
“Cukup ini kudengar yang terakhir kalinya, jangan ulangi lagi. Tolong, jauhi dia! Allah menolong orang yang menikah untuk menjaga kehormatannya. Kumohon, jagalah kehormatanmu untukku,” ucap Anna.
Alan merengkuh kepala Anna dan membenamkannya dalam pelukannya. “Aku pastikan semuanya akan berakhir. Sekali lagi kukatakan, percayalah padaku, aku nggak pernah melakukan hubungan suami istri pada Cintya. I love you, Anna.” Alan mengelus punggung istrinya.
Anna merasa sangat nyaman berada dalam pelukan itu. Dan kata-kata cinta yang terucap dari bibir Alan membuat rasa sakit dalam hati Anna memudar secara berangsur. Meski Anna tidak tahu apakah itu hanyalah sekedar omong kosong semata, namun yang jelas Anna merasa nyaman. Ya Tuhan, sampai detik itu bahkan Anna belum bisa mnegenali kepribadian suaminya sendiri.
Alan sangat mengerti bagaimana caranya melunakkan wanita. Ia menggendong Anna menuju kasur.
***
Anna tersenyum saat menggantungkan benda mungil ke dinding, hadiah dari Alan, tak lain kunci mobil. Janji yang Alan sampaikan sudah terwujud. Sejak pagi tadi, sudah dua kali Anna mencoba mengendarai mobil pemberian Alan, menyetirnya berkeliling kota bersama Alan. Tiada hari tanpa tertawa, sepertinya itu menjadi slogan yang pas untuk kehidupan Anna saat ini.
Anna berputar di depan cermin memperhatikan penampilannya. Sangat menarik mengenakan gamis merah bata dipadu jilbab warna senada. Pandangannya kini ke atas kursi, dimana tadi ia menaruh kemeja, dasi dan celana untuk Alan. pakaian yang ia sediakan di sana sudah tidak ada. Artinya Alan sudah mengenakannya. Ia melenggang keluar kamar setelah menyambar tas di meja.
“Mas Alan!” panggilnya sembari menuruni anak tangga. “Mas Alan!” ulangnya.
Tidak ada jawaban.
“Mas Alan, kamu dimana? Yuk, cepetan. Kita harus cepet nyampe ke rumah Ayah, jangan sampai telat. Acara ijab qobul Kak Angel bentar lagi dimulai. Kita mesti hadir di sana lebih awal.”
Hanya terdengar suara Rina dan Andra, supir yang sekaligus merangkap sebagai tukang kebun tengah berbincang saling bersahutan di ruangan belakang. Anna berjalan dengan langkah lebar menuju ke ruangan itu. Tampak Rina dan Andra yang sedang saling ejek.
“Itu muka apa tong sampah, ya? Udah jorok, bauk lagi. Banyak beleknya. Ngaca sana!” teriak Rina sambil menuding-nuding wajah Andra yang kala itu sedang berdiri di pintu sambil mengunyah kerupuk, seakan-akan sekarang dia yang menjadi majikan Rina dengan gayanya yang cuek memperhatikan Rina yang sedang mengelap meja makan.
“Gue mah tiap bangun pagi langsung mandi, nggak lupa gosok gigi. Habis itu ngeberesin tempat tidur,” celetuk Andra.
“Ye’eleh, udah kayak lagu anak aja, bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku. Basi!”
“Jangan merepet mulu, Rin. Bibir lo entar dower, memble. Lo tu sebenernya cantik kalo kalem.”
Muka Rina langsung memerah mendapat pujian dari musuh bebuyutannya. Apa tidak salah, Andra memujinya?
“Kalem alias kayak lembu,” pungkas Andra membuat rona merah jambu di wajah Rina berubah jadi merah bata. Andra melongo saat kain lap di tangan Rina berpindah ke mukanya hingga ia mencium aroma mengerikan.
“Udah, jangan berantem mulu. Entar kalian malah saling suka, loh.” Suara Anna menghentikan perdebatan Rina dan Andra. “Nama awalan udah couple-an. Sama-sama R. Nama asli Andra kan Rendra. Jangan-jangan kalian jodoh,” ledek Anna pada para asistennya.
TBC