah Alan membuat Anna membelalak. Akhir-akhir ini Alan memang aneh, memakai celana pun minta dibantuin.
Anna menuruti perintah Alan. Dia menaikkan celana Alan. Sayangnya dia harus menyenggol sesuatu yang menonjol dan sedikit mengeras di dalam sana saat jemarinya memasukkan ujung kemeja ke dalam celana.
“Hei, kamu mengajakku keluar tapi kamu memancingku, bagaimana kalau aku minta jatah sekarang?” Tanya Alan dengan tatapan intens.
Anna mengalihkan perhatian supaya matanya tidak beradu pandang dengan Alan. Dia menunduk menatap tangannya yang sedang menaikkan resleting celana. “Aku nggak sengaja. Itu tadi murni kecelakaan.”
“Ya sudah, aku minta jatah nanti sewaktu pulang saja. Kamu makan yang banyak ya, sayang. Biar kuat!” bisik Alan.
“Kamu udah rapi. Yuk, kita berangkat!” ajak Anna sambil menatap penampilan Alan yang rapi.
Alan mengangguk. Dia melangkah keluar kamar diikuti oleh Anna.
“Lebih baik kamu bawa Baby sitter turut serta. Aku yakin Azzam akan sangat merepotkanmu nanti,” ucap Alan.
“Tapi kan ini acara keluarga, bagaimana bisa kita membawa orang lain? Aku maunya Cuma ada kamu, aku dan Azzam.”
“Kamu yakin Azzam tidak akan membuat kita repot saat makan nanti?” Alan menatap Anna dengan dahi mengernyit.
Mereka menuruni anak tangga.
“Inilah resiko punya anak. Masak kamu nggak mau repot?” jawab Anna.
“Kita kan punya baby sitter, apa salahnya dia yang mengurusi Azzam. Itu sudah menjadi pekerjaannya. Sudahlah, kamu bawa saja Sita ikut ke restoran. kalau kamu tidak mau membawa Sita ikut bersama kita, mungkin lebih baik Azzam tinggal di rumah saja.”
Anna menghentikan langkah dengan paras kecewa. Pilihan yang buruk, dan Anna tidak ingin memilih keduanya. Mereka sudah berada di lantai bawah sekarang.
Alan juga menghentikan langkah, lalu menoleh, menatap Anna yang mematung. Dia kemudian merengkuh pundak Anna dan berkata, “Ya sudah, bawalah Azzam bersama kita. Ajak saja baby sitter, biar baby sitternya nanti makan di meja lain sambil memantau Azzam. Dia wajib mendekat saat Azzam membuat ulah.”
Anna tidak bisa menjawab apa pun. Ya sudahlah terserah Alan saja dari pada acara makan malamnya batal.
“Arni, ayo ikut!” ajak Anna sambil melenggang keluar mengikuti Alan menuju mobil.
Arni menggendong Azzam sambil menenteng tas berisi perlengkapan milik Azzam.
BERSAMBUNG
.
.
.