
Sepulang dari Bali, Alan mengantar Anna pulang ke rumah Herlambang. Sialnya, Herlambang melarang Alan pulang. Terpaksa Alan menginap di rumah Anna. Masih seperti di hotel, Alan tidak tidur di ranjang karena ranjang sudah diklaim sebagai tempat tidur Anna. Di kamar Anna tidak ada sofa, sehingga Alan tidur di lantai dekat ranjang. Anna melapisi lantai dengan selimut tebal dan Alan pun tidur di atas selimut tersebut.
Begitu bangun pagi, Anna langsung bangkit menuju ke kamar Angel. Tidak ada yang ia lakukan kecuali curhat pada sang kakak.
“Alan baik nggak orangnya?” selidik Angel.
Anna yang sedang melihat-lihat majalah remaja, matanya langsung menerawang menatap kosong ke depan. Mengingat sikap Alan yang begitu perhatian terhadapnya. Lelaki tampan itu memanjakan Anna dengan uang yang seakan-akan tidak pernah habis. Alan kerap mengajak makan di restoran elit, rekreasi di tempat-tempat indah, juga memberi kebebasan penuh pada Anna untuk berbelanja sepuasnya. Terserah Anna mau beli apa saja.
Penawaran cuma-cuma itu dipergunakan Anna untuk memborong banyak perbelanjaan setiap kali bepergian dengan Alan. Meski begitu, Alan tidak mau memberikan kartu kredit ketika Anna memintanya. Menurut Alan, hal itu akan membuat Anna lupa diri. Sebab Alan mengenal Anna sebagai gadis yang masih labil. Bisa jadi, Anna akan menghabiskan banyak uang hanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Alan juga memperlakukan Anna seperti istri selayaknya. Lelaki itu sangat sopan, apa saja yang dilarang oleh Anna, ia pun mematuhinya. Semua permintaan Anna selalu dituruti. Satu lagi, sejauh ini, Alan tidak pernah marah meski sikapnya dan caranya bertutur tetap terkesan horor. Dan yang lucu, Alan kerap memperhatikan Anna setiap kali gadis itu mengganti pakaian di hadapannya. Anna merasa Alan adalah suami sahnya, tidak salah jika ia tidak berbusana di hadapan suaminya itu.
Semua yang dilakukan Alan cukup membuat Anna merasa betah. Selama tiga hari, Anna melayani Alan dengan baik, menyiapkan air hangat untuk Alan mandi setiap pagi, menyiapkan handuk dan semua perlengkapan Alan dengan sempurna, hampir semua kebutuhan Alan terpenuhi oleh pelayanan Anna.
Untuk urusan makan, mereka selalu makan di luar, menikmati berbagai menu masakan yang berbeda-beda.
Setiap malam, Anna dan Alan saling curhat dan bertukar pikiran. Lambat laun, sifat Alan yang aslinya tidak banyak ngomong pun jadi suka ngobrol berkat keahlian Anna dalam berkomunikasi.
“Hei!” seru Angel membuat lamunan Anna menghilang. “Ditanyain kok malah ngelamun?”
“Ciee… Asik, dong! Artinya Alan-nya udah jadi suami baik. Ttrus Anna udah jadi istri yang baik belom? Inget, mesti bersikap baik sama suami. Dikit aja kamu bikin suami kecewa, dosa, loh.” Angel membetulkan jilbabnya.
Anna mengangkat bahu. Tentu ia ingin menjadi istri yang baik buat Alan. Tepatnya tidak ingin dikejar dosa. Walau bagaimana pun Alan tetap suami sahnya. Selama Anna menyandang status istri Alan, ia punya kewajiban yang harus dipikul sebagai istri. Dan ia mengerti akan kewajiban tersebut. Ia tidak boleh membangkang, tetap harus patuh dan melayani suami dengan baik.
“Menurut Anna, Anna udah jadi istri yang baik, tapi nggak tau di mata Alan kayak gimana,” ucap Anna.
Angel menoleh menatap wajah adiknya, ia tersenyum. “Beruntung Anna dapet cowok kayak Alan. Baik, ganteng, tajir, nggak ada yang cacat dari dia. Berarti udah bisa move on dong dari Rafa, kan udah dapet pengganti yang jauh lebih sempurna?”
Tbc
Berhubung hari ini tepatnya tanggal 20 September adalah hari ulang tahunku, aku update banyak episode untuk kalian.
Ayoo.. ucapin Happy birth day dong buat aku.
tengkyuh buat yg rela ngeluangin waktu ngucapin selamat ultah.